Melawan Sunyi dan Membongkar Kepura-puraan: Jurnalis Kristen di Tengah Oligarki, Budaya Kompromi, dan Iman yang Diuji
Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas), Jurnalis Pewarna Indonesia
Pelitakota.id Ada suara yang tidak terdengar di ruang redaksi.
Bukan suara ketikan keyboard.
Bukan debat panas dalam rapat editorial.
Bukan tekanan telepon dari narasumber berkepentingan.
Itu suara nurani.
Suara yang bertanya pelan namun tajam:
Apakah ini benar?
Apakah ini adil?
Apakah ini bersih dari kepentingan?
Di negeri yang ramah dalam tutur kata tetapi keras dalam tarik-menarik kekuasaan, kebenaran jarang dibunuh secara terang-terangan. Ia dilemahkan perlahan. Dilunakkan bahasanya. Dipindahkan fokusnya. Dipoles judulnya. Hingga tetap hidup—tetapi kehilangan daya gugatnya.
Di titik itulah jurnalis Kristen berdiri.
Bukan sekadar sebagai pekerja media.
Bukan sekadar sebagai pencari berita.
Tetapi sebagai penjaga nurani publik.
Iman yang Tidak Boleh Serupa Dunia
Alkitab mengingatkan:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.” (Roma 12:2)
Serupa dunia hari ini bukan hanya soal gaya hidup. Ia soal pola kompromi. Pola berpikir pragmatis. Pola kerja yang mengutamakan aman daripada benar.
Media hidup dalam tekanan:
Oligarki kepemilikan.
Relasi politik.
Sponsor dan iklan.
Algoritma digital.
Kecepatan yang membunuh ketelitian.
Dalam sistem seperti ini, kebenaran tidak cukup benar. Ia harus menguntungkan.
Di sinilah iman diuji. Apakah ia hanya identitas administratif, atau kompas etis yang memandu keputusan editorial?
Nusantara dan Cermin Integritas
Indonesia bukan sekadar negara. Ia kumpulan nilai peradaban.
Batak: Ketegasan yang Bermartabat
Dalihan Na Tolu mengajarkan keseimbangan dan tanggung jawab. Tungku tidak boleh timpang.
Jika pers condong pada kekuasaan, demokrasi goyah.
“Buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain.” (Efesus 4:25)
Ketegasan bukan kekasaran. Ia keberanian moral.
Jawa: Rukun yang Tidak Boleh Palsu
Budaya Jawa menjunjung rukun. Tetapi rukun tanpa kebenaran adalah kebisuan kolektif.
Berapa banyak berita dilunakkan demi menjaga perasaan pejabat?
Berapa banyak fakta dirapikan agar tidak mengganggu?
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya.” (Matius 5:37)
Harmoni tidak boleh dibangun di atas manipulasi.
Papua: Kejujuran Honai
Honai sederhana. Apa adanya. Tidak dibuat untuk pencitraan.
Media hari ini sering memoles realitas. Konflik dibesar-besarkan demi klik.
“Kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran.” (2 Korintus 13:8)
Kejujuran tidak membutuhkan kosmetik politik.
Minahasa: Memanusiakan Manusia
Si Tou Timou Tumou Tou — manusia hidup untuk memanusiakan manusia.
Jurnalisme yang mengeksploitasi korban demi trafik telah kehilangan jiwa.
“Yang dituntut TUHAN daripadamu ialah berlaku adil…” (Mikha 6:8)
Memanusiakan manusia adalah inti panggilan moral.
Melayu: Menjaga Marwah
Budaya Melayu menjunjung marwah dan kehormatan. Kata adalah harga diri.
Bahasa halus bukan untuk menutup kebusukan. Ia untuk menjaga etika.
Jurnalis yang menjual reputasi orang tanpa verifikasi telah meruntuhkan marwah profesinya sendiri.
Dayak: Huma Betang dan Tanggung Jawab Kolektif
Dalam Huma Betang, satu kebohongan merusak seluruh komunitas.
Demikian pula satu media manipulatif merusak kepercayaan publik.
“Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat.” (Amsal 9:10)
Takut akan Tuhan berarti sadar bahwa setiap kalimat memiliki konsekuensi moral.
Oligarki, Religiusitas Simbolik, dan Sunyi yang Melelahkan
Hari ini media tidak berdiri sendiri. Ia sering berada di bawah bayang-bayang pemilik modal dan kepentingan politik.
Ada ironi pahit:
Rajin ibadah, tetapi takut investigasi.
Lantang di mimbar, tetapi lunak di redaksi.
Keras terhadap dosa orang lain, tetapi kompromi pada framing.
Takut akan Tuhan bukan ritual. Ia keberanian kehilangan demi kebenaran.
Di sisi lain, ada kelelahan moral. Melihat kebohongan dianggap normal. Melihat integritas ditertawakan.
Sunyi itu nyata.
Tetapi justru di sanalah iman menjadi daya tahan.
Era Digital dan Kecepatan yang Membutakan
Hoaks berbasis AI.
Deepfake.
Judul bombastis.
Algoritma yang mengubur kebenaran.
Kecepatan menjadi berhala.
Namun jurnalisme Kristen tidak menyembah kecepatan. Ia menyembah kebenaran.
Suara Profetik yang Tidak Populer
Yesaya berseru:
“Berserulah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan!” (Yesaya 58:1)
Tradisi kenabian tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari kepekaan terhadap ketidakadilan.
Jurnalis Kristen tidak dipanggil menjadi provokator. Ia dipanggil menjadi suara yang jernih.
Kadang itu berarti kehilangan akses.
Kadang berarti kehilangan popularitas.
Kadang berarti berdiri sendirian.
Tetapi lebih baik sendirian bersama kebenaran daripada ramai dalam kepalsuan.
Garam di Tengah Pembusukan
Yesus berkata:
“Kamu adalah garam dunia.” (Matius 5:13)
Garam larut. Tidak terlihat. Tetapi menjaga dari pembusukan.
Indonesia kaya budaya. Kaya nilai. Kaya simbol moral.
Namun tanpa integritas, semua itu hanya dekorasi.
Jika pers tunduk pada oligarki, demokrasi melemah.
Jika gereja takut kritik, ia kehilangan kemurnian.
Jika jurnalis memilih aman, publik kehilangan penjaga.
Pertanyaan yang Tidak Bisa Dihindari
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan:
Apakah tulisan ini viral?
Apakah ini aman?
Apakah relasi saya tetap terjaga?
Melainkan:
Apakah saya masih lurus di hadapan Tuhan dan manusia?
Karena sejarah membuktikan—
kebenaran sering sunyi,
tetapi tidak pernah mati.
Dan mungkin, panggilan paling berat seorang jurnalis Kristen hari ini bukanlah sekadar menulis—
melainkan tetap setia
ketika kesetiaan tidak lagi menguntungkan.


