LINGKARAN CAHAYA DI TENGAH BADAI – KETIKA KAMERA DAN KALIMAT ALKITAB BERSAMA MENGHIDUPKAN HARAPAN

Spread the love

Pelitakota.id

Jam 06.30 WIB, Gang Cibuntu, Kota Bogor

Alfian (32) bangkit dari kasur tebalan yang tipis – kasur yang dia beli bekas 2 tahun lalu. Perutnya menggeram – dia hanya makan mi instan kemarin malam, karena uangnya hanya cukup untuk itu. Dia berdiri, melihat ke lemari kayu yang kosong kecuali beberapa baju dan buku catatan. Di meja, laptop tua menyala, menampilkan halaman Suara Tanah Air – website yang telah melewati badai setahun, tapi sekarang menghadapi tantangan baru.

Dia memegang kamera Sony A6600-nya – kamera yang dia beli dengan uang donasi teman setelah yang lama pecah. Tali hitam matte-nya masih baru, tapi tangannya yang memegangnya agak kering dan kurus karena sering lupa makan. Dia mengambil kaleidoskop kecil dari meja – hadiah dari adiknya yang bekerja di Pasar Anyar – dan memutarnya. Pola warna muncul: hitam seperti malam tanpa bulan (ingatan Maret), putih seperti salju pagi (ingatan Mei), merah seperti bara api (ingatan Juli), biru seperti langit setelah hujan (ingatan November).

“Selama setahun, saya hidup di antara luka dan harapan,” bisiknya. Dia mengecek rekening bank BCA-nya: Rp 350.250 – itu uang sisa setelah membayar sewa kamar dan pulsa. Dia belum bayar listrik, dan air minum rumah kontrakan akan dipotong jika tidak membayar minggu ini. Tekanan ekonomi menghimpit, tapi dia melihat ke laptop – lebih dari 200 artikel dan 50 video yang dia buat – dan menyadari: idealisme itu lebih berharga dari uang.

Jam 14.15 WIB, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat

Udara panas dan lembab, penuh asap kendaraan. Alfian berdiri di tepi trotoar, di antara ratusan warga yang demonstrasi. Dia menunduk mencatat di buku catatan spiral putihnya: “Warga mengeluhkan proyek jalan terhenti 6 bulan, dana Rp 5 miliar tak jelas ke mana…” Matanya tegas, tapi hatinya berdebar – dia tahu risikonya, tapi tidak punya pilihan: cerita ini harus diberitakan.

Tiba-tiba, seorang pria berbadan besar berjalan cepat mendekatinya. “Apa yang kamu tulis?!” teriaknya dengan suara kasar. Sebelum Alfian sempat menjawab, tangan pria itu menggenggam tangannya dengan kekuatan yang menyakitkan, merenggut kamera lama Canon EOS 70D-nya, dan melemparkannya ke aspal basah. “Bruk!” Lensa 18-135mm pecah menjadi dua, layar LCD retak.

Alfian melihat kamera itu tergeletak – alat yang dia gunakan selama 5 tahun, beli dengan uang gaji pertama sebagai wartawan. Tapi dia tidak menangis. Dia menggenggam buku catatannya lebih erat, memasukkannya ke tas ransel hitamnya. “Jika mereka mau merusak alat, berarti cerita ini penting. Saya tidak akan berhenti.”

Dia berjalan pulang dengan kaki lemah, naik angkot Transjakarta rute 13 ke Gambir, lalu bis ke Bogor. Sepanjang jalan, perutnya menggeram, tapi pikirannya hanya fokus pada kata-kata yang akan dia tulis. Dia membuka buku Alkitab di tasnya: “Janganlah takut, karena Aku ada di sana…” (Yesaya 41:10). Kata-kata itu menenangkan hatinya, meskipun luka di tangan masih terasa.

Jam 09.00 WIB, Kamar Sewaan Alfian

Setelah 3 minggu penelitian – mengunjungi Desa Curug 4 kali, berjalan kaki 5 km setiap hari karena tidak punya uang taksi, wawancara 17 warga dan 3 petugas desa – laporannya akhirnya selesai. Judulnya: “Bendungan Terlantar, Warga Desa Curug Hilang Akses Air Bersih – Di Mana Rp 3,2 Miliar Anggaran?”

Dia menekan tombol “Publish” dengan tangan gemetar. Dalam 3 jam, artikel itu dibagikan 10.247 kali di WhatsApp dan Facebook. Jam 14.30 WIB, pesan WA datang dari Bu Siti: “Pak Alfian, terima kasih. Hari ini kepala desa rapat dengan Dinas PU – mereka akan menyelidiki lagi!”

Seminggu kemudian, Mei 22 – Alfian kembali ke Desa Curug dengan uang yang dipinjam dari temannya. Jam 10.15 WIB, nenek Siti (70 tahun) berjalan perlahan mendekatinya, memegang tangannya: “Pak, hari ini kita dapat air bersih dari sumur baru. Semua karena kamu yang berani memberitakan.” Sinar matahari menyinari permukaan air sumur, menyentuh wajah nenek Siti yang tersenyum.

Alfian mengambil kamera teman yang dipinjam, menangkap momen itu. Air mata dia hampir menetes – bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan yang luar biasa. Dia menyadari: ini adalah bayaran yang sesungguhnya – bukan uang, tapi senyum orang yang terbantu. Dia membaca ayat Amsal 3:27: “Janganlah ragu untuk melakukan kebaikan…”

Jam 22.15 WIB, Kamar Sewaan Alfian

Telepon HPnya berdering. Suara Budi, jurnalis podcast Suara Rakyat, terasa gemetar: “Alfian, aku dapet pesan ancaman – ‘jika laporan mafia tanah terus, kamu tahu apa yang akan terjadi’.”

Alfian langsung bangkit dari kasur, meskipun lelah karena tidak tidur cukup. Dia menghubungi Pak Rudi (ketua AJI Bogor) dan melaporkan ke Polsek Cibinong. Dia tidak bisa tidur malam itu – keprihatinan terhadap Budi memenuhi hati. “Apa yang akan terjadi jika teman ku terluka? Apa yang akan terjadi jika kita semua takut berbicara?”

Hari berikutnya, Juli 24 – Alfian mengajak 20 teman jurnalis independen berkumpul di Kedai Kopi “Kopi Hitam”. Mereka tidak punya uang banyak, hanya bisa memesan kopi murah. Tapi mereka berbicara dengan semangat: membuat poster #BelaJurnalisIndependen, merencanakan aksi damai.

Juli 27, jam 10.00 WIB – mereka berkumpul di Lapangan Banteng. Ratusan warga bergabung, membawa spanduk “Jurnalis Bukan Sasaran”. Acara itu diliput media nasional. Dalam seminggu, pemerintah mengeluarkan pernyataan melindungi jurnalis, polisi mulai menyelidiki pengirim pesan.

Saat mereka berkumpul lagi di kedai kopi, makan kue basah yang dibagikan satu sama lain, Alfian merasakan panas merah semangat solidaritas. “Kita tidak bisa menang sendirian – bersama-sama, kita bisa menggerakkan dunia.”

Jam 16.45 WIB, Kamar Sewaan Alfian

Email dari Niagahoster muncul: “Peringatan Pembayaran Hosting – Deadline 3 Hari Lagi. Total: Rp 4.750.000”.

Alfian mengecek rekeningnya lagi: Rp 350.250. Hati dia berdebar kencang – website Suara Tanah Air adalah rumah semua laporannya. Jika tidak dibayar, semua akan hilang. Tekanan ekonomi menghimpit lebih kencang: listrik sudah mati, air akan dipotong, dan dia tidak punya uang makan hari ini.

Tapi dia tidak panik. Dia membuka Instagram @SuaraTanahAir_Indo, membuat postingan: “Teman-teman, kita butuh Rp 4.750.000 untuk memperpanjang hosting. Mari buat ‘Adopsi Domain’ – nama kamu akan tercantum di halaman ‘Penyokong Idealisme’. Setiap nominal berarti banyak!” Dia tambahkan link OVO dan GoPay.

Dalam 12 jam, donasi mencapai Rp 3.575.000. Jam 08.30 WIB keesokan harinya, notifikasi OVO muncul: “Pak Anton mengirim Rp 1.000.000 – ‘Saya pernah dibantu laporanmu, sekarang giliranku membantu’.”

Alfian segera membayar hosting. Saat melihat konfirmasi “Pembayaran Berhasil”, dia menangis – air mata kebahagiaan yang menghapus semua lelah. Halaman “Penyokong Idealisme” dibuat, ada 47 nama. Pola biru harapan muncul: model baru yang berkelanjutan, hidup karena dukungan publik.

Jam 12.00 WIB, Kantor Pos Bogor & Kamar Sewaan Alfian

Alfian tiba di Kantor Pos, mengikuti acara pembagian 500 buku ke anak-anak desa Ciawi. Dia melihat Pak Anton ada di sana, bersama Bu Lina dari Yayasan Buku untuk Anak. Ketika seorang anak perempuan bernama Siti menerima buku pertama, dia menangkap momen itu dengan kamera Sony A6600-nya. “Pak, ini buku pertama yang aku punya,” bisik anak itu.

Alfian membaca ayat Yohanes 8:32: “Kalau kamu memberitakan kebenaran, kamu akan hidup dalam kebenaran.” Dia menulis laporannya, dan redaksi pelitanusantara.com mengajukan kolaborasi untuk menayangkannya di halaman utama.

Pulang ke kamar, dia duduk di bangku depan jendela, memutar kaleidoskop. Pola warna campuran muncul – indah dan kompleks. Dia menyadari: hidup bukan menghindari luka, tapi membuatnya bagian dari pola yang penuh makna.

“Selama 365 hari, saya berpikir keberanian itu tidak takut. Tapi sekarang saya tahu: keberanian itu takut, tapi tetap melangkah. Kebaikan itu tidak selalu dibayar dengan uang, tapi dengan senyum orang yang terbantu. Dan idealisme itu – itu yang membuat kita bertahan, meskipun ekonomi menghimpit.”

Dia berdiri, mengambil tas ransel dan kamera, menuju pintu. Jalan ke Desa Sukabumi besok sudah menunggu – cerita baru tentang petani padi organik yang siap ditangkap. Sinar matahari sore menyinar, membentuk lingkaran cahaya di lensa kameranya. Kaleidoskop akan terus berputar, tapi dia tidak akan takut.

By Romo Kefas

Tinggalkan Balasan