Kursi yang Tetap Kosong

Spread the love

Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Aku masih sering berbicara padamu, Ayah.
Bukan dengan suara, tapi dengan pikiran yang tiba-tiba penuh setiap kali senja datang. Kursi di sudut rumah itu masih sama—tidak dipindahkan, tidak diganti. Entah mengapa, aku merasa jika kursi itu hilang, maka kenangan tentangmu akan ikut bergeser.

Dulu aku tidak banyak bertanya. Kupikir kau akan selalu ada. Kau pulang dengan wajah lelah, duduk sebentar, lalu diam. Aku mengira diam itu jarak. Baru sekarang aku paham: diam itu caramu bertahan, caramu mencintai tanpa gaduh.

Ayah, hidup ternyata tidak semudah yang kau hadapi dulu. Ada hari-hari ketika aku ingin menyerah, lalu tiba-tiba teringat caramu mengikat tali sepatu—pelan, rapi, seolah tak boleh ada yang terlewat. Dari hal kecil itu aku belajar: hidup harus dijalani dengan teliti, bukan tergesa.

Aku rindu bertanya. Tentang keputusan yang harus kuambil. Tentang marah yang tak tahu harus ke mana. Tentang takut yang tak bisa kuceritakan pada siapa pun. Dulu aku bisa diam di sampingmu, dan entah bagaimana, semuanya terasa lebih ringan. Kini aku harus belajar menenangkan diriku sendiri, sambil membayangkan apa yang akan kau katakan jika masih di sini.

Kau tahu, Ayah, aku sekarang berada di posisimu. Ada mata kecil yang menatapku, belajar dari caraku berjalan, caraku bicara, caraku diam. Dan di sanalah aku benar-benar mengerti beban yang dulu kau pikul tanpa keluhan. Aku sering takut tidak seteguh dirimu. Tapi mungkin, keberanian bukan tentang tidak takut—melainkan tetap berdiri meski takut.

Ada malam-malam ketika aku berharap waktu bisa dilipat, hanya untuk duduk sebentar bersamamu. Tidak perlu banyak bicara. Cukup tahu bahwa kau ada. Tapi hidup tidak memberi kemewahan itu. Yang diberikannya hanyalah ingatan, dan tanggung jawab untuk menjaga apa yang pernah diajarkan.

Ayah, jika rindu ini tidak pernah menemukan alamatnya, biarlah ia menjadi doa yang berjalan. Aku akan menjaganya dalam kejujuran, dalam kerja keras, dalam caraku mencintai tanpa banyak kata—seperti caramu dulu.

Dan jika suatu hari aku lelah,
aku akan duduk di kursi itu,
menarik napas panjang,
dan berkata dalam hati:
Ayah, lihatlah… aku masih berjalan.

Tinggalkan Balasan