Kuat oleh Kasih Karunia di Tengah Krisis Iman dan Kelelahan Rohani

Spread the love

Kuat oleh Kasih Karunia di Tengah Krisis Iman dan Kelelahan Rohani

Bogor — Di tengah meningkatnya tekanan hidup, fragmentasi sosial, dan kelelahan rohani yang dialami banyak orang percaya, pesan Rasul Paulus kepada Timotius kembali menemukan relevansinya. “Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus” (2 Timotius 2:1 TB) bukan sekadar nasihat pribadi, melainkan kritik teologis terhadap pola keberimanan yang rapuh karena terlalu bertumpu pada kekuatan diri sendiri.

Fenomena yang tampak hari ini adalah menjamurnya aktivitas keagamaan yang padat, namun tidak selalu diiringi kedewasaan rohani. Banyak pelayan dan umat terlihat aktif, vokal, bahkan berpengaruh, tetapi di balik itu menyimpan kelelahan, kekecewaan, dan kehilangan arah. Iman direduksi menjadi rutinitas, sementara kasih karunia—yang seharusnya menjadi sumber daya utama—justru terpinggirkan.

Paulus menulis kepada Timotius dalam konteks pelayanan yang berat: konflik internal jemaat, ajaran sesat, tekanan sosial, dan tantangan kepemimpinan. Namun menariknya, Paulus tidak menawarkan strategi manajemen, tidak pula menyarankan penguatan struktur organisasi. Ia justru menunjuk pada satu hal yang mendasar dan radikal: kasih karunia dalam Kristus Yesus.

Pesan ini sekaligus menjadi kritik tajam terhadap spiritualitas performatif—iman yang diukur dari seberapa sibuk seseorang melayani, seberapa lantang berbicara, atau seberapa besar pengaruhnya. Ketika iman hanya digerakkan oleh ambisi rohani, pengakuan publik, atau tekanan ekspektasi, kelelahan menjadi keniscayaan. Kasih karunia tidak lagi dihidupi, melainkan hanya dihafalkan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia hari ini—yang ditandai oleh krisis kepercayaan, polarisasi, dan tekanan ekonomi—ayat ini menegaskan bahwa kekuatan sejati orang percaya bukan berasal dari ketahanan mental semata, tetapi dari relasi yang hidup dengan Kristus. Kasih karunia bukan konsep abstrak, melainkan kuasa yang memampukan seseorang tetap setia, jujur, dan rendah hati di tengah situasi yang tidak ideal.

Lebih jauh, pesan Paulus juga menegur gereja dan umat agar tidak menciptakan budaya rohani yang menekan. Ketika standar keberhasilan iman hanya diukur dari hasil, jumlah, atau popularitas, gereja tanpa sadar mendorong umatnya untuk “kuat” dengan cara yang salah. Padahal, menurut Paulus, kekuatan sejati justru lahir dari kesadaran akan keterbatasan diri dan ketergantungan penuh pada Kristus.

Ayat ini menjadi ajakan untuk kembali pada fondasi iman yang sehat: hidup oleh kasih karunia, berjalan bersama Kristus, dan melayani bukan untuk membuktikan diri, melainkan sebagai respons syukur. Tanpa itu, iman mudah berubah menjadi beban, dan pelayanan kehilangan maknanya.

Di tengah dunia yang menuntut manusia selalu tampil kuat, Alkitab justru menawarkan paradoks:
orang percaya menjadi kuat ketika ia bersandar pada kasih karunia, bukan pada dirinya sendiri.


Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
GPIAI Filadelfia


Tinggalkan Balasan