KRISTEN NUSANTARA: IMAN YANG MEMBUMI DAN BERJIWA BUDAYA

Spread the love

KRISTEN NUSANTARA: IMAN YANG MEMBUMI DAN BERJIWA BUDAYA

Bogor –  Kristen Nusantara adalah kisah iman yang berakar di bumi Indonesia. Ia bukan sekadar warisan misi dari luar, tetapi hasil pergumulan panjang antara Injil dan kebudayaan lokal. Dari Maluku hingga Batak, dari Minahasa hingga Jawa dan Banten, Kekristenan bertumbuh melalui tokoh-tokoh yang memahami bahwa budaya bukan musuh iman—melainkan jembatan kesaksian.


Dari Benih Misi ke Gereja Mandiri

Pada abad ke-16, Franciscus Xaverius menanam benih Kekristenan di Maluku. Memasuki abad ke-19, Ludwig Ingwer Nommensen membangun fondasi gereja Batak dengan menghargai struktur adat dalihan na tolu serta membangun pendidikan.

Namun sejarah Kristen Nusantara tidak berhenti pada misi asing. Justru babak paling menentukan terjadi ketika penginjil bumi putra tampil memimpin dan membentuk gereja yang kontekstual.


Penginjil Bumi Putra dan Kearifan Lokal

Ibrahim Tunggul Wulung

Penginjil Jawa abad ke-19 ini menggunakan pendekatan budaya dalam pewartaan Injil. Ia mengenakan pakaian adat, memahami spiritualitas Jawa, dan membangun komunitas Kristen yang tetap beridentitas Jawa.

Sadrach Surapranata

Sadrach dikenal sebagai pemimpin jemaat pribumi yang mandiri. Ia menyampaikan Injil melalui simbol dan bahasa Jawa sehingga pesan Kristus lebih mudah diterima masyarakat.

Kiai Paulus Tosari

Dari kalangan masyarakat Tengger, Tosari menjembatani tradisi adat dengan iman Kristen. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan rohani dapat lahir dari figur lokal yang dihormati.

Kyai Ibrahim Coolen

Coolen membangun komunitas Kristen Jawa di Mojowarno dengan mempertahankan nilai dan tata cara hidup Jawa. Ia tidak menekankan bentuk Barat, tetapi membiarkan iman bertumbuh dalam jiwa budaya lokal.


Kesaksian dari Banten dan Daerah Lain

Sarma (Cikuya, Rangkasbitung)

Di Banten, Sarma dikenal sebagai penginjil pribumi yang melayani di tengah masyarakat dengan tradisi keagamaan yang kuat. Ia menggunakan pendekatan sederhana dan personal, membangun komunitas kecil yang bertahan dalam tekanan sosial.

Selain nama-nama besar, banyak guru Injil lokal di Batak, Minahasa, Maluku, Toraja, dan Papua yang memakai bahasa daerah, seni, dan struktur adat sebagai sarana pewartaan. Mereka mungkin tidak banyak tercatat dalam buku sejarah, tetapi jejak pelayanannya nyata dalam pertumbuhan gereja-gereja lokal.


Inkulturasi: Injil yang Mengangkat Budaya

Para penginjil bumi putra memahami satu prinsip penting: Injil tidak datang untuk menghancurkan budaya, tetapi untuk menebus dan meneranginya.

Di Batak, adat diterangi Firman.
Di Minahasa, semangat mapalus diperkaya ajaran kasih.
Di Jawa dan Banten, simbol dan filosofi lokal menjadi jembatan penginjilan.

Sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 9:22:
“Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang.”

Ayat ini menjadi cerminan pelayanan kontekstual para tokoh Kristen Nusantara.


Warisan bagi Gereja Indonesia Masa Kini

Warisan mereka meliputi:

  • Gereja yang dipimpin anak bangsa
  • Pendidikan berbasis nilai Kristiani
  • Penggunaan bahasa daerah dalam liturgi
  • Semangat pelayanan sosial dan kebangsaan

Di era modern yang penuh tantangan—sekularisme, digitalisasi, dan polarisasi sosial—gereja Indonesia dipanggil kembali kepada akar: iman yang membumi, kontekstual, dan tetap setia pada Injil.

Kristen Nusantara adalah iman yang tumbuh dari tanah ini. Dari Franciscus Xaverius dan Nommensen hingga Tunggul Wulung, Sadrach, Tosari, Coolen, dan Sarma Cikuya—semuanya adalah mata rantai sejarah yang membentuk gereja Indonesia.

Mereka membuktikan bahwa Kekristenan dapat hadir dengan wajah Indonesia: menghargai adat, berbicara dalam bahasa rakyat, dan menjadi terang bagi bangsa.

Kristen Nusantara bukan sekadar sejarah masa lalu, tetapi panggilan masa kini—untuk menghadirkan Injil yang hidup di tengah budaya, relevan bagi zaman, dan setia kepada Kristus.

Tinggalkan Balasan