KPN PGLII 2026 Awali Penguatan Misi Melalui Perspektif Pemberdayaan Ekonomi Jemaat
Bandung – Konferensi Penginjil Nasional (KPN) PGLII 2026 memulai rangkaian kegiatannya dengan menghadirkan materi yang menekankan pentingnya pelayanan gereja yang menyentuh seluruh aspek kehidupan jemaat. Workshop bertajuk Christian Entrepreneurship: Pemberdayaan Ekonomi Jemaat yang disampaikan Veronica Colondam, M.Sc., digelar pada Rabu (11/2/2026) pukul 10.20 WIB hingga 12.00 WIB dan diikuti lebih dari 300 hamba Tuhan dari berbagai daerah di Indonesia.
Materi pembuka ini menyoroti perkembangan paradigma pelayanan gereja yang semakin dituntut mampu menjawab dinamika kehidupan masyarakat modern. Dalam paparannya, Veronica menekankan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk membangun jemaat yang tidak hanya kuat secara iman, tetapi juga memiliki ketahanan ekonomi sebagai bagian dari kehidupan yang berkelanjutan.
Menurut Veronica, pemberdayaan ekonomi jemaat bukan sekadar upaya meningkatkan kesejahteraan, melainkan bagian dari strategi pelayanan yang memperkuat martabat manusia dan memperluas dampak sosial gereja. Ia menilai bahwa kemandirian ekonomi mampu memperkuat stabilitas keluarga serta membuka ruang pelayanan yang lebih luas bagi jemaat.
Sebagai pendiri Yayasan YCAB yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat sejak 1999, Veronica memaparkan berbagai pengalaman lapangan yang menunjukkan bahwa pembinaan karakter, pendidikan, dan pelatihan kewirausahaan menjadi fondasi penting dalam menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa gereja memiliki posisi strategis dalam membangun nilai integritas, tanggung jawab, serta kepedulian sosial melalui pendekatan kewirausahaan berbasis nilai Kristiani.
Di sela kegiatan konferensi, sejumlah peserta yang diwawancarai awak media menyampaikan pandangan mereka terhadap materi yang disampaikan.
Pdt. Djajang Buntoro, Ketua PGLII Kota Bekasi yang juga Gembala Sidang GBI Hope Grand Galaxy Kota Bekasi, menilai materi tersebut memberikan penguatan terhadap arah pelayanan gereja yang lebih komprehensif.
“Gereja perlu membangun jemaat secara utuh. Ketika jemaat memiliki kemandirian ekonomi, mereka tidak hanya mampu menopang kehidupan keluarga, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam pelayanan dan kehidupan sosial masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th, Ketua Umum Gereja Gerakan Pentakosta yang juga Bendahara Panitia Pelaksana KPN 2026, menilai konferensi ini menjadi momentum strategis bagi gereja-gereja yang tergabung dalam PGLII untuk memperkuat gerakan penginjilan nasional.
“KPN 2026 menjadi titik kesepahaman gereja-gereja untuk semakin aktif dalam pelayanan penginjilan. Gereja perlu bergerak responsif terhadap perubahan zaman, karena dunia terus bergerak dengan cepat dan pelayanan harus mampu menjawab dinamika tersebut,” ujarnya.
Pandangan inspiratif juga disampaikan oleh peserta dari kalangan generasi muda. Aris Tanto, peserta asal Kota Bandung, menilai materi tersebut memberikan wawasan baru tentang keterlibatan generasi muda dalam pelayanan gereja.
“Pelayanan masa kini menuntut kreativitas dan inovasi. Anak muda memiliki peluang besar untuk terlibat melalui berbagai bidang, termasuk kewirausahaan yang memiliki dampak sosial,” katanya.
Materi perdana KPN PGLII 2026 ini menjadi penanda penting bahwa pelayanan penginjilan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan rohani, tetapi juga pada transformasi kehidupan jemaat secara menyeluruh. Pendekatan pelayanan yang mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi dinilai mampu memperkuat peran gereja dalam membangun masyarakat yang berdaya dan berpengharapan.
Melalui pembekalan ini, KPN PGLII 2026 diharapkan dapat melahirkan para pelayan Tuhan yang tidak hanya memiliki keteguhan iman, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menghadirkan pelayanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan bangsa.
Jurnalis Romo Kefas


