Bandung – Konferensi Penginjil Nasional (KPN) 2026 PGLII menghadirkan pesan penting bagi gereja-gereja di Indonesia agar menjaga keseimbangan antara kehidupan rohani dan sistem pelayanan. Pesan tersebut disampaikan Ps. Sammy Hartanto, President IFGF Global, dalam salah satu sesi konferensi.
Mengangkat tema “The Church Doesn’t Operate on One Level”, Ps. Sammy menegaskan bahwa gereja tidak dapat berjalan hanya dalam satu dimensi pelayanan.
“Gereja tidak boleh hanya sibuk dengan program dan aktivitas, tetapi lupa pada tujuan ilahi yang menjadi dasar pelayanan,” ujar Ps. Sammy di hadapan ratusan peserta konferensi di Bandung.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pelayanan gereja terdiri dari dua dimensi utama, yakni Upper Room (Ruang Atas) dan Lower Room (Ruang Bawah). Upper Room menggambarkan kehidupan rohani gereja, tempat umat menerima kuasa, visi, dan gairah pelayanan melalui doa dan keintiman dengan Tuhan.
Sementara itu, Lower Room merupakan ruang pengelolaan pelayanan, di mana gereja membangun sistem, struktur organisasi, serta keteraturan pelayanan.
“Keteraturan mendukung pencurahan kuasa Tuhan. God’s Order supports God’s Outpouring,” tegasnya.
Namun, Ps. Sammy juga mengingatkan adanya tantangan yang dihadapi banyak gereja, yakni kecenderungan terlalu fokus pada aktivitas organisasi tanpa memperkuat kehidupan rohani.
“Banyak gereja sibuk dalam pengelolaan pelayanan, tetapi lupa kembali membangun kehidupan doa untuk mendapatkan tujuan pelayanan. Program tanpa tujuan hanya akan menjadi rutinitas kosong,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa kekuatan gereja tidak hanya diukur dari jumlah jemaat yang hadir dalam ibadah, tetapi dari kemampuan gereja mengutus jemaat untuk melayani masyarakat.
> “A Church’s power should not be measured only by seating capacity, but also by sending capacity,” ujarnya.
Menurutnya, gereja dipanggil bukan hanya menjadi tempat berkumpulnya jemaat, tetapi menjadi pusat pengutusan yang melahirkan pelayan dan pekerja misi.
Menanggapi materi tersebut, Ps. Fadillah, Sekretaris Badan Musyawarah Gereja Methodist Injili, menilai pesan yang disampaikan menjadi pengingat penting bagi gereja-gereja di Indonesia untuk kembali menata fondasi pelayanan.
“Materi ini menegaskan bahwa kekuatan gereja tidak hanya lahir dari manajemen yang baik, tetapi dari kedalaman relasi dengan Tuhan. Gereja yang hanya kuat secara organisasi berisiko kehilangan arah, tetapi gereja yang menghidupi doa dan visi ilahi akan mampu menghadirkan pelayanan yang berdampak dan berkelanjutan,” ujar Ps. Fadillah.
Ia menambahkan bahwa gereja masa kini ditantang untuk tidak sekadar menjadi pusat kegiatan rohani, tetapi menjadi pusat pengutusan yang melahirkan generasi pelayan Tuhan.
“Gereja harus bergerak dari sekadar mengumpulkan jemaat menuju membangun dan mengutus generasi pelayan misi. Ketika spiritualitas dan tata kelola berjalan seimbang, gereja akan menjadi terang yang relevan bagi bangsa dan dunia,” katanya.
KPN 2026 menjadi momentum refleksi bagi gereja-gereja di Indonesia untuk memperkuat pelayanan misi serta meneguhkan kembali panggilan Amanat Agung melalui keseimbangan antara kedalaman rohani dan kekuatan sistem pelayanan.
—
Jurnalis Romo Kefas


