Pelitakota.id Di tengah dunia yang semakin riuh oleh pencitraan, ambisi, dan janji-janji manis, manusia sering lupa bahwa yang paling menenangkan justru bukan yang paling menonjol. Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu dinilai dari seberapa terlihat, seberapa cepat, dan seberapa mengesankan. Namun di balik semua itu, ada satu nilai yang tetap bertahan dan tidak tergantikan: konsistensi.
Tidak perlu menjadi yang paling bersinar untuk dihargai. Kesederhanaan yang dijalani dengan ketulusan justru menghadirkan kehangatan yang meneduhkan. Kehangatan semacam ini tidak berisik, tidak memaksa perhatian, namun diam-diam memberi rasa aman. Ia tidak lahir dari kata-kata indah yang diucapkan sesekali, melainkan dari kehadiran yang setia, dari sikap yang tetap sama baiknya hari demi hari.
Kepercayaan tidak dibangun dalam satu momen besar. Ia tumbuh perlahan melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara berulang. Dalam relasi apa pun—keluarga, persahabatan, pelayanan, maupun kehidupan rohani—konsistensi menjadi bahasa kasih yang paling jujur.
Hubungan yang awet bukan tentang siapa yang paling romantis setiap hari, bukan pula tentang siapa yang paling pandai merangkai kata. Hubungan yang bertahan lama adalah tentang siapa yang tetap hadir, terutama ketika keadaan tidak menyenangkan. Ketika dunia terasa dingin, ketika hidup menekan, ketika semangat melemah, kehadiran yang setia menjadi sumber kehangatan yang nyata.
Janji bisa dibuat siapa saja, tetapi hanya konsistensi yang mampu membuktikan ketulusan.
Yesus tidak pernah mengajarkan manusia untuk mengejar sorotan. Ia justru mengarahkan hati kepada nilai-nilai yang sering diabaikan: kerendahan hati, kelemahlembutan, kemurahan hati, dan sikap membawa damai. Nilai-nilai inilah yang menjadi dasar kehidupan yang berkenan kepada Allah.
Dalam pandangan iman, kekuatan sejati tidak selalu tampak mencolok. Ia hadir dalam kesediaan untuk tetap setia, tetap rendah hati, dan tetap mengasihi, bahkan ketika tidak mendapat pengakuan. Kehidupan seperti inilah yang memancarkan terang—bukan karena ingin dilihat, tetapi karena hidupnya sungguh-sungguh mencerminkan kasih.
Hidup yang berkenan kepada Tuhan tidak selalu spektakuler. Sering kali ia terlihat biasa, sederhana, bahkan sunyi. Namun justru dalam kesederhanaan itulah iman diuji dan dimurnikan. Konsistensi dalam doa, dalam sikap, dalam integritas, dan dalam kasih kepada sesama menjadi bukti kedewasaan rohani.
Ketika seseorang memilih untuk hidup setia dalam hal-hal kecil, Tuhan bekerja dalam cara yang tenang namun pasti. Jalan demi jalan dibukakan, hati dikuatkan, dan setiap proses dijalani dengan pengharapan. Kehidupan yang demikian bukan hanya memberkati diri sendiri, tetapi juga menghadirkan keteduhan bagi orang lain.
Pada akhirnya, hidup yang bermakna tidak diukur dari seberapa tinggi seseorang melangkah, melainkan dari seberapa setia ia berjalan. Konsistensi yang dijalani dengan kasih akan selalu meninggalkan jejak, meski tidak selalu terlihat.
Tetaplah hidup dalam perkenan-Nya.
Tetap jaga kesehatan, semangat, dan antusiasme.
Tetap setia, tetap rendah hati, dan tetap membawa kehangatan.
Karena di dunia yang cepat berubah, iman yang konsisten dan hati yang hangat akan selalu relevan—hari ini, esok, dan seterusnya.
— Abah Daniel


