Ketua Umum GGP Pdt. Dicky Suwarta: LK 1–2 Akan Lahirkan Buku Sejarah yang Lebih Mendekati Kebenaran

Spread the love

Cimahi – Loka Karya 2 Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) yang digelar di Cimahi, Sabtu (21/2/2026), berkembang menjadi momentum penting dalam perjalanan organisasi. Mengusung tema “Semakin Jelas (Jejak Pelayanan Perintis GGP)”, forum ini bukan sekadar diskusi sejarah, melainkan konsolidasi data terbuka yang menyatukan narasumber, penanggap, dan seluruh unsur struktural.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Sejarah GGP di bawah kepemimpinan Pdt. Dr. Timotius Sukarna, M.Th selaku Ketua Tim, bersama Sekretaris Pdt. Rudi Hermawan sebagai pelaksana teknis. Paparan materi disampaikan oleh para narasumber, kemudian direspons secara kritis oleh tiga penanggap lintas organisasi gereja: Pdt. Dr. Edmon Pakasi, M.Th; Pdt. Dr. Trifena Julien Lontoh, M.Pd.K., D.Min dari GPdI; serta Pdt. Dr. Herison mewakili PGPI Bandung Raya sekaligus anggota GPK.

Diskusi berlangsung dinamis. Data diuji, arsip ditelaah, dan perspektif dipertemukan dalam suasana terbuka. Kehadiran unsur struktural memperkuat bobot forum ini. Turut hadir Ketua DP Pdt. Cornelius Edy, M.Th; Sekretaris Mada Jawa Barat Pdt. Hendra Russo, S.Th; Ketua Mawil Pdt. Elfira Wowiling; serta sejumlah pimpinan daerah lainnya. Unsur Majelis Pusat, Mada, Mawil, Majem, para pendeta, dan insan GGP dari berbagai wilayah ikut terlibat aktif.

Ketum: Sejarah Harus Dibangun di Atas Keterbukaan

Dalam arahannya, Ketua Umum GGP Pdt. Dicky Suwarta, M.Th menegaskan bahwa Loka Karya 2 adalah ruang pengumpulan data secara terbuka.

“LK 2 ini menjadi pengumpulan data dari tiga narasumber, para penanggap, dan seluruh insan GGP. Semua kita buka, kita uji bersama. Sejarah tidak boleh dibangun di atas asumsi, tetapi di atas data yang diverifikasi,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan pandangan dalam forum justru menjadi kekuatan untuk memperkaya pemahaman kolektif. Menurutnya, gereja yang besar adalah gereja yang berani merapikan sejarahnya sendiri dengan rendah hati dan penuh tanggung jawab.

Dari Lokakarya Menuju Buku Resmi

Pernyataan yang paling menyita perhatian peserta adalah komitmen untuk melahirkan karya nyata dari proses ini.

“Saya rindu LK 1 dan LK 2 ini menyusun satu buku sejarah GGP yang lebih mendekati kebenaran. Bukan sekadar cerita turun-temurun, tetapi hasil riset, verifikasi, dan kesepakatan bersama,” ujarnya.

Gagasan tersebut disambut antusias. Banyak peserta menilai penyusunan buku sejarah resmi akan menjadi tonggak penting dalam menjaga identitas dan kesinambungan organisasi.

Fondasi Masa Depan

Pembahasan yang mencakup periode awal pelayanan Papa Thiesen, fase perintisan, hingga perkembangan GGP modern menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya memori masa lalu, tetapi fondasi langkah ke depan.

Dengan dinamika data yang terus terkumpul dan diverifikasi, Loka Karya 2 di Cimahi dipandang sebagai momentum strategis: merawat akar sejarah sekaligus meneguhkan arah GGP di masa mendatang.

Dari Cimahi, satu pesan menguat—sejarah yang semakin jelas akan melahirkan langkah yang semakin tegas.

Tinggalkan Balasan