Ketua Tim Sejarah GGP Pdt. Dr. Timotius Sukarna: Tanpa Sejarah yang Jelas, Identitas Gereja Akan Rapuh

Spread the love

Cimahi – Loka Karya 2 bertema “Semakin Jelas (Jejak Pelayanan Perintis GGP)” menghadirkan pendekatan yang lebih konseptual dalam membaca perjalanan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP). Dalam forum tersebut, Pdt. Dr. Timotius Sukarna, M.Th yang menjabat sebagai Ketua Tim Sejarah GGP sekaligus Ketua STT Kadeshi, menegaskan pentingnya sejarah sebagai fondasi pembentukan jati diri gereja.

Dalam paparannya, ia tidak hanya berbicara tentang kronologi peristiwa, tetapi tentang makna sejarah bagi keberlanjutan organisasi.

“Setiap orang ada sejarahnya dan setiap sejarah ada orangnya,” ujarnya membuka pemaparan.

Menurutnya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu yang disimpan dalam arsip, tetapi realitas yang hidup dalam diri setiap generasi. Ia menekankan bahwa generasi saat ini sedang mengambil bagian dalam proses sejarah itu sendiri.

“Kita adalah pelaku sejarah pada zaman sekarang,” tegasnya.

Sejarah Berbasis Data, Bukan Persepsi

Sebagai Ketua Tim Sejarah GGP, ia menjelaskan bahwa GGP memiliki rekam jejak yang dapat ditelusuri melalui data primer dan data sekunder. Karena itu, proses dalam Loka Karya 2 diarahkan pada verifikasi sumber, klarifikasi narasi, dan penyusunan kerangka sejarah yang lebih sistematis.

Ia mengingatkan bahwa sejarah yang dibangun di atas persepsi atau asumsi berisiko melemahkan identitas organisasi. Sebaliknya, sejarah yang disusun melalui penelitian dan dialog terbuka akan memperkuat kepercayaan internal.

“Sejarah adalah pembentukan identitas. Identitas yang kuat lahir dari fondasi yang jelas,” katanya.

Nilai Kebaruan Lintas Generasi

Dalam refleksinya, Pdt. Timotius mengajak peserta menerima apa yang ia sebut sebagai “nilai kebaruan” dalam memahami perjalanan GGP lintas generasi.

Jika pada masa sebelumnya GGP dipahami sebagai gereja yang lahir dari kebangunan rohani, maka dalam konteks 2026, ia menegaskan bahwa GGP adalah gereja yang terus dibentuk oleh Roh Kudus sepanjang perjalanan sejarahnya.

Artinya, identitas tidak berhenti pada satu momen historis. Identitas berkembang, dipertajam, dan diuji oleh waktu.

Ia menutup pemaparannya dengan penegasan bahwa tanggung jawab generasi sekarang adalah menjaga kemurnian iman, kesetiaan pelayanan, dan kesinambungan misi dengan integritas serta relevansi terhadap zaman.

Melalui pendekatan reflektif dan berbasis data, Loka Karya 2 di Cimahi memperlihatkan bahwa pembahasan sejarah bukan sekadar melihat ke belakang, melainkan memastikan arah yang kokoh untuk melangkah ke depan.

Tinggalkan Balasan