Pagi itu cerah.
Udara sejuk menyelimuti sebuah kawasan perbukitan yang mulai ramai oleh aktivitas manusia. Kendaraan datang dan pergi, orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing.
Di antara mereka, hadir *seorang perempuan yang telah mencapai banyak hal dalam hidupnya.*
Usahanya berkembang. Kehidupannya mapan. Banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang berhasil dan layak dihormati.
Ia turun dari kendaraannya dengan langkah mantap.
Ia terbiasa berada di posisi dilayani.
Namun pagi itu, Tuhan memilih cara yang sangat sederhana untuk berbicara kepadanya .
Seorang petugas parkir dengan pakaian kerja biasa menghampiri, membukakan pintu, lalu menyapa dengan sopan,
> “Selamat pagi, Ibu. Semoga hari Ibu menyenangkan.”
Sapaan itu membuat langkahnya terhenti sesaat.
Ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Ia menatap wajah petugas itu lebih lama dari seharusnya.
Nada suaranya. Sikapnya. Cara ia berdiri.
Terasa begitu familiar.
Ia mengenali sosok itu sebagai seseorang yang dahulu dikenal cakap, percaya diri, dan sering dipercaya memimpin.
Kini ia berdiri di sana, melayani dengan tenang, tanpa sorotan, tanpa panggung.
Di dalam hati perempuan itu muncul penilaian yang spontan dan sangat manusiawi:
Ia mengira hidup orang itu tidak berjalan sebagaimana dulu.
Namun penilaian manusia sering kali keliru di hadapan Tuhan.
Beberapa saat kemudian, ia mengetahui bahwa petugas yang ia pandang sederhana itu justru adalah pemilik seluruh kawasan tersebut.
Hari itu, ia memilih berdiri di tempat paling rendah, bukan karena kehilangan segalanya, tetapi karena takut kehilangan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Perempuan itu kembali mendekat.
Dengan suara lirih ia bertanya, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah melihat.
Jawabannya sederhana,
> “Semua yang ada hanyalah titipan. Hari ini saya ingin kembali melayani, supaya hati saya tidak meninggi dan lupa dari mana perjalanan ini dimulai.”
Kalimat itu tidak keras,
namun menghantam jauh ke dalam hati.
Sering kali, keberhasilan justru menjadi ujian iman yang paling berat.
Bukan saat kita kekurangan, melainkan ketika kita berkelimpahan.
Ketika segala sesuatu terasa aman, dihormati, dan mapan,
hati bisa perlahan meninggi—tanpa disadari.
Petugas itu berkata pelan,
> “Dalam Kitab Suci diajarkan bahwa yang paling mulia bukan yang paling tinggi kedudukannya, melainkan yang hidupnya takut akan Tuhan. Dan rasa takut akan Tuhan itu sering diuji saat kita berada di atas.”
Perempuan itu terdiam.
Ia menyadari bahwa pagi itu, Tuhan tidak sedang menegur orang lain—Ia sedang menegur dirinya .
Ia sempat mengira seseorang telah jatuh.
Padahal, dirinyalah yang hampir tergelincir oleh kesombongan yang halus.
Tidak ada kata-kata panjang.
Tidak ada teguran keras.
Hanya kesadaran yang perlahan tumbuh dalam diam.
Hening untuk Merenung
Renungan ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah keberhasilan membuat kita semakin rendah hati, atau justru meninggikan diri?
Apakah berkat membuat kita semakin mau melayani, atau semakin ingin dilayani?
Apakah kita masih ingat bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Tuhan?
Karena Tuhan tidak menilai manusia dari rupa, jabatan, atau kekayaan.
Yang Ia lihat adalah hati yang tulus dan perbuatan yang nyata.
Rendah hati di saat berhasil
bukan tanda kelemahan,
melainkan tanda kedewasaan iman.
Kiranya setiap keberhasilan yang kita terima
tidak menjauhkan kita dari sesama,
tetapi mendekatkan kita kepada Tuhan
dan membuat hidup kita *menjadi berkat bagi banyak orang.*
(rgy)


