Ketika Pena Menjadi Mezbah: Jurnalisme dalam Cermin Alkitab

Spread the love

Ketika Pena Menjadi Mezbah: Jurnalisme dalam Cermin Alkitab

Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K

Banyak orang mengira pelayanan hanya terjadi di mimbar, di ruang doa, atau di altar gereja. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa pelayanan juga terjadi di ruang sunyi—di meja tulis, di antara lembaran catatan, di tengah kesungguhan menyusun kebenaran. Pelayanan tidak selalu berbentuk khotbah. Terkadang ia hadir dalam bentuk tulisan.

Perhatikan bagaimana Lukas memulai Injilnya:

“Setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu…”
(Lukas 1:3)

Itu bukan sekadar pembukaan kitab. Itu adalah pernyataan panggilan. Lukas menyelidiki, mengumpulkan kesaksian, menyusun fakta secara sistematis. Ia bekerja dengan ketelitian, dengan tanggung jawab, dengan integritas. Apa yang ia lakukan adalah fondasi dari apa yang hari ini kita kenal sebagai kerja jurnalistik: verifikasi, ketelitian, dan penyusunan narasi yang dapat dipercaya.

Namun lebih dari itu, pekerjaannya adalah pelayanan.

Alkitab dengan tegas berkata:

“Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong.”
(Keluaran 23:1)

Perintah ini bukan sekadar aturan sosial, melainkan prinsip rohani. Menolak kebohongan adalah bentuk ketaatan. Menjaga kebenaran adalah bentuk ibadah. Dalam dunia yang sarat dengan kepentingan, tekanan, dan manipulasi informasi, berdiri pada fakta adalah tindakan iman.

Amsal mengingatkan:

“Hidup dan mati dikuasai lidah.”
(Amsal 18:21)

Jika perkataan memiliki kuasa hidup dan mati, maka tulisan pun demikian. Sebuah berita dapat memulihkan atau menghancurkan. Dapat menenangkan atau memicu kegaduhan. Dapat memperjelas atau mengaburkan kebenaran. Di sinilah jurnalisme bukan lagi sekadar profesi, melainkan tanggung jawab moral.

Yohanes Pembaptis memberi gambaran tentang keberanian moral itu. Ia menegur ketidakadilan, bahkan ketika yang ditegur adalah penguasa. Ia tahu risikonya, tetapi ia memilih setia pada kebenaran.

“Tidak halal engkau…”
(Markus 6:18)

Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa menyampaikan kebenaran sering kali menuntut keberanian. Jurnalisme yang sejati pun demikian. Ia tidak dibangun di atas ketakutan, melainkan integritas.

Namun Injil juga mengajarkan keseimbangan. Rasul Paulus menulis:

“Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih…”
(Efesus 4:15)

Kebenaran tanpa kasih dapat menjadi keras dan melukai. Kasih tanpa kebenaran menjadi rapuh dan menyesatkan. Jurnalisme yang melayani Tuhan adalah jurnalisme yang berani sekaligus adil, tegas sekaligus bijaksana.

Yesus Kristus sendiri berkata:

“Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
(Yohanes 8:32)

Maka setiap kali seorang jurnalis menulis dengan jujur, menyelidiki dengan sungguh-sungguh, dan menolak manipulasi, ia sedang mengambil bagian dalam pekerjaan memerdekakan. Ia menjadi saksi bahwa terang masih ada di tengah kebisingan dunia.

Dan Tuhan menghargai kesetiaan dalam perkara kecil:

“Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar.”
(Lukas 16:10)

Pelayanan jurnalistik mungkin tidak selalu terlihat rohani di mata manusia. Tidak selalu berdiri di panggung gereja. Tidak selalu disertai tepuk tangan. Tetapi ketika pena dipakai untuk kebenaran, ketika tulisan lahir dari hati yang takut akan Tuhan, maka ruang redaksi pun dapat menjadi ladang pelayanan.

Alkitab memang tidak menyebut kata “jurnalis”. Namun Alkitab berbicara tentang saksi, tentang penulis, tentang penyampai kabar baik, tentang penjaga kebenaran. Dan di sanalah kita menemukan cerminnya.

Karena pada akhirnya, pelayanan bukan soal di mana kita berdiri, melainkan kepada siapa kita setia. Jika pena dipersembahkan untuk kebenaran, maka meja tulis pun dapat menjadi mezbah.

Tinggalkan Balasan