Ketika Mimbar Menjadi Meja Dagang

Spread the love

Pelitakota.id Alkitab tidak pernah lembut terhadap kepalsuan rohani. Justru di saat akhir zaman, firman Tuhan berbicara dengan nada peringatan yang keras dan terang. “Akan muncul banyak nabi palsu dan mereka akan menyesatkan banyak orang” (Matius 24:11). Ini bukan ancaman masa depan semata, tetapi realitas yang sedang berlangsung.

Ketika pelayanan berubah menjadi bisnis, ketika persembahan diperlakukan sebagai milik pribadi, dan ketika rumah Tuhan kehilangan kekudusannya demi kenyamanan dunia, maka iman tidak lagi diuji—iman sedang diperdagangkan.

Yesus tidak pernah ragu menyebut penyalahgunaan rohani sebagai kejahatan serius. “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Matius 21:13). Ayat ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan cermin tajam bagi gereja di setiap zaman.

Lebih mengerikan lagi, Alkitab memperingatkan bahwa penyesatan terbesar sering kali datang dari dalam, bukan dari luar. “Sebab dari antara kamu sendiri akan muncul orang-orang yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar” (Kisah Para Rasul 20:30). Kepalsuan rohani sering dibungkus dengan ayat, musik, dan jargon iman—tetapi kosong dari kebenaran dan pertobatan.

Masalahnya bukan sekadar pemimpin yang salah, tetapi jemaat yang menolak berpikir. Firman Tuhan dengan jelas berkata, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah” (Hosea 4:6). Bukan karena kurang mujizat, melainkan karena menolak kebenaran.

Di akhir zaman, kebenaran tidak lagi ditolak karena tidak diketahui, tetapi karena tidak disukai. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Timotius 4:3).

Orang yang merenung disebut pemberontak. Orang yang bertanya dicap kurang iman. Padahal Alkitab justru memerintahkan, “Ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (1 Yohanes 4:1). Iman yang tidak mau diuji bukan iman—itu ilusi.

Yesus sendiri berkata dengan keras, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 7:21). Ayat ini menghancurkan ilusi religius yang nyaman, bahwa simbol iman lebih penting daripada ketaatan.

Di akhir zaman, kebodohan rohani sering disamarkan sebagai kesalehan. Tetapi firman Tuhan menegaskan, “Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat” (Amsal 9:10)—bukan takut pada manusia, mimbar, atau jabatan rohani.

Kebenaran akan selalu melukai kepalsuan. Dan mereka yang hidup dari kepalsuan akan selalu tersinggung oleh terang. Tetapi iman yang sejati tidak lahir dari tersinggung—iman lahir dari pertobatan.

Sebab gereja tidak dipanggil untuk menyenangkan telinga manusia, melainkan setia kepada kebenaran Allah, sekalipun harus berdiri sendirian.

“Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” (Wahyu 2:7)


Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Tinggalkan Balasan