Ketika Lidah Pelayan Tuhan Memecah Gereja
Pelitakota.id Di Indonesia, kita diajarkan sejak kecil untuk sopan, menjaga perasaan, dan tidak frontal. Dalam budaya Jawa dikenal istilah ewuh pakewuh—sungkan menegur, takut merusak harmoni. Sayangnya, di ruang gereja, budaya ini sering berubah menjadi pembenaran untuk membiarkan kebohongan, kemunafikan, dan penyalahgunaan kuasa rohani.
Banyak jemaat memilih diam. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena takut dicap pembangkang. Takut dianggap melawan “hamba Tuhan”. Takut dikucilkan dari komunitas. Akibatnya, kebenaran dikalahkan oleh rasa sungkan, dan gereja perlahan terluka dari dalam.
Orang Jawa mengingatkan dengan tegas:
“Ngomong thok, nanging ora nglakoni.”
(Banyak bicara, tetapi tidak melakukan.)
Ungkapan ini terasa sangat dekat dengan realitas gereja kita hari ini. Mimbar penuh kata-kata indah. Seminar, retret, dan ibadah berlangsung megah. Namun di balik layar, tidak sedikit pelayan Tuhan yang lidahnya lebih cepat daripada hatinya, lebih sibuk menjaga posisi daripada menjaga kebenaran.
Yesus sudah menegur pola ini sejak lama:
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”
(Matius 15:8)
Teguran ini bukan untuk orang luar, tetapi untuk pemimpin rohani. Di konteks Indonesia, pemimpin rohani sering diperlakukan seperti figur tak tersentuh. Kata-katanya jarang diuji. Keputusannya jarang dikritisi. Padahal Alkitab tidak pernah memberi kekebalan moral kepada siapa pun.
Masalah paling serius muncul ketika lidah pelayan Tuhan dipakai untuk memecah belah organisasi gereja. Bukan lewat mimbar resmi, tetapi lewat bisik-bisik, grup percakapan, dan narasi sepihak. Di depan berbicara tentang kesatuan, di belakang membangun kubu. Di depan mengutip ayat, di belakang menyusun cerita.
Budaya Indonesia mengenal peringatan keras:
“Ajining diri saka lathi.”
(Harga diri seseorang ditentukan oleh ucapannya.)
Namun di gereja, lidah sering menjadi alat politik rohani. Ketika jabatan tidak didapat, ketika kepentingan tidak terakomodasi, ketika pengaruh mulai berkurang, lidah berubah menjadi senjata. Fitnah dibungkus doa. Gosip diselimuti ayat. Konflik disebut “perbedaan visi”, padahal akarnya adalah ego.
Rasul Paulus sudah mengingatkan jemaat sejak awal:
“Waspadalah terhadap mereka yang menimbulkan perpecahan dan batu sandungan.”
(Roma 16:17)
Ironisnya, perpecahan gereja di Indonesia sering terjadi tanpa teriak, tetapi dampaknya menghancurkan. Jemaat bingung, pelayanan lumpuh, kepercayaan hancur. Namun para pelakunya tetap tampil rapi, tetap berkhotbah, tetap dihormati.
Alkitab tidak membiarkan hal ini dinormalkan:
“Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”
(1 Korintus 14:33)
Yakobus dengan jujur membongkar akarnya:
“Bukankah semuanya itu bersumber dari hawa nafsumu?”
(Yakobus 4:1)
Dalam budaya kita, sering kali orang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga kebenaran. Lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas. Padahal orang Jawa sudah lama mengingatkan:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”
(Tidak sibuk mencari kepentingan diri, tetapi giat bekerja.)
Namun yang sering terlihat justru sebaliknya: ramai pamrih, sepi keteladanan. Jabatan rohani dijadikan simbol kuasa. Mimbar dijadikan alat legitimasi. Organisasi gereja berubah menjadi arena tarik-menarik kepentingan.
Paulus memperingatkan dengan sangat serius:
“Siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh.”
(1 Korintus 10:12)
Akhirnya, iman yang sejati tidak diukur dari seberapa pandai seseorang berbicara tentang Tuhan, tetapi seberapa sungguh ia menjaga kesatuan tubuh Kristus. Orang Jawa menutup dengan kebijaksanaan yang membumi:
“Urip iku mung mampir ngombe.”
(Hidup ini singkat; jangan rusak maknanya dengan kepalsuan dan pertikaian.)
Yesus memberi ukuran yang tidak bisa ditawar:
“Bukan setiap orang yang berseru: Tuhan, Tuhan! melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku.”
(Matius 7:21)
Tulisan ini bukan ajakan memberontak, tetapi panggilan bertobat—khususnya bagi para pelayan Tuhan dan pemimpin gereja di Indonesia. Sebab gereja tidak akan runtuh karena serangan luar, tetapi bisa hancur karena lidah yang tidak dijaga dari dalam.
✍️ Dibuat oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


