Bogor – Penginjilan yang disampaikan tanpa memahami budaya berisiko menjadi suara yang benar, tetapi tidak didengar. Di Indonesia—khususnya dalam kebudayaan Jawa—iman tidak hanya diterima melalui kata-kata, melainkan melalui rasa, laku, dan simbol kehidupan. Karena itu, penginjilan yang berakar pada kearifan lokal bukanlah kompromi iman, melainkan jalan inkarnatif agar Injil sungguh hadir dalam kehidupan manusia.
Filsafat Jawa mengenal konsep manjing ajur-ajer—masuk dan menyatu tanpa kehilangan jati diri. Nilai ini mengajarkan bahwa seseorang dapat hadir di tengah komunitas lain dengan rendah hati, beradaptasi, dan membangun relasi, tanpa harus menanggalkan prinsip hidupnya. Dalam perspektif penginjilan, prinsip ini sejalan dengan teladan rasuli.
Rasul Paulus menulis,
“Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang.”
(1 Korintus 9:22)
Injil tidak berubah, tetapi cara penyampaiannya dapat dan harus menyesuaikan konteks. Penginjilan yang manjing ajur-ajer bukan berarti mencairkan kebenaran, melainkan menerjemahkannya ke dalam bahasa kehidupan setempat.
Yesus sendiri tidak memberitakan Kerajaan Allah dengan bahasa langit yang asing. Ia memakai perumpamaan tentang benih, ladang, nelayan, dan pesta—semua lahir dari realitas hidup masyarakat pada zamannya. Injil Yohanes menegaskan fondasi teologis pendekatan ini:
“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.”
(Yohanes 1:14)
Inkarnasi berarti kehadiran. Firman tidak datang dari kejauhan, tetapi tinggal, berjalan, dan berbicara di tengah budaya manusia. Dalam konteks Jawa, ini berarti Injil dapat hadir melalui tembang, cerita, simbol, dan seni tradisional—tanpa kehilangan otoritas kebenarannya.
Dalam kearifan Jawa dikenal ungkapan urip iku urup—hidup itu seharusnya memberi terang bagi sesama. Nilai ini menemukan resonansinya dalam ajaran Yesus:
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
(Matius 5:16)
Penginjilan berbasis budaya tidak selalu dimulai dari mimbar atau podium. Ia dimulai dari kehadiran yang menerangi: sikap hormat terhadap adat, kesediaan mendengar, dan hidup yang membawa damai. Di sanalah Injil menjadi nyata, bukan sekadar wacana.
Masih ada anggapan bahwa budaya adalah ancaman bagi kemurnian iman. Kekhawatiran ini dapat dipahami, tetapi tidak boleh berujung pada penolakan total. Filsafat Jawa mengingatkan prinsip ngono ya ngono, ning aja ngono—ada kebijaksanaan dalam memberi batas.
Alkitab pun mengajarkan sikap serupa:
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1 Tesalonika 5:21)
Artinya, budaya perlu disaring dengan hikmat. Ia menjadi sarana, bukan penguasa pesan. Penginjilan kontekstual menuntut ketelitian teologis agar Injil tidak larut, namun juga tidak kaku.
Penginjilan melalui budaya bukan jalan cepat. Ia menuntut kesabaran, dialog panjang, dan kesetiaan. Filosofi Jawa alon-alon waton kelakon mengajarkan bahwa proses yang pelan tetapi setia lebih bernilai daripada keberhasilan instan.
Rasul Paulus mengingatkan:
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
(1 Korintus 3:6)
Tugas manusia adalah menanam dan menyiram dengan setia. Pertumbuhan iman tetap karya Allah.
Dalam kebudayaan Jawa dikenal ungkapan memayu hayuning bawana—merawat keindahan dan keharmonisan dunia. Penginjilan yang berakar pada kearifan lokal adalah bagian dari panggilan ini: menghadirkan Injil bukan sebagai ancaman bagi budaya, melainkan sebagai kabar baik yang memulihkan kehidupan.
Budaya bukan pesaing iman. Ia adalah tanah tempat Injil berinkarnasi.
Dan ketika Injil disampaikan dengan rasa, laku, dan hikmat lokal, ia tidak hanya didengar, tetapi diterima dan dihidupi.
Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)


