Ketika Hidup Diuji, dan Tuhan Menjadi Satu-Satunya Sandaran
Pelitakota.id Ada fase dalam kehidupan ketika kita berada di posisi kuat.
Kita mampu membantu.
Kita menjadi tempat bersandar.
Kita dicari saat orang lain mengalami kesulitan.
Namun ada juga fase yang tidak banyak diketahui orang —
fase ketika kita diam-diam lelah.
Lelah karena sering diminta tolong.
Lelah karena hanya dicari saat dibutuhkan.
Lelah karena ketika kita sendiri bergumul, tidak banyak yang benar-benar hadir.
Dalam pengalaman hidup, kita belajar bahwa kekecewaan terbesar bukan terletak pada materi yang diberikan, melainkan pada rasa yang tidak dihargai.
Di titik inilah Tuhan mulai berbicara dengan cara yang lebih dalam.
Ketika Sandaran Itu Salah, Hati Menjadi Rapuh
Banyak orang tanpa sadar menggantungkan ketenangan hidupnya pada manusia — pada pengakuan, pada kesetiaan, pada balasan kebaikan.
Padahal Alkitab telah mengingatkan:
“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN.”
— Yeremia 17:5
Ayat ini bukan berarti kita tidak boleh percaya kepada sesama.
Namun ini adalah peringatan agar kita tidak menjadikan manusia sebagai fondasi utama kehidupan.
Karena manusia bisa berubah.
Situasi bisa berganti.
Hubungan bisa renggang.
Tetapi Tuhan tidak pernah berubah.
Sebaliknya firman Tuhan menegaskan:
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
— Yeremia 17:7
Ketika hidup benar-benar bersandar kepada Tuhan, kekuatan itu tidak lagi bergantung pada sikap orang lain.
Kemudahan yang Tuhan Berikan Tidak Selalu Instan
Dalam pengalaman nyata, kemudahan dari Tuhan sering kali tidak datang dalam bentuk masalah yang langsung hilang.
Kemudahan itu hadir dalam bentuk:
- Hati yang tidak pahit walau dikecewakan
- Pikiran yang jernih saat harus mengambil keputusan
- Keberanian untuk berkata “cukup” tanpa merasa bersalah
- Damai yang tetap tinggal di tengah tekanan
Firman Tuhan berkata:
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”
— 1 Petrus 5:7
Memelihara berarti menjaga, menopang, dan tidak membiarkan kita hancur oleh keadaan.
Bahkan Rasul Paulus yang mengalami penderitaan besar dapat berkata:
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
— Filipi 4:13
Ini bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan kesaksian iman dari pengalaman hidup yang ditempa oleh ujian.
Menjadi Baik Tanpa Kehilangan Ketegasan
Hidup mengajarkan bahwa kasih harus berjalan bersama kebijaksanaan.
Kita bisa tetap menjadi pribadi yang peduli tanpa menjadi pribadi yang dimanfaatkan.
Kita bisa tetap menolong tanpa kehilangan harga diri.
Kita bisa tetap mengasihi tanpa mengorbankan kesehatan hati.
Mazmur mengingatkan:
“TUHAN adalah gunung batuku dan kubu pertahananku dan penyelamatku.”
— Mazmur 18:3
Ketika Tuhan menjadi gunung batu, kita tidak mudah goyah.
Ketika Tuhan menjadi kubu pertahanan, kita tidak mudah hancur oleh kekecewaan.
Introspeksi yang Menguatkan
Renungan ini bukan hanya tentang orang yang datang ketika membutuhkan.
Ini tentang bagaimana kita memposisikan Tuhan dalam hidup kita.
Apakah kita sungguh-sungguh bersandar kepada-Nya?
Ataukah kita masih menggantungkan ketenangan pada manusia?
Sesulit apa pun hidup ini, ketika kita bersandar kepada Tuhan, kemudahan pasti ada.
Mungkin bukan dalam bentuk yang kita harapkan,
tetapi selalu dalam bentuk yang kita butuhkan.
Orang boleh datang dan pergi.
Orang boleh ingat hanya saat perlu.
Namun Tuhan tidak pernah hadir hanya di musim susah.
Dia setia.
Dan dari kesetiaan itulah kekuatan kita lahir.
Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


