Ketika Firman Tuhan Diragukan, Siapa yang Sebenarnya Buta?

Spread the love

Ketika Firman Tuhan Diragukan, Siapa yang Sebenarnya Buta?

Yohanes 8:12–20

Di zaman ketika segala sesuatu harus diverifikasi oleh data, grafik, dan algoritma, Firman Tuhan kerap ditaruh di ruang tunggu. Banyak orang tidak menolak Tuhan secara terbuka, tetapi menunda percaya sampai Tuhan mampu membuktikan diri-Nya sesuai logika manusia. Iman pun berubah menjadi sikap wait and see, bukan lagi percaya dan taat.

Pertanyaannya tajam dan jujur: apakah Firman Tuhan yang kurang terang, atau hati manusia yang telah kehilangan kemampuan untuk melihat?

Yesus berkata dengan sangat tegas, “Akulah terang dunia” (Yoh. 8:12). Pernyataan ini bukan puisi rohani, melainkan klaim absolut yang mengguncang seluruh sistem berpikir manusia. Dan seperti biasa, orang Farisi bereaksi dengan kecurigaan. Mereka menuntut bukti, saksi, dan legalitas. Bagi mereka, kebenaran harus tunduk pada standar manusia.

Ada sebuah kisah sederhana:
Seorang buta sejak lahir diajak berdiri di bawah matahari siang hari. Orang-orang berkata kepadanya, “Inilah matahari, sumber terang dunia.”
Namun ia menjawab, “Aku tidak merasakannya. Aku tidak melihat apa pun. Buktikan padaku bahwa matahari itu ada.”

Masalahnya bukan pada matahari. Matahari tetap bersinar dengan kekuatan yang sama. Persoalannya adalah ketidakmampuan mata sang buta untuk menangkap terang.

Demikian pula orang Farisi. Terang itu berdiri tepat di hadapan mereka, tetapi hati mereka telah lama tertutup oleh kesombongan rohani. Mereka bukan kekurangan bukti, melainkan kehilangan kerendahan hati untuk percaya.

Orang Farisi sangat religius, hafal hukum Taurat, dan disiplin beribadah. Namun iman mereka dibelenggu oleh logika yang merasa berhak mengadili Allah. Di sinilah iman runtuh: ketika akal manusia diposisikan sebagai hakim tertinggi atas wahyu ilahi.

Firman Tuhan tidak pernah berjanji untuk selalu memuaskan rasa ingin tahu manusia, tetapi selalu menuntut ketaatan. “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Kor. 5:7).

Bayangkan seorang pendaki yang tersesat di hutan. Ia memiliki kompas yang berfungsi sempurna, tetapi peta di tangannya sudah usang dan salah arah. Alih-alih mengikuti kompas, ia bersikeras mempercayai peta lama itu karena terlihat lebih masuk akal baginya. Akhirnya ia semakin jauh tersesat.

Firman Tuhan adalah kompas ilahi. Dunia menawarkan peta—ilmiah, rasional, modern—tetapi sering kali peta itu tidak membawa manusia pada keselamatan. Banyak orang percaya memilih mengikuti peta dunia karena terlihat logis, lalu mempertanyakan kompas Tuhan ketika arah hidup mulai kacau.

Yesus sebagai Terang tidak hanya menunjukkan apa yang benar, tetapi ke mana kita harus melangkah. Masalahnya, banyak orang ingin terang tanpa harus mengikuti Sang Terang.

Keraguan sering muncul saat hidup tidak berjalan sesuai doa. Ketika penderitaan datang, iman mulai ditimbang dengan perasaan. Namun di titik ini, orang percaya diuji: apakah kita kembali kepada Firman, atau mencari pembenaran dari dunia?

Dunia bisa menjelaskan mengapa kita menderita, tetapi hanya Kristus yang memberi makna atas penderitaan itu. “Barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan” (Yoh. 8:12).

Yesus menegaskan, “Aku tahu dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi” (Yoh. 8:14). Pernyataan ini bukan keangkuhan, melainkan kebenaran ilahi. Tanpa Kristus, manusia akan selalu tersesat—betapapun cerdas, religius, dan modernnya ia.

Firman Tuhan tidak sedang diadili oleh zaman. Justru zaman ini yang sedang diadili oleh responsnya terhadap Firman.

Maka, percayalah bukan karena Firman Tuhan dapat dibuktikan oleh dunia, tetapi karena Allah telah menyatakan diri-Nya melalui Kristus. Terang itu tidak pernah redup. Yang sering padam hanyalah keberanian manusia untuk percaya.

Sebab ketika Firman Tuhan diragukan, yang sesungguhnya sedang diuji bukan Firman itu—melainkan iman kita sendiri.


Ev. Kefas Hervin Devananda, S.Th., M.Pd.K

Tinggalkan Balasan