Kesaksian Viral: Saat Nafas Tinggal Hitungan Angka, Tuhan Menulis Mukjizat yang Tak Terbantahkan
Oleh: Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
Bogor,11 Pebruari 2026 Akhir Oktober 2025 adalah masa yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Hari itu, tubuh saya seperti kehilangan tenaga. Nafas saya terasa berat, pendek, dan menyakitkan. Setiap tarikan nafas seperti perjuangan antara hidup dan mati.
Ketika dicek di rumah, angka saturasi oksigen saya hanya menunjukkan 73. Angka itu bukan sekadar angka. Itu adalah sinyal darurat. Itu adalah batas di mana kehidupan manusia mulai berada di ujung tanduk.
Keluarga saya panik. Tanpa banyak bicara, saya langsung dilarikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju IGD, saya hanya bisa berdoa dalam hati. Tidak ada kalimat indah. Tidak ada doa panjang. Hanya satu bisikan lirih:
“Tuhan… jangan tinggalkan saya.”
Saat tiba di IGD, tim medis bergerak cepat. Oksigen dipasang. Pemeriksaan darah dilakukan. Saturasi saya sempat naik menjadi 83, tetapi kondisi saya masih sangat kritis. Tidak lama kemudian, hasil laboratorium keluar. Dokter jaga memandang saya dengan wajah serius.
Ia menjelaskan adanya dugaan gangguan serius pada ginjal saya. Bahkan muncul kemungkinan bahwa saya harus menjalani cuci darah.
Saat itu, dunia saya terasa runtuh. Banyak hal berputar dalam pikiran saya. Keluarga… pelayanan… panggilan hidup… bahkan ketakutan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Sebagai seorang pelayan Tuhan, saya sering menguatkan orang lain. Tetapi malam itu, saya belajar bagaimana rasanya berada di posisi orang yang membutuhkan penguatan.
Saya hanya bisa diam. Menangis dalam hati. Dan berserah.
Keesokan harinya, dokter spesialis penyakit dalam datang melakukan visit. Ia menanyakan riwayat penyakit saya. Saya menjelaskan bahwa meskipun saya pernah beberapa kali dirawat di rumah sakit, tetapi rumah sakit ini adalah pertama kalinya saya menjalani rawat inap, sehingga tidak ada catatan medis lengkap.
Dokter kemudian menjadwalkan pemeriksaan USG ginjal untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Saat menunggu pemeriksaan itu, saya mengalami pergumulan iman yang sangat dalam. Ada ketakutan manusiawi. Ada kecemasan. Tetapi di tengah semuanya, ada satu suara kecil dalam hati saya yang berkata:
“Percaya saja… Tuhan tidak pernah salah.”
Proses USG pun dilakukan. Saya berbaring sambil berdoa tanpa suara. Setiap detik terasa panjang. Setiap gerakan alat USG seperti menunggu vonis kehidupan.
Dan kemudian… dokter menyampaikan hasilnya.
Dugaan pengecilan ginjal tidak ditemukan sama sekali.
Bahkan dokter mengatakan sesuatu yang membuat saya dan keluarga saya terdiam penuh haru:
Ginjal saya bukan hanya normal… tetapi ukurannya lebih besar dari ukuran rata-rata ginjal manusia dan dalam kondisi sangat baik.
Saat kalimat itu keluar dari mulut dokter, air mata saya jatuh tanpa bisa ditahan. Itu bukan sekadar kabar medis. Itu adalah jawaban doa. Itu adalah sentuhan Tuhan yang nyata.
Saya langsung teringat firman Tuhan:
“Aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.”
(Mazmur 3:5)
Hari itu saya belajar satu pelajaran besar tentang iman. Kadang Tuhan mengizinkan kita berjalan sampai ke ujung ketakutan, supaya kita melihat bahwa tangan-Nya jauh lebih kuat daripada semua diagnosis manusia.
Saya menyadari… Tuhan tidak selalu mencegah badai datang. Tetapi Tuhan selalu menentukan bagaimana badai itu berakhir.
Pengalaman ini mengubah cara pandang saya tentang hidup. Saya sadar, manusia sering merasa kuat ketika sehat. Tetapi ketika tubuh melemah, barulah kita sadar bahwa nafas pun adalah anugerah.
Firman Tuhan berkata:
“Akulah TUHAN yang menyembuhkan engkau.”
(Keluaran 15:26)
Kesaksian ini bukan tentang saya yang kuat. Ini tentang Tuhan yang setia. Tuhan yang tidak pernah terlambat. Tuhan yang bekerja bahkan ketika manusia sudah menyerah.
Hari ini saya berdiri dan bersaksi dengan satu keyakinan yang tidak bisa digoyahkan:
Mukjizat Tuhan itu nyata.
Mukjizat Tuhan itu hidup.
Dan mukjizat Tuhan tidak pernah salah alamat.
Jika hari ini Anda sedang bergumul dengan penyakit… dengan ketakutan… dengan pergumulan hidup yang terasa gelap… percayalah…
Tuhan masih bekerja.
Mungkin jalannya tidak selalu seperti yang kita inginkan. Tetapi Tuhan selalu bekerja untuk mendatangkan kebaikan.
Karena di tangan Tuhan, harapan tidak pernah mati.
Dituliskan oleh Kefas Hervin Devananda kepada Meja Redaksi


