Pelitakota.id Bayangkan seorang pemuda tampan, penuh harapan, dan berpotensi besar. Namun, takdir membawanya ke jalan yang gelap dan berbahaya. Absalom, putra Raja Daud, lebih dari sekadar tokoh sejarah; ia adalah simbol dari bahaya yang mengintai di balik hati yang dipenuhi kepahitan—sebuah racun yang mampu menghancurkan segalanya.
Kisah Absalom bermula dari luka yang tak terselesaikan dan dendam yang dipupuk. Dari sanalah muncul api yang tak bisa lagi dikendalikan. Kepahitan itu seperti bara yang terus membara, menunggu waktu untuk meledak dan meluluhlantakkan segalanya: keluarga, kerajaan, bahkan jiwanya sendiri. Ibrani 12:15 memperingatkan kita, “Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah; supaya jangan ada akar pahit yang tumbuh dan menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang.”
Kepahitan adalah musuh yang diam-diam merusak dari dalam. Ia menggerogoti hati, membutakan mata dari keadilan dan kasih, serta menumbuhkan kebencian yang tak berujung. Absalom membiarkan luka Tamar, adiknya, menjadi bara yang membakar seluruh relung hatinya. Ia memilih membalas dengan darah, dan dari situlah, kepahitan itu menyebar seperti virus mematikan.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah tragedi yang tak terhindarkan. Absalom memanfaatkan ketidakpuasan rakyat, memupuk kebencian, dan mengobarkan perang saudara yang mengorbankan nyawa serta kedamaian bangsa. Seperti yang tertulis dalam 2 Samuel 15:6, ia mencuri hati orang Israel dengan memberikan penghormatan dan perhatian kepada mereka yang datang mencari keadilan kepada raja. Ia percaya bahwa kekuasaan dan balas dendam akan menyembuhkan luka. Namun, kenyataannya? Kepahitan hanya memperpanjang penderitaan dan memperdalam luka.
Kisah Absalom mengajarkan bahwa hati yang pahit adalah api yang tak pernah padam. Luka yang tidak disembuhkan akan menimbulkan kerusakan yang tak terelakkan. Kepahitan itu seperti api yang terus membara, membakar relasi, menebar luka, dan mengikis harapan.
Hingga akhirnya, Absalom jatuh dalam perang yang ia bangun sendiri. Ia tewas di pohon, dan hati Daud pun hancur berkeping-keping. Dalam ratapan penuh duka, ia menjerit, “Anakku, anakku! Andai aku mati menggantikanmu…” Sebuah pengakuan pedih bahwa luka yang disebabkan oleh kepahitan tak hanya menghancurkan musuh, tetapi juga menghancurkan hati orang yang mencintai.
Kisah Absalom adalah cermin yang jujur tentang bahaya terbesar yang mengintai setiap hati manusia: kepahitan. Ia bisa menyusup perlahan, menumbuhkan kebencian, dan akhirnya membakar segalanya. Namun, di tengah kegelapan ini, kisah ini juga mengingatkan kita bahwa pengampunan adalah jalan keluar dari api tersebut.
Jangan biarkan akar pahit tumbuh dalam hati. Bersihkan luka dengan kasih, maaf, dan rekonsiliasi. Karena, jika tidak, yang tersisa hanyalah puing-puing dari hati yang dulu penuh harapan.
Ingatlah, kekuatan terbesar bukanlah kekuasaan atau kekayaan. Kekuatan sejati ada di tangan mereka yang mampu mengendalikan hati dari kepahitan, memaafkan luka, dan membangun kedamaian. Karena, hanya dengan mengampuni, kita mampu memadamkan api yang membakar dari dalam. Efesus 4:31-32 mengingatkan kita, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Jadilah pribadi yang berani melawan kepahitan. Karena dunia ini membutuhkan hati yang mampu menyembuhkan, bukan hati yang merusak. Jangan biarkan luka masa lalu mengendalikan hidupmu. Bangkit, maafkan, dan jalani hidup dengan penuh kasih dan keberanian.
Kisah Absalom mengajarkan kita satu hal penting: Kepahitan adalah musuh yang paling berbahaya. Namun, pengampunan dan kasih sayang adalah senjata yang mampu mengalahkannya.
Jangan biarkan api itu membakar segalanya. Sebaliknya, nyalakan api kasih dan pengampunan dalam hati. Karena di situlah kekuatan sejati kita terletak.
Oleh Kefas Hervin Devananda


