Kedekatan yang Kehilangan Tata Krama: Ketika Pertemanan Menjadi Ruang Paling Aman untuk Melukai

Spread the love

Pelitakota.id Ada ironi yang jarang diakui secara jujur:
orang yang paling dekat sering merasa paling bebas untuk tidak menghargai.

Kedekatan yang seharusnya melahirkan tanggung jawab justru menjadi alasan untuk bersikap sembarangan. Kata-kata tajam dikeluarkan tanpa empati. Janji dilanggar tanpa rasa bersalah. Sikap kasar dibungkus dengan dalih keakraban. Semua disahkan oleh satu kalimat yang terdengar akrab tapi beracun:
“Kita kan sudah dekat.”

Orang Jawa sejak dulu sudah mengingatkan:
“Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”
(Harga diri seseorang tampak dari ucapannya.)

Firman Tuhan sejalan dengan itu:

“Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan menyembuhkan tulang-tulang.”
(Amsal 16:24)

Jika kedekatan justru melahirkan tutur kata yang melukai, maka yang rusak bukan sekadar relasi—tetapi martabat.

Bayangkan sebuah rumah yang awalnya dipagari dengan baik. Pagar itu bukan tanda curiga, melainkan penjaga rasa hormat.
Namun karena tetangganya sering keluar-masuk, pemilik rumah berkata, “Ah, sudah dekat. Untuk apa pagar?”
Pagar pun diruntuhkan.

Awalnya terasa bebas.
Lama-lama, halaman diinjak seenaknya.
Barang dipakai tanpa izin.
Dan ketika rumah itu rusak, sang tetangga berkata, “Kan kita sudah seperti keluarga.”

Begitulah banyak pertemanan hari ini:
pagar etika diruntuhkan atas nama kedekatan, lalu kerusakan dianggap wajar.

Alkitab mengingatkan dengan keras:

“Segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan semuanya berguna.”
(1 Korintus 6:12)

Kedekatan tanpa batas bukan keintiman, melainkan kelalaian yang dilegalkan.

Ada kedekatan yang sehat. Ada pula kedekatan yang menyimpang.
Yang menyimpang selalu ditandai oleh satu ciri: hilangnya rasa hormat.

Orang Jawa menyebutnya:
“Wani ngremehake wong sing wis nulungi.”
(Berani meremehkan orang yang pernah menolong.)

Firman Tuhan menegur sikap ini:

“Janganlah kamu membalas kejahatan dengan kejahatan atau caci maki dengan caci maki.”
(1 Petrus 3:9)

Ironisnya, semakin dekat seseorang, semakin ia merasa berhak berkata kasar. Seolah-olah keakraban adalah kartu bebas etika.

Ada orang yang membeli sepatu baru—dirawat, dibersihkan, disimpan rapi.
Namun ketika sepatu itu sudah lama dipakai, mulai usang, ia diperlakukan seenaknya: diinjak lumpur, ditendang ke sudut, dipakai tanpa peduli.

Begitu pula pertemanan.
Yang baru dihormati.
Yang lama sering diremehkan.

Padahal nilai sepatu tidak berkurang karena usia,
dan nilai pertemanan tidak berkurang karena kedekatan—kecuali oleh sikap kita sendiri.

Alkitab berkata:

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”
(Roma 12:10)

Hormatilah yang dekat, bukan hanya yang baru.

Ada kesombongan yang tidak berisik, tetapi mematikan: merasa terlalu dekat hingga berhenti rendah hati. Merasa berjasa, lalu menuntut tanpa batas. Merasa paham, lalu berhenti mendengar.

Pribahasa Jawa mengingatkan:
“Yen wis krasa paling cedhak, asring dadi paling sembrana.”
(Ketika merasa paling dekat, sering menjadi paling ceroboh.)

Firman Tuhan menegaskan:

“Kesombongan mendahului kehancuran.”
(Amsal 16:18)

Kedekatan tanpa kerendahan hati akan berubah menjadi dominasi.

Bayangkan sebuah kursi yang selalu diduduki oleh orang yang sama. Karena merasa kursi itu “milik sendiri”, ia duduk seenaknya, melonjak, bahkan menginjak sandaran.

Ketika kursi itu patah, ia marah: “Kenapa kursinya rapuh?”
Padahal yang rapuh bukan kursinya—tetapi cara memperlakukannya.

Begitulah pertemanan yang rusak.
Bukan karena relasinya lemah,
tetapi karena tidak dijaga.

Tidak ada hubungan yang sehat tanpa batas.
Batas bukan jarak, tetapi perlindungan.

Orang Jawa berkata:
“Tepa slira, empan papan.”
(Tahu menempatkan diri dan menghargai perasaan orang lain.)

Firman Tuhan menegaskan:

“Kasih tidak berlaku tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.”
(1 Korintus 13:5)

Jika sebuah hubungan terus melukai martabat, maka mempertahankannya tanpa koreksi bukan kesetiaan—melainkan pembiaran.

Mendekat itu mudah.
Menjaga itu mahal.

Pertemanan sejati bukan soal seberapa sering bersama, tetapi seberapa sungguh saling menghormati.
Karena kedekatan tanpa adab bukan persahabatan—melainkan kelelahan yang menunggu kehancuran.

Orang Jawa menutup dengan bijak:
“Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.”
(Kerukunan membawa kekuatan, pertikaian membawa kehancuran.)

Dan Firman Tuhan menggemakannya:

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”
(Roma 12:18)


Oleh Romo Kefas

Tinggalkan Balasan