Kebenaran yang Tak Gratis: Ketika Media Independen Mengajarkan Kedewasaan Publik

Spread the love

Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Jika versi viral biasanya penuh nada marah, sindiran keras, dan tamparan terbuka, kali ini mari kita melihatnya dari sisi yang lebih dalam—lebih reflektif.

Barangkali persoalannya bukan semata-mata tentang siapa yang tidak menghargai media. Barangkali ini tentang fase kedewasaan kita sebagai masyarakat digital yang memang belum selesai.

Kita hidup di zaman di mana informasi terasa seperti udara: selalu ada, mudah diakses, dan seolah tidak perlu dibayar. Berita hadir di layar tanpa kita pernah melihat proses di baliknya. Kita membaca, menggulir, membagikan, lalu berpindah ke konten berikutnya.

Tanpa sadar, kita mulai menganggap informasi sebagai sesuatu yang otomatis.

Padahal tidak ada yang otomatis dalam jurnalisme.

Media online independen sering digambarkan sebagai pihak yang terus berjuang—dengan biaya sendiri, risiko sendiri, dan tekanan sendiri. Itu benar. Namun melihat mereka hanya sebagai “korban sistem” juga tidak sepenuhnya adil.

Mereka adalah pilar kecil yang justru menunjukkan daya tahan luar biasa.

Dalam keterbatasan, mereka tetap menulis.
Dalam tekanan, mereka tetap menjaga etika.
Dalam ketidakpastian ekonomi, mereka tetap mempertahankan integritas.

Mereka mengajarkan satu hal penting: bahwa kebenaran memang tidak gratis, tetapi tetap layak diperjuangkan.

Banyak orang belum sepenuhnya memahami bagaimana media bekerja. Mereka mungkin tidak tahu bahwa domain harus diperpanjang, server harus dibayar, dan liputan membutuhkan biaya nyata. Mereka tidak melihat tekanan hukum atau beban psikologis yang menyertai setiap berita.

Ini bukan selalu tentang kurangnya empati. Sering kali ini tentang kurangnya literasi.

Kita sedang berada dalam proses belajar—belajar menjadi masyarakat digital yang dewasa.

Belajar bahwa ruang publik bukan ruang tanpa biaya.
Belajar bahwa profesionalisme membutuhkan dukungan.
Belajar bahwa apresiasi bukan hanya ucapan, tetapi juga kesadaran.

Alih-alih menempatkan narasumber dan media dalam posisi berhadap-hadapan, mungkin sudah saatnya hubungan itu dibaca ulang sebagai kemitraan sosial.

Media membutuhkan informasi dan kepercayaan.
Narasumber membutuhkan ruang publik.
Publik membutuhkan kebenaran yang terverifikasi.

Ketika ketiganya berjalan dengan pemahaman yang seimbang, ekosistem akan lebih sehat.

Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa ekosistem digital memang timpang. Platform besar menguasai distribusi dan keuntungan. Media kecil harus berjuang lebih keras untuk sekadar bertahan.

Dalam konteks ini, keberadaan media independen justru menjadi penting. Mereka menjaga keberagaman perspektif. Mereka memastikan bahwa tidak semua suara ditentukan oleh kekuatan modal.

Dan itu adalah fungsi demokrasi yang tidak ternilai.

Tulisan ini bukan tentang menyalahkan siapa pun. Ini tentang mengajak kita melihat lebih jernih.

Ketika kita membaca berita, kita sedang menikmati hasil kerja intelektual, etika, dan keberanian. Ketika kita meminta diberitakan, kita sedang menggunakan ruang yang dibangun dengan pengorbanan.

Kesadaran sederhana itu sudah cukup untuk mengubah cara kita bersikap.

Karena pada akhirnya, menjaga media independen bukan hanya soal menyelamatkan satu profesi. Ia adalah bagian dari menjaga kualitas percakapan publik kita.

Dan kualitas percakapan publik adalah cermin dari kualitas bangsa itu sendiri.

Tinggalkan Balasan