Jangan Cuma Peduli Diri Sendiri – Kasih Pada Saudara yang Sakit dan Kawan Sepekerja Itu Yang Bikin Kita Kuat

Spread the love

Pelitakota.id
Bayangkan jika kita semua hanya memikirkan diri sendiri: saudara yang sakit terlantar di rumah, kawan sekerja dalam pelayanan bingung sendirian, dan kita hanya datang ketika butuh bantuan dari mereka. Bukankah itu menyakitkan? Tuhan tidak menciptakan kita untuk hidup seperti itu – Dia menciptakan kita sebagai makhluk yang “bersama”, karena Dia sendiri adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang hidup dalam hubungan kasih yang abadi. Inilah landasan dari panggilan Tuhan agar kita memperhatikan sesama – tapi seringkali, egoisme membuat kita lupa: kita tidak mau peduli karena hal itu tidak berhubungan dengan kepentingan diri kita.

Kita sering menjadikan diri sebagai pusat semesta. Ketika saudara seiman sedang kesusahan di rumah sakit, kita malas mengunjungi karena itu memakan waktu. Ketika kawan sekerja dalam pelayanan menghadapi masalah, kita malas menolong karena itu tidak menguntungkan pekerjaan kita. Yang paling menyakitkan: kita selalu manfaatkan mereka hanya untuk kepentingan kita sendiri.

Apalagi dalam dunia pelayanan – seringkali ketika jemaat dalam kesulitan, pendeta hanya menyuruh “berdoa dan mengandalkan Tuhan” tanpa memberikan perhatian atau bantuan nyata. Sebaliknya, ketika pendeta kesulitan dalam pelayanan, dia selalu menantang jemaat untuk “berkorban lebih banyak” dengan alasan “untuk melayani Tuhan“. Ini adalah wujud egoisme yang tersembunyi – meminta dari yang lain tapi tidak mau memberinya, menggunakan nama Tuhan untuk kepentingan pelayanan sendiri tanpa memikirkan beban yang ditanggung jemaat.

Ini semua bertentangan dengan inti ajaran Firman Tuhan – dan juga dengan pribahasa Jawa yang bilangnya: “Kula winangun, kowe winangun, praja kasepang” (Aku bangun, kamu bangun, negeri akan makmur). Artinya, kebahagiaan dan kemakmuran tidak bisa dicapai sendirian – kita butuh satu sama lain, bahkan tanpa pamrih.

Bayangkan ada dua tempat: satu adalah pohon yang tumbuh sendiri di padang kosong, dan yang lain adalah hutan yang penuh dengan berbagai pohon. Pohon yang sendiri selalu khawatir hanya tentang dirinya – ketika pohon lain layu karena sakit, dia tidak peduli bahkan malah mengambil ruang dan cahaya untuk dirinya. Sementara itu, di hutan, setiap pohon saling menopang: pohon yang kuat menahan angin untuk yang lemah, pohon yang sehat memberikan nafas untuk yang sakit, dan akar-akar saling terjalin. Ketika badai datang, pohon yang sendiri mudah tumbang – tapi hutan yang padat tetap berdiri kokoh.

Inilah gambar kita sebagai umat Tuhan: ketika kita terjebak dalam ego (seperti pohon sendiri), kita lemah dan menyakiti yang lain. Tapi ketika kita memperhatikan saudara yang sakit dan kawan sekerja yang kesusahan (seperti hutan yang padat), kita menjadi kuat dan mampu menghadapi segala cobaan – bahkan tanpa manfaat langsung untuk diri kita.

1. Kasih sebagai Cerminan Sifat Tuhan (1 Yohanes 4:8)
“Barangsiapa tidak menyayangi, tidak mengenal Tuhan, karena Tuhan itu kasih.” Teologis, kasih kita kepada sesama bukan hanya perintah – tapi bukti bahwa kita mengenal Tuhan yang itu sendiri adalah kasih. Ketika kita tidak peduli pada saudara yang sakit, memanfaatkan kawan sekerja, atau bahkan dalam pelayanan hanya meminta tanpa memberinya, kita menolak untuk mencerminkan sifat Tuhan. Ini sejalan dengan pribahasa Jawa: “Ingat ingat inggilkan orang lain, anggep anggep rendah diri” – menghargai sesama adalah bukti kita tidak terjebak dalam ego.
2. Panggilan untuk Melewati Ego (Filipi 2:3-4)
“Janganlah seorang menilai diri lebih tinggi dari yang seharusnya… Jangan hanya memikirkan apa yang baik untuk diri sendiri, tetapi juga memikirkan apa yang baik untuk orang lain.” Ayat ini menekankan: kita bukan pusat semesta – Tuhanlah yang berwenang. Melewati ego berarti mengenali bahwa kita semua sama di hadapan-Nya dan membutuhkan satu sama lain, termasuk dalam relasi pendeta-jemaat. Seperti yang dikatakan pribahasa Jawa: “Rembug rembug basa, mligi mligi rahayu” (Berkumpul berbicara, saling membantu, akan meraih kebahagiaan).
3. Salib sebagai Contoh Pengorbanan Tanpa Pamrih (Matius 20:28)
“Seperti Anak Manusia tidak datang untuk dihidupi oleh orang lain, melainkan untuk hidupi orang lain, dan untuk memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi banyak orang.” Yesus adalah contoh mutlak melampaui ego: Dia mengorbankan diri untuk orang yang menolak-Nya, tanpa mengharapkan apa-apa. Ketika kita tidak peduli pada saudara yang sakit, atau dalam pelayanan hanya meminta jemaat berkorban tanpa juga berkorban sendiri, kita melupakan makna salib. Ini sesuai dengan pribahasa Jawa: “Kepiye carane arep maju, yen kancamu ketinggalan” (Bagaimana mau maju, kalau temanmu tertinggal).
4. Saling Berkunjung dan Berdoa sebagai Tanda Kehidupan Umat (Ibrani 13:1-2; 1 Tesalonika 5:11)
“Jangan tinggalkan kebiasaan saling menyayangi dan saling mengingati…” dan “Saling mendorong dalam kebaikan dan pekerjaan yang baik…” Kehidupan umat Tuhan diwujudkan dalam hubungan. Mengunjungi saudara yang sakit, menolong kawan sekerja, bahkan pendeta yang peduli pada jemaat dan jemaat yang mendukung pendeta dengan tulus – semua itu bukanlah tindakan sepele, tapi bentuk pelayanan yang menunjukkan kita adalah satu tubuh di Kristus (1 Korintus 12:27). Seperti pribahasa Jawa: “Nginep nginep omah, ketemu ketemu tresno” (Berkunjung ke rumah teman, bertemu bertemu akan tercipta kasih).

Dari semua pembahasan ini, kita melihat bahwa kasih sesama bukanlah pilihan – melainkan kewajiban yang berasal dari sifat Tuhan dan makna salib Yesus. Apakah kita sudah terlalu terjebak dalam kepentingan diri sampai lupa bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus, di mana setiap anggota saling membutuhkan? Apakah kita masih tidak peduli pada saudara yang sakit, memanfaatkan kawan sekerja, atau bahkan dalam pelayanan hanya meminta tanpa memberinya?

Melewati ego bukanlah hal yang mudah – tapi ini adalah jalan yang Yesus telah singgahi, dan jalan yang Roh Kudus akan bantu kita lewati. Seperti yang dikatakan dalam Galatia 6:2: “Salurkan beban satu sama lain, dan demikian kamu akan menepati hukum Kristus.” Hukum Kristus adalah hukum kasih – dan ketika kita memperhatikan saudara yang sakit, kawan sekerja yang kesusahan, serta menjaga relasi tulus dalam pelayanan tanpa pamrih, kita tidak hanya menepati perintah Tuhan – tapi juga menemukan keaslian kasih yang sesungguhnya, yang menjadikan kita kuat bersama sebagai umat yang dicintai-Nya.

Semoga Roh Kudus membuka hati kita untuk melihat sesama dengan mata kasih, seperti yang Yesus telah melihat kita.

Oleh Kefas Hervin Devananda

Tinggalkan Balasan