Pelitakota.id Bayangin deh: kamu lagi ngadepin masalah — kerja terbebani, urusan pribadi bikin pusing, atau rencana yang gagal. Apa yang kamu lakukan pertama kali? Cuma duduk sendirian ngomong “ah, kenapa ya aku yang selalu susah?” atau berhenti sejenak, pikirkan lagi, dan cari cara keluar yang benar?
Nah, di kehidupan nyata — terutama sebagai saudara seiman — berkontemplasi itu cara keren buat ganti “ngeluh” jadi “nyari solusi” yang bikin jalan hidup kita lebih jelas dan penuh makna. Seperti yang ditulis di Mazmur 1:2: “tetapi yang kesukaan nya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam” — ini sesuai dengan pribahasa Jawa “alon-alon waton kelakon” (pelan-pelan asal terlaksana) loh, karena berkontemplasi bikin kita tidak terburu-buru ngeluh, tapi fokus pada hal yang bisa kita ubah!
Berkontemplasi itu gampang banget: “MERENUNGKAN DIRI SENDIRI dan Firman Tuhan dengan hati yang tenang, sambil berkomunikasi sama Tuhan” — bukan cuma mengeluh tentang masalah, tapi mencari makna dan solusi dari setiap hal yang terjadi.
Sama kayak kalo kamu mau memperbaiki sepeda yang mogok: kamu tidak cuma ngomong “ah, sepedaku jelek” — tapi cek roda, rantai, dan rem untuk lihat mana yang rusak. Nah, berkontemplasi itu kayak gitu — merenungkan hidup kita untuk lihat apakah kita sedang mengikuti kehendak Tuhan atau cuma terjebak di zona ngeluh.
Cara kerjanya juga gampang, cuma butuh waktu sejenak (pagi sambil berdoa, sore di taman, atau malam sebelum tidur) dan lakukan dua hal:
1. Merenungkan: “Hari ini, apa yang aku lakuin? Apa yang bikin aku ngeluh? Apakah sesuai dengan Firman Tuhan?” Seperti yang diajarkan di 2 Korintus 13:5: “Periksa diri Anda sendiri apakah Anda benar-benar beriman. Uji diri Anda sendiri.” Ini sejalan dengan pribahasa “aji ning diri saka lathi” (harga diri terletak pada ucapannya dan tindakannya) — kita cek apakah ucapan kita cuma ngeluh atau bermanfaat.
2. Bercakap-cakap sama Tuhan: Akui kesalahan kalo ada, minta maaf (sama Tuhan dan orang yang kita salahkan), dan tanya bimbingan untuk berubah. Tuhan sendiri mengundang kita untuk berbicara, seperti di Yeremia 29:13: “Kalau kamu mencari Aku dengan segenap hatimu, niscaya kamu akan menemukan Aku.” Pribahasa “becik ketitik ala ketara” (kebaikan akan nampak) juga mengingatkan kita: jujur saat berkontemplasi bikin kita lebih cepat keluar dari zona ngeluh!
Terkadang kita terlalu terburu-buru mengejar tujuan sampai lupa berhenti. Akhirnya, kalo ada masalah, kita langsung ngeluh tanpa berpikir. Padahal, Tuhan kadang meminta kita berhenti sejenak — bukan untuk berhenti berjuang, tapi untuk merenungkan jalur yang kita lalui apakah masih benar.
Bertindak cepet-cepet tanpa merenungkan bisa bikin kita tersesat — dan semakin banyak ngeluh karena kesalahan yang bisa dihindari. Untuk itu, kita butuh pedoman dari Firman Tuhan, seperti di Mazmur 119:105: “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Pribahasa “ojo kesusu, ndak keblusuk” (jangan terburu-buru, nanti tersesat) pas banget: terburu-buru ngeluh bikin kita lebih bingung, tapi merenungkan bikin jalan lebih jelas!
Berkontemplasi itu BUKAN tentang “terjebak dalam pikiran” atau merasa sedih terus-menerus. Tapi lebih ke “berbicara jujur dan mendalam sama Tuhan” — keren banget kan, punya Tuhan yang selalu siap dengar tanpa pernah marah? Seperti di Yohanes 10:27: “Domba-dombaku mendengar suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.” Ini sesuai dengan “nrimo ing pandum” (menerima apa adanya dengan ikhlas) — kita belajar menerima hal yang tidak bisa diubah, tanpa harus ngeluh terus-menerus.
Di game, kamu butuh rekan tim buat ngebobol level sulit. Di kehidupan juga gitu! Saat kamu mau berkontemplasi, hadirnya saudara seiman itu karunia Allah yang bikin kamu tidak cuma ngeluh sendirian. Mereka bikin semangat, ngasih doa, dan berbagi pengalaman yang bikin kamu lebih ngerti makna hidup.
Ini sesuai dengan Firman Tuhan di Galatia 6:2: “Bertolonganlah menanggung beban mu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Juga di Ibrani 10:24-25: “Kita juga harus saling memacu untuk melakukan kebaikan… jangan malas bertemu bersama, melainkan saling mendorong.” Pribahasa “sedulur sikep” (saudara yang selalu siap membantu) dan “mangan ora mangan nek kumpul” (yang penting kumpul) menggambarkan ini: kumpul sama teman sejawat bikin kita lebih fokus pada kebaikan, bukan cuma ngeluh!
Tanpa teman sejawat, perjalanan iman bisa jadi sepi dan penuh ngeluh. Dengan mereka, kita berbagi renungan dan saling mengingatkan untuk tetap kuat.
Berkontemplasi bukan hal yang dilakukan sekali — ini seperti “isi bensin” untuk perjalanan hidup yang panjang. Setiap hari, kita butuh waktu untuk berhenti, merenungkan, dan berbicara sama Tuhan — agar kita tidak terjebak di zona ngeluh.
Dengan berkontemplasi, kita lebih siap menghadapi tantangan. Seperti di Yesaya 41:10: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan menguatkan, bahkan Aku akan menolong engkau.” Juga di Filipi 4:13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Pribahasa “sabar iku senjata sing paling ampuh” (kesabaran adalah senjata paling ampuh) dan “wong sabar rejekine jembar” (orang sabar rezekinya luas) mengingatkan kita: berkontemplasi bikin kita sabar, tidak cuma ngeluh, dan mendapatkan kekuatan dari Tuhan.
Perjalanan hidup memang panjang dan kadang sulit. Tapi dengan berkontemplasi sebagai bekal, kita akan semakin “level up” menjadi orang yang lebih dekat dengan Tuhan dan jalan hidupnya lebih jelas. Seperti di Yesaya 40:31: “Tetapi orang-orang yang menanti Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu.”
Berkeluh-kesah cuma bikin kita terjebak di masa lalu dan lebih bingung. Berkontemplasi malah bikin kita melihat masa depan dengan harapan dan keberanian. Jadilah saudara Kristen yang “keren” — yang tahu kapan harus berhenti ngeluh, merenungkan diri dengan jujur, berbicara sama Tuhan, dan terus maju ke depan dengan jalan hidup yang lebih jelas dan penuh makna! Seperti yang dikatakan oleh pribahasa “sopo nandur bakal ngunduh” (siapa menanam akan menuai) — kalo kamu menanam berkontemplasi, hasilnya adalah hidup yang lebih damai dan bermanfaat!
Oleh: Kefas Hervin Devananda


