Di mana Janji adalah Firman, dan Amanah adalah Roh Kudus
Pelitakota.id Persahabatan sejati bukanlah sekadar ikatan emosional atau kumpulan kenangan yang menyenangkan. Ia adalah karunia Tuhan yang dijadikan ujung tombak dalam membangun kehidupan yang penuh makna – dan tidak ada bentuk persahabatan yang lebih mulia selain hubungan antara seorang suami dan istri, yang diatur langsung oleh Sang Pencipta. Seperti yang terkandung dalam pribahasa Jawa: “Bojo iku teman sepanjang jalan, tak lekang oleh usia maupun badai” (Istri adalah teman sepanjang jalan, tidak lekang oleh usia maupun badai). Filosofi kudus mengajarkan kita: seorang istri adalah sahabat yang diberikan Tuhan untuk mengiringi perjalanan hidup kita dari awal hingga akhir, menjadi cermin kasih Allah yang terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari.
“Tuhan Allah berkata: ‘Tidak baik kalau manusia itu sendiri seorang diri; akulah yang akan menjadikan penolong baginya yang sesuai dengannya.'” (Kejadian 2:18)
Di tengah badai kehidupan yang terkadang menghanyutkan, suara lembut seorang istri yang mengucapkan “Aku akan selalu ada bersamamu, sebagaimana firman Tuhan yang tetap teguh” menjadi mercusuar yang menerangi jalan kita. Kata-kata ini bukanlah sekadar janji manusiawi, melainkan janji yang diakar pada firman Tuhan – sebuah komitmen yang diukir dalam hati dengan tinta kesetiaan yang diperkuat oleh Roh Kudus. Pribahasa Jawa pun mengingatkan: “Janji ingkang dipun janjikan, kudu dipun tepatin kaya wedhus ingkang dipun kurban” (Janji yang telah diucapkan, harus ditepati seperti domba yang akan dikurbankan).
“Janji Tuhan itu tidak ada yang gagal.” (Yosua 23:14)
Filosofi kudus menyatakan: “Janji yang dibuat dalam kasih dan diperkuat oleh iman adalah permata yang tak lekang oleh waktu.” Seorang istri yang menjadi sahabat sejati adalah yang paling benar menjalankan janji itu – bahkan ketika tubuh menjadi lemah dan usia memutih rambutnya, ia tetap berdiri di sisi kita, menjadi bukti bahwa cinta yang berdasarkan firman Tuhan tidak akan pernah pudar.
Seperti pohon kurma yang selalu memberikan buahnya sepanjang musim, janji seorang istri yang ditepati adalah bukti bahwa hidup kita selalu dipimpin oleh kasih yang kekal.
“Wanita yang bertakwa akan diberi pujian.” (Amsal 31:30)
Ketika Tuhan mempercayakan kita dengan tanggung jawab besar – membangun keluarga, menanamkan nilai-nilai kudus, atau menyebarkan kasih-Nya – seorang istri tidak hanya menjadi mitra dalam menjalankan tugas itu, melainkan juga menjadi penjaga amanah rohani yang paling setia. Filosofi persahabatan dalam pernikahan mengajarkan: menjaga amanah adalah bentuk ibadah yang paling dalam, karena ia melampaui batasan dunia fana dan membawa berkah bagi generasi mendatang. Pribahasa Jawa mengatakan: “Amanah ingkang dipun titipaken, kudu dipun jagaken kaya emas ingkang dipun simpen” (Amanah yang dititipkan, harus dijaga seperti emas yang disimpan).
“Berikanlah kepada anak-anakmu pelajaran yang benar sejak kecil, maka ketika mereka dewasa, mereka tidak akan menyimpang daripadanya.” (Amsal 22:6)
Setiap langkah yang ia tempuh bersama kita, setiap doa yang ia panjatkan untuk keluarga, adalah bukti bahwa ikatan persahabatan dalam pernikahan adalah karunia yang mengikat masa lalu dengan masa depan. Ia adalah saluran berkah yang menyuburkan kehidupan rohani kita dan keluarga kita. Seperti sungai yang mengalir dari sumber yang tak pernah kering, amanah yang dijalankan bersama istri membawa manfaat bagi seluruh keluarga, bahkan bagi generasi yang belum lahir – menjadi warisan rohani yang akan terus hidup selamanya.
“Dia mengurus rumah tangganya dengan baik dan tidak makan roti kemalasan.” (Amsal 31:27)
Banyak yang berpikir persahabatan hanya ada selama kita masih bernapas di dunia ini. Namun seorang istri yang menjadi sahabat sejati menunjukkan bahwa persahabatan yang berdasarkan kasih Allah akan melampaui batas kehidupan fana – ia akan terus hidup dalam roh dan berkah yang ditinggalkannya. Ia adalah bukti bahwa hubungan yang dirancang Tuhan tidak terbatas pada apa yang bisa dilihat dan diraba, melainkan ada pada tingkat rohani yang hanya bisa dirasakan dengan hati yang penuh iman. Pribahasa Jawa mengungkapkan: “Kekancanan ingkang sejati, ora gumantung marang urip lan pati” (Persahabatan yang sejati, tidak tergantung pada hidup dan mati).
“Karena kehidupan yang fisik itu sementara, tetapi kehidupan yang rohani itu kekal.” (2 Korintus 4:18)
Filosofi kudus mengungkapkan: “Sahabat sejati adalah orang yang akan membawa nama kita dan nilai-nilai yang kita anut dengan bangga, bahkan ketika kita telah kembali kepada Tuhan.” Dan seorang istri adalah yang akan menjaga kehormatan nama kita, melanjutkan misi yang kita mulai, dan memastikan bahwa kasih Tuhan yang kita tanamkan dalam keluarga tetap menjadi panduan bagi anak-anak kita. Persahabatan seperti ini bukanlah tentang berada bersama hanya dalam kesenangan duniawi, melainkan tentang menjadi bagian dari perjalanan rohani satu sama lain – melalui suka dan duka, hingga kita bertemu kembali di hadapan Tuhan.
Dari persahabatan yang menjunjung tinggi firman Tuhan dan amanah rohani dalam pernikahan, kita belajar bahwa hidup bukanlah tentang apa yang kita peroleh di dunia ini, melainkan tentang apa yang kita bangun bersama dalam kasih dan iman untuk menghadiahkan pada Tuhan. Setiap dukungan yang diberikan istri adalah kontribusi kita bersama untuk membangun kerajaan Allah di bumi, dan setiap langkah yang kita tempuh bersama adalah bukti bahwa kebaikan dan cinta yang berasal dari Tuhan masih hidup dan berkembang. Pribahasa Jawa pun mengingatkan: “Sugih tanpa kasih, kaya omah tanpa pondasi” (Kaya raya tanpa kasih, seperti rumah tanpa pondasi).
“Kasih itu sabar, kasih itu baik hati. Kasih tidak cemburu, tidak membanggakan diri, tidak sombong. Kasih tidak menyakiti orang lain, kasih senantiasa mencari yang baik.” (1 Korintus 13:4-5)
Persahabatan dengan istri mengajarkan kita tentang makna sejati dari kesetiaan yang berdasarkan firman Tuhan – bahwa ia bukanlah tentang berada di sana dalam waktu yang mudah, melainkan tentang tetap setia bahkan ketika ujian datang seperti ombak yang menerpa pantai. Ia adalah pengingat bahwa kita tidak pernah sendirian dalam perjalanan hidup, karena seorang istri adalah sahabat sejati yang diberikan Tuhan – menjadi jembatan cinta antara dunia dan surga, yang menghubungkan kita dengan tujuan ilahi dan makna yang kekal.
“Sahabat sejati bukanlah hanya orang yang berbagi waktu dengan kita, melainkan orang yang berbagi perjalanan rohani dan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Dan tidak ada karunia yang lebih besar dari pada seorang istri yang menjadi sahabat sejati – yang mengiringi setiap langkah kita dalam kehidupan dan pelayanan, yang bersama kita merawat mimpi keluarga dan mengemban amanah Tuhan.
Inilah harapan setiap pasangan yang mencintai dengan sepenuh hati: bahwa hari-hari kita di dunia ini akan selalu diwarnai oleh kasih yang hangat, bahwa setiap usaha dalam pelayanan akan kita lakukan beriringan tangan, dan bahkan ketika waktu duniawi kita usai – ketika Tuhan memanggil kita pulang ke rumah-Nya yang kekal – kita akan tetap bersama, bersandar di bawah naungan kasih-Nya, menikmati keabadian yang penuh damai dan cinta yang tak pernah berakhir.
Karena cinta yang dirakit di atas dasar firman Tuhan tidak akan pernah putus – tidak oleh usia, tidak oleh jarak, bahkan tidak oleh pemisahan sementara dalam dunia fana ini. Kita akan selalu bersama, sekarang dan selamanya.”
“Semoga Tuhan memberkati kamu dan menjagamu selamat. Semoga Tuhan memalingkan mukanya kepadamu dan memberimu kasih karunia. Semoga Tuhan mengangkat wajah-Nya kepadamu dan memberimu damai sejahtera.” (Bilangan 6:24-26)
Dibuat oleh: Ev.Kefas Hervin Devananda,S.Th.,M.Pd.K


