Jakarta – Pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2025, tiga sosok guru luar biasa menerima Anugerah Guru Indonesia 2025 atas dedikasi dan inovasi mereka dalam memajukan pendidikan di berbagai pelosok negeri. Syifa Urrachmah, Koko Triantoro, dan Umi Salamah adalah contoh nyata bagaimana pengabdian dapat lahir dari ruang-ruang sederhana dan memberikan dampak yang besar bagi masyarakat.
Syifa Urrachmah, guru muda penyandang disabilitas netra di SLBN Banda Aceh, menerima anugerah guru pejuang disabilitas. Ia berkomitmen memperluas akses teknologi bagi siswa disabilitas agar dapat bersaing di dunia yang lebih luas. “Saya berharap pendidikan semakin inklusif dan membuka ruang bagi semua,” ujarnya.
Koko Triantoro, Kepala SDN Embacang Lama, Sumatra Selatan, menerima anugerah guru garda terpencil. Ia berkeliling mengajar dari NTT hingga Kalimantan dan melihat kesenjangan fasilitas yang mendorongnya menggagas kampanye dan kolaborasi untuk membangun jembatan, perahu pendidikan, hingga program pemberantasan buta baca. “Saya berharap pada seluruh guru di Indonesia tidak hanya peka terhadap mendidik anak, tetapi coba peka terhadap lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Umi Salamah, Kepala PKBM Banyumas, menerima anugerah guru pejuang pendidikan non formal dan inklusif. Selama tiga dekade, ia membuka rumahnya untuk pendidikan nonformal, mulai dari buta huruf hingga perguruan tinggi. Umi mendirikan PKBM, PAUD, kelas paket, SLB, hingga merintis Pondok Pesantren ABK untuk menjawab kebutuhan ABK di wilayahnya. “Saya bersyukur Saya angkat jempol dengan pemerintah yang sekarang sudah jauh lebih baik memperhatikan kami,” imbuhnya.
Kisah ketiga guru ini memperlihatkan wajah keteladanan yang menjadi fondasi tema Guru Hebat, Indonesia Kuat. Melalui tindakan nyata, mereka menghidupkan semangat bahwa pendidikan Indonesia bertumbuh dari dedikasi, empati, dan keberanian untuk melampaui batas peran seorang pendidik.
Jurnalis: Vicken Highlanders
Editor: Romo Kefas
Sumber: (BPMI Setpres)


