Yohanes 4:46–54
Pelitkota.id Injil Yohanes secara konsisten menegaskan bahwa iman sejati tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap tanda dan mujizat. Tanda-tanda yang dilakukan Yesus bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membawa manusia kepada pengenalan akan Pribadi-Nya sebagai Anak Allah dan sumber hidup yang sejati (bdk. Yoh. 20:31).
Perikop Yohanes 4:46–54 menghadirkan kisah seorang pegawai istana yang imannya mengalami pertumbuhan nyata—dari iman yang bergantung pada tanda, menuju iman yang berakar pada firman Kristus.
Iman yang Dimulai dari Kebutuhan, tetapi Belum Dewasa
Pegawai istana itu datang kepada Yesus karena anaknya sedang sakit keras dan hampir mati. Dorongan awal kedatangannya adalah kebutuhan mendesak. Ia mencari Yesus sebagai jalan keluar atas krisis hidupnya.
Yesus menanggapi permintaan itu dengan sebuah pernyataan yang tajam: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Teguran ini bukanlah penolakan, melainkan koreksi terhadap kualitas iman yang masih dangkal—iman yang bergantung pada apa yang dapat dilihat dan dialami secara empiris.
Di sini Injil Yohanes mengingatkan bahwa iman yang hanya bersandar pada tanda berisiko menjadi iman yang rapuh, karena tanda tanpa pengenalan akan Kristus dapat berujung pada kekaguman tanpa ketaatan.
Iman yang Mulai Berpaut pada Pribadi Yesus
Pegawai istana itu tetap memohon kepada Yesus agar datang ke rumahnya sebelum anaknya mati. Ia percaya bahwa Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan. Namun, pemahamannya masih terbatas: ia mengira kehadiran fisik Yesus adalah syarat mutlak bagi terjadinya mukjizat.
Meski demikian, pada tahap ini imannya telah melangkah lebih jauh. Ia tidak lagi sekadar berharap, melainkan meyakini bahwa Yesus sungguh berkuasa atas penyakit dan hidup manusia.
Iman yang Dewasa: Percaya kepada Firman
Puncak pertumbuhan iman terjadi ketika Yesus berkata, “Pergilah, anakmu hidup.” Tanpa perdebatan, tanpa bukti visual, pegawai istana itu percaya kepada perkataan Yesus dan taat melangkah pulang.
Di sinilah iman sejati dinyatakan: iman yang bersandar pada firman Kristus, bukan pada penglihatan. Kesembuhan terjadi bukan karena Yesus hadir secara fisik, melainkan karena kuasa firman-Nya yang memberi hidup. Hal ini menegaskan kebenaran teologis bahwa firman Allah bersifat efektif, berdaulat, dan mencipta realitas (bdk. Kej. 1; Yoh. 1:1–3).
Ketika ia mengetahui bahwa kesembuhan anaknya terjadi tepat pada saat Yesus mengucapkan firman tersebut, imannya diteguhkan dan dimurnikan.

Iman yang Berbuah dalam Kesaksian
Iman yang sejati tidak berhenti pada pengalaman pribadi. Pegawai istana itu percaya, dan seluruh keluarganya pun menjadi percaya kepada Yesus. Kesaksian menjadi buah alami dari iman yang telah bertumbuh dan berakar kuat.
Injil Yohanes menutup perikop ini dengan menyebutnya sebagai “tanda kedua”, menegaskan bahwa tanda tersebut telah menjalankan fungsinya: membawa manusia kepada iman yang menyelamatkan.
Iman Kristen bukan iman yang anti-mukjizat, tetapi iman yang tidak menggantungkan dirinya pada mukjizat. Mukjizat menunjuk kepada Kristus, tetapi firman Kristuslah yang menjadi dasar iman.
Karena itu, iman anak Tuhan harus terus dipelihara melalui:
- Pendengaran dan perenungan firman Tuhan
- Ketaatan dalam doa
- Persekutuan yang membangun tubuh Kristus
Iman yang tidak bertumbuh akan stagnan, dan iman yang stagnan berisiko kehilangan kedalaman rohaninya. Namun iman yang dipelihara oleh firman akan menghasilkan ketaatan, ketekunan, dan kesaksian yang memuliakan Allah.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


