HUKUM TABUR TUAI

Spread the love

HUKUM TABUR TUAI

Kita sudah menerima pengajaran tentang hukum tabur-tuai melalui kisah janda Sarfat.

Dasar Pengajaran dari Janda Sarfat

Beberapa prinsip yang kita pelajari:

  • Hukum tabur-tuai ditetapkan oleh Tuhan sendiri.
  • Janda Sarfat menabur dengan hati tulus dan penuh ketaatan.
  • Janda Sarfat menabur dalam kemiskinannya.
  • Janda Sarfat menuai lebih banyak dari yang ia tabur.
  • Dalam hukum tabur-tuai, tuaian akan datang pada musimnya.

Intisari: Supaya kita dapat menuai, harus ada benih yang ditabur terlebih dahulu. Tidak ada benih, tidak ada tuaian.

Hari ini kita melihat beberapa aspek lain dari tabur-tuai agar memperoleh gambaran yang lebih lengkap sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab.


BISA MENUAI YANG DITABUR ORANG LAIN

Adam dan Hawa menabur dalam dosa, lalu kita semua sebagai keturunan mereka harus menuai dosa juga dalam hidup kita, tanpa seorang pun terkecuali (Roma 5:12). Ini aspek negatifnya.

Aspek positifnya terdapat dalam Yohanes 4:37–38: ada yang menabur dan ada yang menuai.

Contoh dalam kehidupan:

  • Orang tua dengan susah payah merintis usaha baru, tetapi yang menuai hasilnya adalah keturunan atau orang terdekat yang berhasil memperluas usaha tersebut.
  • Ada orang yang hidupnya benar dan menjadi berkat, kemudian orang lain yang menikmati kebaikan itu hatinya terbuka (1 Korintus 2:6).
  • Kemajuan negara-negara Barat dengan sistem sosialnya yang rapi tidak terjadi dalam semalam, melainkan hasil taburan tokoh-tokoh masa lalu yang meletakkan fondasinya.

MENUAI LEBIH BANYAK DARI YANG DITABUR

Kalau menanam satu pohon rambutan, tentu yang dituai bukan satu buah, melainkan ribuan buah. Demikian juga hukum tabur-tuai berlaku secara positif maupun negatif.

“Barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya.” (Galatia 6:8)

Kita melihat apa yang diperbuat oleh Raja Daud.

Daud berbuat dosa besar: berzina dengan Batsyeba dan merekayasa pembunuhan terhadap Uria, suami Batsyeba. Intinya adalah dosa seksual dan kekerasan. Nabi Natan datang menegur Daud dengan keras. Daud merendahkan diri dan mengakui dosanya. Natan menyampaikan bahwa pengampunan Allah tersedia, tetapi tuaian negatif tetap berjalan (2 Samuel 12:10–13).

Intinya:

  • Pedang: pembunuhan dan pertumpahan darah akan terjadi dalam keluarga Daud.
  • Seks: istri-istri Daud akan mengalami pelecehan secara terbuka.

Data tuaian Daud:

  1. Anak yang dilahirkan Batsyeba mati. Daud telah berdoa dan berpuasa, tetapi Tuhan tidak mengabulkan doanya (2 Samuel 12:14–19).
  2. Amnon, anak sulung Daud, memperkosa Tamar, adik tirinya (2 Samuel 13:14–15).
  3. Absalom membunuh Amnon sebagai balas dendam (2 Samuel 13:23–32).
  4. Absalom memberontak terhadap Daud sehingga Daud harus melarikan diri dari kota (2 Samuel 15:13–27).
  5. Absalom menyetubuhi gundik-gundik Daud secara terang-terangan (2 Samuel 16:20–23).
  6. Absalom akhirnya mati dibunuh oleh Yoab (2 Samuel 18:9–18).
  7. Adonia mengangkat diri sebagai raja, tetapi akhirnya dibunuh oleh Salomo (1 Raja-raja 2:13–25).

Daud menuai lebih banyak daripada yang ia tabur.


RAKYAT MENUAI YANG DITABUR PEMIMPIN NEGARA

Ketika para pemimpin negara menabur hal-hal negatif, rakyat akan ikut menuai akibatnya.

Contoh:

  • Raja Ahab dan Ratu Izebel mempromosikan penyembahan berhala secara besar-besaran, sehingga rakyat ikut terseret (1 Raja-raja 16:29–33).
  • Ketika Adolf Hitler berkuasa, rakyat Jerman terseret ke dalam peperangan yang memakan jutaan korban jiwa, termasuk enam juta orang Yahudi di kamp konsentrasi.
  • Keadaan Korea Utara menunjukkan bagaimana kepemimpinan dapat membawa rakyat kepada kemiskinan dan kesulitan.

Sebaliknya, ketika pemimpin menabur yang baik, rakyat menerima berkat dan kemakmuran.


TUAIAN AKAN DATANG JIKA KITA BERTEKUN

Seorang petani tidak hanya menanam, tetapi juga:

  • Memberi pengairan yang baik,
  • Mencegah hama merusak tanaman,
  • Memberi pupuk yang cukup.

Hal itu dilakukan bukan hanya sehari dua hari, tetapi terus-menerus sampai musim panen tiba.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9–10)

Artinya, sikap menabur harus menjadi kebiasaan yang terus-menerus, bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi berkelanjutan.


Abah Daniel

Tinggalkan Balasan