Atau Mengapa Banyak Orang Kaya dan Berkuasa Tetapi Hidupnya Seperti Padi yang Cepat Panen
Bogor,02 Januari 2026 Sekian lama kita terbiasa mengagumi sosok-sosok besar di halaman sejarah – mereka yang memegang takhta, menguasai tanah luas, atau mengumpulkan harta seperti pasir di pantai. Namun jika kita renungkan dengan kearifan lokal yang telah mengakar di bumi Nusantara sejak zaman dahulu, cerita panjang usia dan kekayaan materi itu bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Seperti yang tertulis dalam Ayub 14:1, “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan”, mengingatkan kita bahwa kehidupan duniawi ini sesungguhnya sangat singkat, tidak peduli seberapa besar kekuasaan atau kekayaan yang kita miliki. Pribahasa Sunda berkata, “Bumi taneuh sami rata, langit langit sami tinggi” – tanah sama rata untuk semua orang, langit sama tinggi untuk setiap manusia, yang menegaskan bahwa pada hakikatnya kita semua sama di hadapan alam dan Tuhan.
Bayangkanlah batu sasak yang menghiasi hamparan rumah di Pulau Lombok. Tak pernah mengejar untuk menjadi lebih besar atau lebih mewah dari batu lain. Ia berdiri diam, menahan panas matahari dan hujan deras selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ia tidak memiliki kekuasaan, tidak mengumpulkan harta, namun kehidupannya memberikan makna – sebagai pondasi yang kokoh bagi rumah tangga, tempat berteduh bagi anak-anak yang bermain, hingga akhirnya kembali menyatu dengan tanah ketika waktunya tiba. Mazmur 90:10 menyatakan, “Panjang umur kita adalah tujuh puluh tahun, atau kalau kuat delapan puluh tahun; tetapi sebagian besarnya adalah kerja dan kesusahan. Sebab cepat berlalu dan kita lenyap”, namun nilai hidup bukan terletak pada panjang usia semata, melainkan pada makna yang kita berikan. Pribahasa Jawa mengajarkan, “Jajaripun susuh, boten kudu mungsuh” – meskipun berbeda kedudukan, tidak perlu menjadi musuh, karena setiap orang punya hak dan martabat yang sama.
Lihatlah tokoh-tokoh besar di seluruh dunia seperti yang sering kita dengar: Yuan Shi Kai hanya sampai 57 tahun, Sun Yat Sen 59 tahun, Napoleon 52 tahun, bahkan Kaisar Qian Long yang hidup hingga 89 tahun pun akhirnya harus menyerahkan segala-galanya kepada waktu. Di tanah air sendiri, kita mengenal sosok seperti Pangeran Diponegoro (wafat di usia 66 tahun) yang menggugat penjajahan dengan semangat kebangsaan yang abadi, atau Ki Hajar Dewantara (sampai 79 tahun) yang menjadikan pendidikan sebagai pondasi kemajuan bangsa – mereka bukan hanya dikenal karena usia panjang, melainkan karena makna yang mereka tanamkan di dalam hidup banyak orang. Yesaya 40:6-8 mengajak kita merenung: “Semua daging adalah seperti rumput, dan segala kemuliaannya seperti bunga padang rumput. Rumput itu layu, bunganya gugur, tetapi firman Tuhan kita kekal selama-lamanya” – prestasi duniawi mungkin akan hilang, tetapi dampak kebaikan yang kita tinggalkan akan tetap ada. Pribahasa Batak menyatakan, “Hita marhite hita, holong marhite holong” – kaya karena kaya, miskin karena miskin, namun semua punya martabat yang setara dan harus saling menghargai.
Ada pula Raden Wijaya (pendiri Kerajaan Majapahit, wafat di usia sekitar 50 tahun) yang menyatukan Nusantara dengan kebijaksanaan, bukan hanya kekerasan. Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara, wafat di usia sekitar 60 tahun) yang membawa Majapahit ke puncak kejayaan, namun tetap menjaga harmoni antara berbagai suku dan agama. Di Sulawesi, La Maddukelleng (raja Bone yang hidup sekitar 60 tahun) dikenal bukan hanya karena kekuasaan, melainkan karena kesalehan dan keadilan yang diberikan kepada rakyatnya. Lukas 12:15 mengingatkan kita, “Janganlah berpikir dalam hati masing-masing: ‘Sudah kubanyakkan hasil panenku!’ Sebab bukanlah barang milikmu segala yang kamu miliki; kamu tidak dapat mengatakan dengan pasti apa yang akan terjadi besok. Hidupmu adalah kabut yang tampak sesaat kemudian lenyap”, jadi kekayaan dan kekuasaan bukanlah jaminan kebahagiaan atau kebermaknaan hidup. Pribahasa Minangkabau berkata, “Baso sarua tabuik, balado sarua rica” – semuanya berbeda namun memiliki rasa yang sama nikmat, mengisyaratkan bahwa perbedaan tidak menghalangi kesetaraan dan kesatuan.
Di tanah Jawa, Sunan Kalijaga (salah satu Wali Songo, wafat di usia sekitar 70 tahun) menyebarkan ajaran agama dengan cara yang lembut dan menyatu dengan budaya lokal, membuktikan bahwa pengaruh yang abadi tidak selalu datang dari kekuasaan politik. Gusti Kanjeng Ratu Hemas (ratu dari Kerajaan Pajang, wafat di usia sekitar 55 tahun) menunjukkan bahwa kebijaksanaan dan kecerdasan seorang pemimpin tidak terbatas pada jenis kelamin. Filipi 2:3-4 mengajarkan sikap yang seharusnya kita miliki: “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” – sikap yang juga menjadi inti dari banyak kearifan lokal di Nusantara. Pribahasa Bali menyatakan, “Sama-sama tanam padi, sama-sama makan nasi” – bersama bekerja sama akan menghasilkan kebaikan yang dinikmati bersama, tanpa memandang kedudukan atau perbedaan.
Dalam budaya Jawa, ada pepatah yang mengatakan: “Urip iku lungguh, mati iku tiba-tiba” – hidup adalah duduk santai, mati datang secara tiba-tiba. Bukan berarti kita malas atau tidak berjuang, melainkan kita diajak untuk tidak terobsesi dengan mengejar apa yang sementara. Seperti padi yang subur di sawah, ketika sudah masak ia akan menundukkan kepalanya – semakin banyak hasil yang dimiliki, semakin rendah hati yang harus kita jaga. Pribahasa Melayu mengajarkan, “Air susu dibalas dengan air tuba, tetapi manusia tidak boleh membeda-bedakan sesamanya” – setiap orang layak mendapatkan perlakuan yang adil dan setara, tanpa diskriminasi.
Di Sumatera, masyarakat Minangkabau punya konsep “mambang jadi balun, balun jadi mambang” – yang dulunya rendah bisa jadi tinggi, yang tinggi bisa jadi rendah. Ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan dan kekayaan bukanlah sesuatu yang abadi. Sama seperti ombak di laut yang datang dan pergi, segala hal di dunia ini memiliki masa nya sendiri. Bahkan Tuanku Imam Bonjol (pemimpin perjuangan rakyat Minangkabau, wafat di usia sekitar 75 tahun) yang menghadapi penjajahan dengan tekad yang bulat, tidak pernah menganggap dirinya lebih tinggi dari rakyat yang dipimpinnya. Yakobus 4:14 menegaskan, “Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Hidupmu seperti kabut yang tampak sesaat kemudian lenyap”, jadi kita harus hidup dengan penuh kesadaran akan kebersamaan dan kebaikan. Pribahasa Bugis menyatakan, “Sarae-sarae timurung, padang-padang lembang” – setiap tempat punya keunikan dan setiap orang punya hak yang sama untuk hidup dengan bermartabat.
KETIKA KEKAYAAN MENJADI BELENGGU, KETIKA KEKUASAAN MENJADI MUSUH
Banyak orang yang berpikir, jika saja mereka punya uang banyak atau jabatan tinggi, hidup akan menjadi sempurna. Namun sejarah membuktikan sebaliknya – banyak di antara mereka yang memiliki itu semua tetapi hidupnya penuh dengan tekanan, perselisihan, dan ketidakpuasan. Mereka seperti kerbau yang menarik gerobak penuh emas – membawa beban berat tanpa pernah bisa menikmati apa yang mereka angkut. Pengkhotbah 1:2-4 menyatakan, “‘Sia-sia sia-sia,’ kata orang bijak, ‘sia-sia sia-sia! Segala sesuatu sia-sia.’ Apa yang diperoleh manusia dari segala pekerjaannya yang ia susahkan di bawah matahari? Bangsa datang dan bangsa pergi, tetapi bumi tetap untuk selama-lamanya” – mengingatkan kita bahwa segala usaha duniawi yang tidak berdasarkan pada nilai kekal adalah sia-sia belaka. Pribahasa Nias berkata, “Hakuna olo mone, hakuna olo nene” – tidak ada orang yang terlalu tinggi dan tidak ada orang yang terlalu rendah, menegaskan kesetaraan hakikat manusia.
Bandingkan dengan sosok Sunan Gunung Jati (wali yang menyebarkan agama di Cirebon, wafat di usia sekitar 80 tahun) yang hidup sederhana meskipun menjadi raja, atau Nyai Ontosoroh (figur penting dalam perjuangan kemerdekaan Jawa, wafat di usia sekitar 65 tahun) yang rela mengorbankan semua kekayaannya untuk kemerdekaan bangsa. Mereka tidak mengejar kekayaan, namun kehidupan mereka jauh lebih kaya maknanya. Matius 6:25 mengajak kita untuk tidak terlalu khawatir tentang kehidupan duniawi: “Oleh karena itu janganlah kamu khawatir tentang hidupmu, apa yang kamu makan atau minum; dan jangan pula tentang tubuhmu, apa yang kamu kenakan. Bukankah hidup lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaian?” Pribahasa Sasak menyatakan, “Batu satu sama lain bisa saling menopang, manusia satu sama lain bisa saling membantu” – kesetaraan bukan berarti bersaing, melainkan saling mendukung dan menghargai keberadaan satu sama lain.
Dalam filsafat Sunda, ada yang disebut “cigugur” – sikap rendah hati dan menghargai apa yang ada. Seperti pohon cempaka yang mekar di tengah hutan, tidak perlu bersaing dengan pohon pinus yang tinggi untuk mendapatkan sinar matahari. Ia hanya perlu melepaskan aromanya dan memberikan keindahan pada waktu yang tepat. R.A. Kartini (pejuang hak perempuan, wafat di usia muda hanya 25 tahun) adalah contoh nyata – meskipun hidupnya singkat seperti bunga kemboja yang cepat mekar dan gugur, aroma perjuangannya masih terasa hingga kini. 1 Petrus 1:24 mengatakan, “Karena semua daging adalah seperti rumput, dan segala kemuliaannya seperti bunga padang rumput. Rumput itu layu, bunganya gugur”, tetapi karya yang dilakukan dengan cinta dan pengabdian akan tetap hidup dalam hati orang banyak. Pribahasa Dayak menyatakan, “Sama-sama anak sungai, sama-sama mengalir ke laut” – semua manusia pada akhirnya memiliki tujuan yang sama, sehingga tidak ada alasan untuk membeda-bedakan satu sama lain.
MAKA, APA YANG SEHARUSNYA KITA CARI?
Bukan panjang usia semata, bukan kekayaan atau kekuasaan yang sementara. Melainkan kedalaman hidup yang kita bangun melalui perbuatan baik, hubungan yang penuh cinta, dan makna yang kita berikan bagi orang lain. 1 Tesalonika 5:16-18 mengajarkan kita untuk hidup dengan sikap yang benar: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” – bersyukur menjadi kunci untuk merasakan kebermaknaan hidup, tidak peduli seberapa besar atau kecil apa yang kita miliki. Pribahasa Jawa berkata, “Bhinneka Tunggal Ika” – berbeda-beda namun tetap satu, semboyan bangsa yang menjadi inti dari semangat kesetaraan dan persatuan di antara perbedaan.
– Seperti batako yang menyusun rumah, setiap kita punya peran penting meski tak selalu terlihat atau dikenang – seperti Pangeran Antasari (pemimpin perjuangan Kalimantan, wafat di usia sekitar 45 tahun) yang menjadi pondasi semangat perjuangan rakyat Kalimantan. Mazmur 136:6 berkata, “Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Dia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” – setiap peran yang kita lakukan dengan baik adalah bentuk penghormatan kepada Tuhan dan kontribusi bagi sesama. Pribahasa Aceh menyatakan, “Ureueng keu, ureueng keu, sabab keu ureueng” – manusia adalah manusia, karena mereka saling menghargai sebagai manusia yang setara.
– Seperti kayu gaharu yang butuh waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan aroma khasnya, kehidupan kita akan bernilai jika kita mau melalui proses dengan sabar dan penuh kesabaran – seperti Sultan Hasanuddin (raja Gowa yang hidup sekitar 46 tahun) yang membangun peradaban dengan kerja keras dan kesabaran. Mazmur 90:12 mengajak kita, “Berilah kita akal budi dalam menghitung hari-hari kita, supaya kita memperoleh hati yang penuh hikmat” – menghargai setiap saat dan mengisi hidup dengan hal-hal yang berharga. Pribahasa Lombok menyatakan, “Batu kecil bisa menghalangi air besar, orang kecil bisa melakukan hal besar” – setiap orang punya potensi yang sama untuk memberikan kontribusi, tanpa memandang status atau kedudukan.
– Seperti lontar yang menyimpan naskah kuno, hidup kita akan menjadi warisan berharga jika kita mengisi nya dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang – seperti Mpu Tantular (penulis kakawin Nagarakretagama, abad ke-14) yang meskipun usia hidupnya tidak diketahui pasti, karyanya tetap menjadi warisan budaya yang tak ternilai harganya. Yohanes 1:5 menyatakan, “Dalam firman itu ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia” – ilmu dan hikmah yang kita bagikan adalah terang yang dapat menerangi jalan orang lain. Pribahasa Papua menyatakan, “Sama-sama anak tanah Papua, sama-sama punya hak untuk maju” – kesetaraan adalah hak setiap orang untuk berkembang dan meraih potensi terbaiknya.
Ketika kita sudah berusia di atas 60 tahun, kita telah melebihi rata-rata usia 355 kaisar sepanjang sejarah China, bahkan melebihi usia banyak tokoh besar Nusantara seperti Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan Sultan Hasanuddin. Ketika sudah melewati 70 tahun, kita telah melampaui sosok-sosok besar seperti Pangeran Diponegoro, Sunan Kalijaga, dan Tuanku Imam Bonjol. Maka, apa lagi yang kurang? Mazmur 30:12 menyatakan, “Supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. Tuhan, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu” – setiap tahun yang diberikan adalah anugerah yang patut kita syukuri dengan hidup yang bermakna. Pribahasa Sulawesi Selatan menyatakan, “Sama-sama makan dari piring yang sama, sama-sama merasakan rasa yang sama” – kesetaraan mengajak kita untuk merasakan penderitaan dan kebahagiaan bersama-sama.
Seperti yang diajarkan dalam berbagai ajaran agama dan kearifan lokal di Indonesia: “Hiduplah dengan baik, berbuat baik kepada sesama, dan bersyukurlah setiap saat”. Waktu berlalu seperti arus sungai Bengawan Solo yang tidak pernah berhenti, bulan dan matahari berganti seperti wayang yang berganti lakon – segala sesuatu bersifat sementara, kecuali amal baik yang kita tinggalkan. Roma 12:18 mengajak kita, “Jika mungkin, sejauh yang ada pada diri kamu, hidup damai dengan semua orang”, karena kedamaian dan kebaikan adalah nilai yang akan terus hidup bahkan setelah kita tiada. Pribahasa Indonesia yang dikenal luas berkata, “Tak kenal maka tak sayang” – dengan menghargai kesetaraan dan mengenal perbedaan, kita akan lebih mampu mencintai sesama manusia dengan tulus.
Oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas), Jurnalis Senior Pewarna Indonesia dan Penggiat Budaya Nusantara


