Hidup Hanya Sekali, dan Kesetaraan Tidak Bisa Ditunda

Spread the love

Hidup Hanya Sekali, dan Kesetaraan Tidak Bisa Ditunda

Hidup hanya sekali.
Dan dalam satu kesempatan itulah manusia diuji:
apakah ia memilih menjadi bagian dari keadilan,
atau sekadar penonton yang membiarkan ketidakadilan diwariskan.

Sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang nyaman.
Sejarah digerakkan oleh mereka yang resah—
resah melihat sesama diperlakukan tidak setara,
resah melihat negara lupa pada tujuan kelahirannya sendiri.

Indonesia tidak pernah dilahirkan untuk melayani segelintir orang.
Negeri ini bukan proyek elite.
Ia lahir dari luka penjajahan,
dari keberanian melawan ketidakadilan,
dan dari kesepakatan luhur bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama.

Namun hari ini, kita dipaksa jujur pada kenyataan:
kesetaraan sering kali hanya menjadi slogan,
sementara praktiknya justru penuh pembeda-bedaan.
Ada yang dilayani, ada yang dipinggirkan.
Ada yang dianggap utama, ada yang dianggap angka.

Padahal kesetaraan bukan hadiah dari kekuasaan.
Kesetaraan adalah hak yang melekat pada setiap warga negara.
Ia tidak boleh ditunda, tidak boleh dinegosiasikan,
dan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan politik jangka pendek.

Di titik inilah politik seharusnya kembali pada makna dasarnya:
bukan alat dominasi,
melainkan alat perjuangan moral.

hadir bukan sebagai pelengkap demokrasi,
melainkan sebagai koreksi.
Sebuah pernyataan sikap bahwa negeri ini tidak boleh dibangun
di atas logika mayoritas dan minoritas,
melainkan di atas prinsip kesetaraan warga negara.

PASTI menolak konsep warga kelas dua.
Menolak politik yang membungkam perbedaan.
Menolak negara yang abai terhadap martabat manusia.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling kuat berteriak,
melainkan bangsa yang paling adil memperlakukan rakyatnya.

Hidup hanya sekali.
Dan dalam satu hidup itu, kita diberi pilihan:
diam dan mewariskan ketidakadilan,
atau bersuara dan memperjuangkan masa depan yang setara.

PASTI memilih untuk bersuara.
Memilih untuk berdiri.
Memilih untuk berjuang.

Bukan demi kekuasaan,
tetapi demi negeri.
Bukan demi kelompok,
tetapi demi semua.

Karena pada akhirnya,
negara hanya layak disebut adil
jika setiap warganya diperlakukan setara.


Ditulis oleh:
Misteer Q74


.

Tinggalkan Balasan