Jakarta — Free Palestine Network (FPN) menilai agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela sebagai alarm keras bagi seluruh negara berdaulat di dunia. Menurut FPN, serangan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan militer global dapat digunakan secara sepihak tanpa penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Sekretaris Jenderal FPN, Furqan AMC, menyatakan bahwa apa yang terjadi di Venezuela bukan sekadar konflik bilateral, melainkan preseden berbahaya yang mengancam tatanan dunia berbasis hukum.
“Jika satu negara bisa diserang, pemimpinnya diculik, dan sumber dayanya diklaim secara terbuka, maka tidak ada lagi jaminan kedaulatan bagi negara mana pun,” kata Furqan dalam rilis resmi FPN.
Pola Lama, Korban Baru
FPN menilai agresi ke Venezuela mengikuti pola klasik kebijakan luar negeri Amerika Serikat: tekanan politik, intervensi militer, lalu penguasaan sumber daya strategis.
“Narasinya selalu berubah, tapi polanya sama. Demokrasi dijadikan dalih, senjata dijadikan alat, dan rakyat sipil selalu menjadi korban,” ujar Furqan.
Menurut FPN, sejarah mencatat banyak negara mengalami kehancuran sosial dan kemanusiaan akibat intervensi serupa, mulai dari Amerika Latin hingga Timur Tengah.
Dunia Dinilai Gagal Menjaga Piagam PBB
FPN menegaskan bahwa agresi AS ke Venezuela merupakan pelanggaran serius terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya prinsip non-intervensi dan penghormatan terhadap kedaulatan nasional.
“Ketika hukum internasional dikalahkan oleh kekuatan senjata, maka dunia sedang bergerak menuju ketidakpastian yang berbahaya,” tegas Furqan.
Korban Sipil dan Klaim Minyak
Dalam rilisnya, FPN menyebut sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas, termasuk warga sipil, dalam operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari 2026. Organisasi ini juga menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang diklaim menyebut pengambilalihan kendali Venezuela beserta cadangan minyaknya.
“Pernyataan itu memperjelas bahwa agresi ini bukan soal keamanan, melainkan soal kekuasaan dan sumber daya,” kata Furqan.
Solidaritas Global Diserukan
FPN menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro, serta menyerukan komunitas internasional, termasuk Indonesia, untuk tidak bersikap pasif.
“Diam berarti membenarkan. Dunia harus bersuara sebelum agresi semacam ini menjadi praktik yang dianggap wajar,” ujar Furqan.
Sebagai bentuk sikap, FPN memastikan akan menggelar aksi solidaritas dan kampanye publik di berbagai kota di Indonesia dalam waktu dekat.
Jurnalis: Romo Kefas


