
Jakarta – Aksi Free Palestine Network (FPN) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Minggu (5/4/2026), berubah menjadi kritik terbuka terhadap pemerintah. Di tengah suasana Car Free Day, FPN menyoroti satu hal yang dianggap krusial: negara dinilai belum menunjukkan ketegasan atas gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon.
Dengan spanduk besar bernada keras, FPN tidak hanya mengecam Israel, tetapi juga secara langsung menekan pemerintah agar segera mengambil sikap politik yang jelas. Pesan yang disampaikan lugas—bahkan cenderung konfrontatif.
Aksi ini langsung menyita perhatian publik. Sejumlah warga yang berolahraga tampak berhenti, membaca isi spanduk, hingga ikut menandatangani sebagai bentuk dukungan.
Kehadiran Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di tengah aksi menambah dimensi politik dalam peristiwa tersebut.
“Ini Ujian Nyata, Bukan Sekadar Diplomasi”
Sekretaris Jenderal FPN, Furqan AMC, menilai gugurnya prajurit TNI bukan peristiwa biasa yang cukup dijawab dengan pernyataan normatif.
“Ini ujian nyata bagi negara. Kalau prajurit kita gugur dan tidak ada sikap tegas, maka publik akan mempertanyakan keberanian pemerintah,” kata Furqan.
Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menyentuh langsung isu kedaulatan dan harga diri bangsa, bukan sekadar konflik luar negeri.
Sorotan Keras: Negara Dinilai Terlalu Hati-hati
FPN secara terbuka mengkritik pendekatan pemerintah yang dianggap terlalu berhati-hati dalam merespons Israel. Menurut mereka, kehati-hatian tersebut justru berpotensi dibaca sebagai kelemahan.
“Kalau terlalu banyak pertimbangan politik, pesan yang keluar justru bisa dianggap tidak tegas. Ini yang berbahaya,” ujar Furqan.
Ia juga menyinggung bahwa publik mulai melihat adanya jarak antara pernyataan keras pemerintah di forum internasional dan tindakan nyata di lapangan.
Tekanan Politik Mulai Menguat
Dalam aksinya, FPN tidak hanya menyampaikan solidaritas, tetapi juga membawa tuntutan konkret:
- Pemerintah diminta mengambil sikap tegas terhadap Israel
- Evaluasi total keterlibatan Indonesia dalam misi UNIFIL
- Jaminan keamanan yang lebih kuat bagi prajurit TNI
- Penolakan terhadap keterlibatan dalam agenda militer global tertentu
FPN menilai, tanpa langkah konkret, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategis sebagai negara yang konsisten menolak penjajahan.
Tiga Prajurit Gugur, Satu Pesan Kuat
Tiga prajurit TNI yang gugur adalah:
- Praka Farizal Rhomadhon
- Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar
- Sertu Muhammad Nur Ichwan
Kematian mereka menjadi simbol duka sekaligus pemicu tekanan publik yang terus meningkat.
Isu Berpotensi Melebar
FPN mengklaim aksi serupa digelar di berbagai daerah dan berpotensi terus meluas. Jika pemerintah tidak segera merespons, isu ini dinilai bisa berkembang menjadi tekanan politik yang lebih besar.
“Ini bukan hanya soal kebijakan luar negeri, tapi soal bagaimana negara menjaga kehormatan dan melindungi prajuritnya,” tutup Furqan.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi



