Filsafat Budaya Jawa sebagai Landasan Kehidupan Manusia dan Warisan Ajaran Nusantara Sejak Zaman Purbakala
Ditulis oleh:
Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Penggiat Budaya, Pemerhati Filsafat Nusantara,
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia
Bogor – Dalam pandangan masyarakat Jawa dan Nusantara secara luas, kebudayaan bukan sekadar warisan tradisi atau ekspresi seni, melainkan cara manusia memahami, menata, dan memaknai kehidupannya. Kebudayaan hidup sebagai jalan, bukan pajangan; sebagai laku, bukan sekadar wacana.
Sejak zaman purbakala, nenek moyang Nusantara telah membangun suatu pandangan hidup yang menempatkan manusia tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam jejaring relasi dengan alam, masyarakat, leluhur, dan Yang Transenden. Dari pengalaman historis panjang inilah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai filsafat budaya Jawa—sebuah filsafat hidup yang tidak ditulis dalam sistem akademik kaku, tetapi diwariskan melalui simbol, sastra, ritus, dan tata laku keseharian.
Filsafat ini tidak diajarkan melalui dogma, tetapi melalui penghayatan hidup.
Akar Purbakala: Kesadaran Kosmis Manusia Nusantara
Jejak paling awal filsafat Nusantara dapat ditelusuri sejak masa prasejarah, melalui tradisi megalitik seperti punden berundak, menhir, dolmen, serta praktik pemuliaan leluhur. Tradisi ini menunjukkan bahwa manusia Nusantara purba telah memiliki kesadaran kosmis, yaitu kesadaran bahwa kehidupan manusia terikat erat dengan kekuatan alam dan dunia roh.
Gunung dipandang sebagai pusat kosmos, air sebagai sumber kehidupan, dan hutan sebagai ruang sakral. Alam tidak dipahami sebagai objek yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai mitra hidup yang harus dijaga keseimbangannya. Kesadaran ini menjadi fondasi awal etika ekologis Nusantara.
Dari sinilah berkembang pandangan bahwa tugas manusia bukan menguasai dunia, melainkan memelihara keharmonisan semesta, yang dalam tradisi Jawa dirumuskan sebagai hamemayu hayuning bawana.
Filsafat Jawa sebagai Kawruh Urip
Berbeda dengan tradisi filsafat Barat yang tumbuh melalui debat rasional dan argumentasi logis, filsafat Jawa berkembang sebagai kawruh urip—pengetahuan hidup. Ia hadir dalam bentuk tembang, petuah, peribahasa, lakon wayang, dan tata krama sosial.
Kebenaran tidak dipaksakan secara verbal, tetapi disampaikan melalui simbol dan teladan. Orang Jawa percaya bahwa kebijaksanaan sejati tercermin dalam sikap, bukan dalam kepandaian berbicara. Karena itu, filsafat Jawa menekankan pengendalian diri, keselarasan batin, dan kehati-hatian dalam bertindak.
Mpu Kanwa: Pengendalian Diri sebagai Fondasi Kepemimpinan
Pada abad ke-11, Mpu Kanwa melalui Kakawin Arjuna Wiwaha merumuskan salah satu ajaran filsafat kepemimpinan paling penting dalam tradisi Nusantara. Arjuna digambarkan sebagai ksatria yang diuji bukan di medan perang, melainkan dalam pertapaan—tempat ia berhadapan dengan godaan nafsu, kekuasaan, dan keangkuhan diri.
Kemenangan Arjuna bukanlah kemenangan fisik, melainkan kemenangan batin. Pesan filosofisnya jelas:
pemimpin yang gagal menguasai dirinya sendiri akan gagal menguasai kekuasaan.
Dari sini lahir konsep raja-rsi, yaitu pemimpin yang menyatukan kekuasaan politik dengan kebijaksanaan spiritual. Kekuasaan tidak dimaknai sebagai hak absolut, melainkan sebagai amanah kosmis.
Mpu Tantular: Filsafat Toleransi dan Welas Asih
Pada masa Majapahit, Mpu Tantular melalui Kakawin Sutasoma menyampaikan gagasan filsafat moral yang sangat maju. Ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa” bukan sekadar semboyan persatuan, melainkan pernyataan etis dan filosofis yang mendalam.
Mpu Tantular menegaskan bahwa kebenaran sejati bersifat tunggal, tetapi jalan manusia menuju kebenaran beragam. Tidak ada dharma yang menghalalkan kebencian dan kekerasan. Fanatisme, dalam pandangannya, adalah tanda kegagalan memahami hakikat spiritualitas.
Ajaran ini menunjukkan bahwa toleransi dan welas asih telah menjadi nilai dasar Nusantara jauh sebelum konsep pluralisme dikenal dalam wacana modern.
Mpu Prapanca: Negara sebagai Penjaga Harmoni Jagad
Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca sering dibaca sebagai karya sejarah Majapahit, namun sejatinya ia juga mengandung filsafat politik dan kosmologi. Negara dipahami sebagai bagian dari tatanan semesta, bukan entitas yang berdiri di atas segalanya.
Raja, rakyat, dan wilayah dipandang sebagai satu kesatuan kosmis. Kekuasaan memperoleh legitimasi bukan dari kekuatan militer semata, melainkan dari kemampuannya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Ketika kekuasaan merusak harmoni, maka ia kehilangan makna moralnya.
Serat Wedhatama: Pendalaman Filsafat Batin Jawa
Memasuki era Islam-Jawa, filsafat Nusantara mengalami pendalaman batin yang signifikan. Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV mengajarkan empat tahapan sembah: raga, cipta, jiwa, dan rasa.
Sembah raga menekankan etika lahiriah, sembah cipta mengatur pikiran, sembah jiwa menata kesadaran batin, dan sembah rasa menjadi puncak spiritualitas—kejernihan batin yang menyatu dengan nilai Ilahi tanpa kehilangan kemanusiaan.
Pada tahap ini, manusia justru semakin bertanggung jawab secara sosial dan etis, bukan menarik diri dari dunia.
Serat Centhini: Pengetahuan sebagai Laku Kehidupan
Serat Centhini memperlihatkan pandangan Nusantara yang holistik tentang kehidupan. Kitab ini memuat ajaran tentang spiritualitas, etika, seni, relasi sosial, hingga kehidupan sehari-hari. Tidak ada pemisahan kaku antara yang sakral dan yang profan.
Hidup dipahami sebagai proses belajar tanpa henti, di mana setiap pengalaman adalah laku menuju kebijaksanaan. Manusia ideal bukan yang paling berkuasa, melainkan yang paling memahami dirinya dan hidup selaras dengan lingkungannya.
Dari berbagai ajaran dan kitab klasik Nusantara, dapat dirangkum prinsip-prinsip utama filsafat budaya Jawa:
- Manusia adalah bagian dari kosmos, bukan penguasanya
- Kekuasaan harus tunduk pada etika dan pengendalian diri
- Spiritualitas sejati melahirkan welas asih
- Harmoni lebih utama daripada dominasi
- Kesadaran batin adalah puncak kemanusiaan
Prinsip-prinsip ini diwariskan lintas zaman—dari era purbakala, Hindu-Buddha, hingga Islam Nusantara—tanpa pernah terputus.
Kebijaksanaan Nusantara untuk Masa Depan
Filsafat budaya Jawa dan ajaran Nusantara bukan romantisme masa lalu, melainkan warisan intelektual yang relevan untuk menjawab krisis zaman modern. Di tengah kerusakan lingkungan, krisis moral, dan kegaduhan identitas, filsafat Nusantara menawarkan jalan alternatif: bukan dominasi, melainkan keseimbangan; bukan keserakahan, melainkan kebijaksanaan; bukan kekuasaan kosong, melainkan kepemimpinan bermoral.
Menghidupkan kembali filsafat budaya Jawa bukan berarti mundur ke masa lalu, melainkan melangkah ke masa depan dengan akar kebudayaan yang kuat—akar yang telah teruji oleh sejarah, iman, dan perjuangan sosial bangsa Indonesia.
Tentang Penulis
Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas) adalah penggiat budaya dan pemerhati filsafat Nusantara yang aktif menulis tentang kebudayaan, etika sosial, dan refleksi peradaban Indonesia. Ia merupakan Jurnalis Senior Pewarna Indonesia, dengan pengalaman panjang dalam dunia pers nasional.
Selain itu, ia adalah salah satu rohaniawan pada sinode gereja di Indonesia, yang aktif mendorong dialog iman, budaya, dan kemanusiaan. Ia juga merupakan aktivis Reformasi 1998, dengan pengalaman langsung dalam dinamika perjuangan demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.
Melalui tulisan-tulisannya, penulis berupaya menjembatani kearifan tradisi Nusantara, kesadaran iman, dan pengalaman sejarah perjuangan sosial, agar kebudayaan Indonesia tetap hidup sebagai sumber kebijaksanaan bagi masa kini dan masa depan.
Jakarta, 24 Januari 2026


