Dr. Leo Fransisco: Merantau Boleh Jauh, Tapi Akar Dayak Jangan Tercabut

Spread the love

Dr. Leo Fransisco: Merantau Boleh Jauh, Tapi Akar Dayak Jangan Tercabut

Jakarta,31 Januari 2026 — Pelantikan pengurus baru DPW ICDN DKI Jakarta di Balai Kota Jakarta, Jumat (30/1/2026), bukan cuma soal struktur dan jabatan. Di momen HUT ke-7 ICDN ini, muncul pesan kuat soal identitas—khususnya bagi orang Dayak yang hidup dan berjuang di perantauan.

Pesan itu disampaikan Dr. Leo Fransisco, M.Pd., tokoh muda intelektual Dayak yang berkiprah di Bogor sekaligus pengurus ICDN. Di tengah suasana kota besar yang serba cepat, ia mengingatkan satu hal sederhana tapi krusial: jangan kehilangan jati diri.

“Merantau itu soal memperluas langkah, bukan memutus akar. Orang Dayak boleh ke mana saja, tapi budayanya harus tetap dibawa,” ujarnya.

Pelantikan tersebut mengesahkan kepengurusan DPW ICDN DKI Jakarta periode 2026–2031 hasil Musyawarah Wilayah 16 Januari 2026, dengan Benny Matriksa, S.E., M.M. sebagai ketua terpilih. Bagi Dr. Leo, momentum ini adalah pengingat bahwa organisasi harus berdiri di atas nilai, bukan sekadar struktur.

Sebagai kepala sekolah di salah satu SMA ternama di Kota Bogor, Gembala Jemaat GPIAI Filadelfia Bogor, dan Ketua PGLII Kota Bogor, Dr. Leo melihat budaya Dayak sebagai pedoman hidup. Nilai kebersamaan, kejujuran, dan keseimbangan dinilainya justru semakin relevan ketika hidup di tengah masyarakat kota yang majemuk.

“Budaya Dayak mengajarkan hidup berdampingan, menghargai perbedaan, dan menjaga harmoni. Itu bekal penting bagi siapa pun yang hidup di perantauan,” katanya.

Menurutnya, ICDN harus menjadi ruang aman untuk merawat identitas Dayak tanpa menutup diri. Budaya bukan untuk dipertontonkan semata, tetapi dihidupi dan dibagikan sebagai kontribusi positif bagi bangsa.

Di usia tujuh tahun, ICDN disebutnya sudah saatnya naik kelas—lebih dewasa, lebih inklusif, dan lebih berdampak. Pelantikan ini pun dimaknai sebagai awal perjalanan baru: melangkah maju di kota besar, sambil tetap berpijak kuat pada akar budaya.


Jurnalis: Romo Kefas


Tinggalkan Balasan