Doa di Tengah Iman yang Luka
Tuhan,
aku datang bukan dengan iman yang tegak,
tetapi dengan hati yang letih dan pikiran yang kusut.
Aku tidak membawa jawaban,
aku hanya membawa pertanyaan
yang terlalu lama kupendam.
Aku berdoa,
tetapi sering kali aku tidak tahu harus berharap apa.
Karena terlalu banyak harapan yang pernah runtuh
setelah kusebut nama-Mu dengan penuh keyakinan.
Aku malu mengakuinya,
tetapi aku lelah menunggu
tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang Kau kerjakan.
Tuhan,
ada hari-hari ketika aku marah kepada-Mu.
Bukan karena aku tidak percaya,
melainkan karena aku percaya
namun tidak mengerti mengapa harus sesakit ini.
Aku tidak meminta hidup tanpa luka,
aku hanya ingin tahu
mengapa aku harus menanggungnya sendirian.
Jika Engkau diam,
tolong jangan pergi.
Jika Engkau tidak menjawab,
tolong tetap tinggal.
Karena yang paling kutakutkan
bukan penderitaan,
melainkan merasa ditinggalkan.
Aku lelah berpura-pura kuat di hadapan orang lain.
Lelah menjelaskan bahwa “semua baik-baik saja”
padahal aku nyaris runtuh.
Jika aku masih berdiri hari ini, Tuhan,
itu bukan karena aku hebat,
tetapi karena aku tidak tahu
ke mana lagi harus bersandar selain kepada-Mu.
Ampuni aku
jika imanku lebih sering mengeluh daripada memuji.
Ampuni aku
jika doaku lebih banyak tangisan daripada syukur.
Tetapi inilah aku, Tuhan—
datang apa adanya,
tanpa topeng,
tanpa kata-kata indah.
Aku tidak meminta jalan yang mudah.
Aku hanya memohon satu hal:
jangan biarkan aku kehilangan Engkau
saat aku hampir kehilangan segalanya.
Jika aku harus berjalan dalam gelap,
pegang tanganku.
Jika aku harus jatuh,
jangan biarkan aku jatuh sendirian.
Dan jika hari ini aku masih percaya,
itu bukan karena aku sudah mengerti rencana-Mu,
melainkan karena aku memilih
untuk tidak pergi dari-Mu.
Tuhan,
jika doaku hari ini terdengar getir,
terimalah itu.
Karena inilah imanku yang tersisa—
bukan iman yang bersorak,
tetapi iman yang bertahan.
Amin.


