Diam, Waktu, dan Kuasa : Membaca Politik Indonesia melalui Filsafat dan Primbon Jawa

Spread the love

Diam, Waktu, dan Kuasa : Membaca Politik Indonesia melalui Filsafat dan Primbon Jawa

Oleh: Romo Kefas

Dalam jagat politik Indonesia yang riuh oleh opini, tudingan, dan amarah, diam kerap dicurigai sebagai tanda kalah. Padahal, dalam pandangan filsafat Jawa—terlebih bila dirunut melalui primbon—diam justru merupakan laku batin tertinggi. Ia bukan kekosongan sikap, melainkan pengendalian diri yang matang, sebuah cara menata kuasa agar tidak liar dan merusak pemiliknya sendiri.

Orang Jawa sejak lama memahami bahwa hidup tidak semata digerakkan oleh keberanian berbicara, tetapi oleh kemampuan menahan diri pada saat yang tepat.

Primbon Jawa mengajarkan satu prinsip mendasar: wektu iku panguwasa sejati—waktu adalah penguasa sesungguhnya. Barang siapa melawan waktu, ia akan kalah oleh keadaan. Maka dikenal laku meneng ana ing wektu rame, diam di tengah keramaian, agar batin tidak hanyut oleh emosi sesaat.

Dalam primbon, tidak semua masalah harus dijawab hari ini. Ada saat becik meneng, sebab kata-kata yang keluar dari amarah dipercaya akan mengundang sengkala—kesialan yang datang bukan dari luar, melainkan dari diri sendiri.

Primbon memandang sabar sebagai pager batin. Orang yang sabar ibarat rumah berpagar kuat: hinaan dan fitnah boleh datang, tetapi tidak mudah masuk dan merusak. Sebaliknya, mereka yang mudah tersulut emosi dianggap mbukak lawang bilahi—membuka pintu bencana.

Dalam politik, reaksi berlebihan sering kali justru memberi panggung bagi lawan. Diam yang terjaga adalah cara menutup panggung itu, membiarkan kegaduhan kehabisan energi dengan sendirinya.

Pepatah alon-alon waton kelakon sering disalahartikan sebagai pembenaran atas ketidakcekatan. Padahal dalam primbon, pepatah ini adalah ajaran ketekunan yang selaras dengan nasib dan waktu. Hidup dipercaya berjalan dalam siklus: ana munggah, ana mudhun—ada naik, ada turun.

Mereka yang terlalu cepat merasa menang sering lupa bahwa roda masih berputar. Sebaliknya, yang tekun menjalani laku, meski pelan, justru sering tiba pada titik yang lebih tinggi dan lebih lama bertahan.

Primbon Jawa sangat menekankan etika kemenangan. Menjatuhkan orang lain dengan penghinaan diyakini akan berbalik menjadi beban batin. Karena itu dikenal ajaran menang tanpa ngasorake—menang tanpa merendahkan.

Kemenangan semacam ini dianggap bersih secara lahir dan batin. Dalam politik, ia tidak meninggalkan dendam sosial, tidak pula memecah harmoni. Lawan dibiarkan belajar oleh waktu, bukan dipermalukan oleh kekuasaan.

Primbon memandang kuasa sejati sebagai sesuatu yang hening namun terasa. Seperti angin: tidak terlihat, tetapi menggerakkan banyak hal. Nglurug tanpa bala bukan soal minim dukungan, melainkan kemampuan memengaruhi keadaan tanpa kegaduhan.

Di tengah demokrasi yang gemar panggung dan sensasi, laku ini tampak asing. Namun justru di situlah ia selaras dengan watak budaya Indonesia yang menjunjung keseimbangan dan keteduhan.

Dalam primbon Jawa, diam bukan ketiadaan. Ia adalah ruang pengolahan nasib. Kesabaran bukan ketertinggalan, melainkan persiapan. Dan waktu bukan musuh, melainkan sekutu bagi mereka yang mampu membaca tanda.

Maka, ketika seorang pemimpin memilih diam di tengah fitnah panjang, pertanyaannya bukan “mengapa tidak melawan?”, melainkan:
apakah ia sedang menjalani laku, menunggu mangsa, dan membiarkan waktu menuntaskan kebenaran?

Sebab dalam kebijaksanaan Jawa, siapa yang kuat menahan diri, sering kali justru yang paling lama berdiri.

_________

Tinggalkan Balasan