
JAKARTA — Di era ketika informasi bergerak lebih cepat dari kemampuan publik untuk memverifikasi, peran pers justru semakin krusial—bukan sebagai pengikut arus, tetapi sebagai penentu arah. Pengamat Sosial dan Praktisi Media, Eric VR, mengingatkan keras bahwa pers tidak boleh kehilangan kompas moralnya hanya demi mengejar klik dan kecepatan.
Menurut Eric, kondisi media hari ini menghadapi dilema serius: antara tuntutan menjadi yang tercepat atau tetap setia pada prinsip kebenaran. Ia menegaskan, jika pers salah memilih, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas media, tetapi juga kualitas demokrasi itu sendiri.
“Pers bukan pabrik konten. Ia adalah penjaga akal sehat publik. Kalau pers ikut larut dalam arus informasi yang tidak terverifikasi, maka masyarakat kehilangan pegangan,” tegasnya, Selasa (31/3/2026).
UU Pers Bukan Formalitas, Tapi Garis Batas yang Harus Dijaga
Eric VR menilai masih banyak pihak yang memandang Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers hanya sebagai regulasi administratif. Padahal, menurutnya, UU tersebut adalah batas tegas antara kebebasan yang bertanggung jawab dan kebebasan yang liar.
Ia menyoroti pentingnya independensi yang tidak bisa ditawar. Pers, kata dia, harus berdiri di atas kepentingan publik, bukan menjadi alat kepentingan kelompok tertentu.
“Kalau pers sudah tidak independen, maka berita bukan lagi informasi, tapi bisa berubah menjadi propaganda,” ujarnya.
Transparansi Jadi Kunci: Publik Tidak Lagi Mudah Percaya
Di tengah meningkatnya skeptisisme masyarakat terhadap media, transparansi dalam proses jurnalistik dinilai menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan.
Eric menegaskan bahwa publik saat ini semakin kritis. Mereka tidak hanya membaca berita, tetapi juga mempertanyakan sumber, metode, hingga motif di baliknya.
“Era sekarang bukan lagi soal siapa yang bicara, tapi bagaimana dia mendapatkan fakta itu. Kalau media tidak transparan, publik akan mencari sumber lain—dan itu bisa berbahaya,” katanya.
Fenomena “Asal Viral” Ancam Kualitas Jurnalisme
Salah satu sorotan utama Eric VR adalah fenomena media yang lebih mengutamakan potensi viral dibandingkan akurasi. Ia menyebut tren ini sebagai ancaman serius yang bisa merusak fondasi jurnalisme.
“Ketika ukuran keberhasilan berita hanya dilihat dari jumlah klik, maka kualitas akan dikorbankan. Ini yang harus dihentikan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa verifikasi berlapis, konfirmasi sumber, dan kedalaman analisis harus tetap menjadi standar utama, bukan pilihan tambahan.
Pers Harus Siap Dikritik, Bukan Anti Kritik
Eric juga mengingatkan bahwa kepercayaan publik tidak akan tumbuh tanpa keterbukaan terhadap kritik. Media harus berani mengevaluasi diri dan menjadikan masukan masyarakat sebagai bagian dari proses perbaikan.
“Pers yang kuat bukan yang kebal kritik, tapi yang mampu belajar dari kritik,” ujarnya.
Kebenaran Adalah Investasi, Bukan Beban
Menutup pernyataannya, Eric VR menegaskan bahwa konsistensi terhadap etika dan hukum bukanlah hambatan, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pers.
“Kebenaran mungkin tidak selalu viral, tapi selalu bertahan. Dan di situlah kekuatan pers yang sesungguhnya,” pungkasnya.
Seruan ini menjadi pengingat bahwa di tengah riuhnya informasi digital, pers tetap memiliki satu tugas utama: menjaga kebenaran agar demokrasi tetap hidup dan sehat.
(Red/Tim)



