Di Persimpangan Iman: Memilih Hidup atau Kehilangan Segalanya
Ulangan 30
Ada masa ketika hidup tidak lagi berbicara tentang pilihan-pilihan kecil—bukan sekadar soal benar atau salah versi manusia, bukan tentang nyaman atau tidak nyaman. Ada saat-saat di mana Allah membawa manusia ke sebuah persimpangan rohani yang sunyi namun menentukan. Di sana, tidak ada keramaian pendapat, tidak ada pembenaran diri, dan tidak ada ruang untuk bersandiwara iman. Yang ada hanyalah suara Tuhan yang jujur dan tegas, memanggil hati manusia untuk menentukan arah hidupnya.
Di titik inilah iman diuji bukan oleh kata-kata, melainkan oleh keputusan. Banyak orang menginginkan kehidupan dan berkat, tetapi enggan menempuh jalan ketaatan. Banyak yang merindukan keselamatan, namun masih memelihara ilah-ilah kecil dalam hati—ego, ambisi, kenyamanan, dan kehendak diri sendiri. Padahal sejak awal Allah tidak pernah menyamarkan kehendak-Nya: hidup dan mati, berkat dan kutuk, terang dan gelap, selalu berdiri saling berhadapan. Dan manusia tidak dapat hidup di antara keduanya tanpa memilih.
Dalam Ulangan 30, Allah dengan jelas memperhadapkan umat-Nya pada dua pilihan yang mutlak: mengasihi TUHAN dan hidup, atau berpaling dari-Nya dan mengalami kematian. Musa menegaskan bahwa sekalipun umat Israel pernah gagal dan terbuang karena ketidaksetiaan mereka, Allah tetap menyediakan jalan pemulihan. Jika mereka mau berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka Allah berjanji akan mengumpulkan, memulihkan, dan memberkati mereka bahkan lebih daripada nenek moyang mereka (Ul. 30:2–5). Lebih dari itu, Allah sendiri akan menyunat hati mereka agar mampu mengasihi-Nya dan menaati perintah-Nya (ayat 6).
Namun pemulihan itu tidak terjadi tanpa keputusan iman. Allah menyatakan dengan tegas, “Aku menghadapkan kepadamu kehidupan dan kesejahteraan, kematian dan kecelakaan” (ayat 15). Pilihan ini bukan hanya menyangkut umur panjang atau kenyamanan hidup di bumi, melainkan menyentuh dimensi yang jauh lebih dalam: kehidupan atau kematian kekal. Mengasihi Allah berarti hidup dalam perjanjian, setia, dan menolak segala bentuk penyembahan kepada ilah-ilah lain yang mencuri hati manusia (ayat 17).
Kebenaran ini sangat relevan bagi kita sebagai umat Kristen hari ini. Tidak semua orang yang menyebut dirinya Kristen otomatis hidup dalam iman yang sejati. Yesus sendiri mengingatkan bahwa ada yang tampaknya beriman, tetapi akhirnya murtad (Mat. 13:20–21), bahkan ada yang mengaku “Tuhan, Tuhan,” namun tidak dikenal oleh-Nya karena hidupnya tidak taat (Mat. 7:21–23). Iman sejati tidak berhenti pada pengakuan lisan, melainkan dinyatakan dalam ketaatan hidup.
Mengasihi Allah dengan segenap hati berarti memilih jalan-Nya setiap hari—bukan hanya ketika itu menguntungkan, tetapi juga ketika itu menuntut pengorbanan. Seperti yang Yesus tegaskan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Jika hidup kita masih dikendalikan oleh kehendak sendiri, firman hari ini menjadi peringatan yang serius: kita sedang berada di persimpangan iman.
Selama hari masih siang dan kesempatan masih ada, Allah memanggil kita untuk memilih dengan sadar. Bukan setengah-setengah, bukan di wilayah abu-abu, tetapi dengan keputusan yang jelas dan taat. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup—bukan hanya hari ini, tetapi sampai selama-lamanya.
✍️ Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
GPIAI Filadelfia Bogor


