
Di Lalow, Janji Itu Diucapkan: Ketika Pernikahan Dimaknai Lebih dari Sekadar Bahagia
Lolak, 11 April 2026 – Tidak semua pernikahan dimulai dengan gemerlap. Di sebuah sudut Desa Lalow, Sabtu siang itu, justru kesederhanaan menghadirkan makna yang lebih dalam. Junli Momongan dan Irene Laoh berdiri berdampingan, bukan hanya untuk merayakan cinta, tetapi untuk mengikat komitmen yang akan diuji oleh waktu.
Bertempat di Hotel Kendis Trans-Sulawesi, ibadah pemberkatan berlangsung dalam suasana yang tenang namun penuh kesadaran. Setiap rangkaian acara berjalan tanpa berlebihan, seolah memberi ruang bagi makna untuk berbicara lebih lantang daripada seremoni itu sendiri.
Irene, putri dari Pdt. Jemfri Laoh dan Jeine Wowor, tampak mantap melangkah menuju fase hidup yang baru. Di sampingnya, Junli, putra dari Rulan Weli Robot dan Anike Selvi Massie, menunjukkan kesiapan yang sama—bukan hanya sebagai pasangan, tetapi sebagai dua pribadi yang memilih untuk bertumbuh bersama.
Dipandu oleh Pdt. Mariani Sitorus, jalannya ibadah tidak hanya tertata, tetapi juga mengalir dengan nuansa perenungan. Lagu-lagu pujian yang dinaikkan tidak sekadar dinyanyikan, melainkan menjadi doa yang hidup di tengah jemaat.
Saat firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Doni Abraham Sompotan, suasana berubah menjadi lebih hening. Ia mengingatkan bahwa banyak orang memasuki pernikahan dengan harapan kebahagiaan, tetapi lupa bahwa pernikahan adalah ruang pembentukan karakter.
“Kesatuan itu bukan sesuatu yang terjadi sekali, tetapi sesuatu yang diperjuangkan setiap hari,” pesannya singkat, namun mengandung bobot yang dalam.
Lebih jauh, ia menyinggung bahwa kasih dalam rumah tangga tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dirasakan. Ada saat-saat di mana kasih harus diwujudkan dalam kesabaran, pengampunan, bahkan pengorbanan yang tidak terlihat.
Di tengah acara, kehadiran pemerintah desa melalui Sangadi Lalow menjadi penanda bahwa pernikahan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial. Harapan agar pasangan ini menjadi teladan di tengah masyarakat disampaikan tanpa berlebihan, namun terasa relevan.
Ucapan syukur dari pihak keluarga menutup rangkaian acara dengan nuansa hangat. Tidak ada yang berusaha tampil menonjol—semuanya kembali pada satu hal: rasa terima kasih.
Hari itu di Lalow, tidak hanya dua orang yang dipersatukan. Ada nilai, iman, dan harapan yang ikut disematkan dalam janji yang diucapkan.
Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang seberapa indah awalnya—melainkan seberapa kuat ia bertahan.
(J. Laoh)
Editor Tim Redaksi
Publisher EL



