
Di Balik Bencana, Sekolah Tak Menyerah: Anak-anak Sumatra Kembali Mengejar Mimpi
Jakarta, pelitakota.id — Bencana sempat merenggut ruang belajar, tetapi tidak mampu memadamkan semangat anak-anak di sejumlah wilayah Sumatra. Dari tenda darurat hingga ruang kelas yang perlahan diperbaiki, proses belajar mengajar kini kembali menggeliat, membawa harapan baru bagi dunia pendidikan.
Di beberapa daerah terdampak, siswa yang sebelumnya belajar dalam keterbatasan kini mulai kembali duduk di bangku sekolah. Pemerintah bersama berbagai pihak terus mempercepat pemulihan, memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa berjalan normal secara bertahap.
Di Sumatra Utara, SD Negeri 158498 Aek Tolang menjadi salah satu potret kebangkitan itu. Setelah sempat menjalani pembelajaran di tenda darurat pada akhir 2025, kini aktivitas belajar sudah kembali berlangsung di ruang kelas.
Kepala sekolah, Hayati, mengungkapkan bahwa perubahan tersebut membawa dampak besar bagi psikologis siswa. “Anak-anak terlihat lebih percaya diri dan bersemangat ketika kembali belajar di sekolah,” ujarnya.
Pendekatan pembelajaran pun disesuaikan. Sekolah menerapkan sistem adaptif dengan kurikulum yang lebih fleksibel agar siswa dapat mengejar ketertinggalan tanpa tekanan berlebih. Fokus utama diarahkan pada pemulihan mental sekaligus penguatan materi dasar.
Sementara itu, kondisi berbeda masih terlihat di Sumatra Barat. SMAN 1 Batang Anai masih menjalankan KBM di lokasi sementara seperti tenda darurat dan fasilitas umum. Meski demikian, proses belajar tetap berlangsung.
Kepala sekolah, Zulbaidah, mengatakan bahwa pihaknya harus menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi yang ada. “Kami menyederhanakan materi dan mengatur waktu belajar agar siswa tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik,” jelasnya.
Upaya pemulihan tidak hanya berhenti pada penyediaan ruang belajar. Bantuan berupa perlengkapan sekolah, layanan trauma healing, hingga perbaikan fasilitas sanitasi menjadi bagian penting dalam membangun kembali ekosistem pendidikan yang layak.
Pemerintah daerah juga mengambil peran aktif dalam mempercepat normalisasi wilayah terdampak, termasuk melalui pengerahan alat berat untuk membuka akses dan memperbaiki lingkungan sekitar sekolah.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh terhenti oleh situasi apa pun.
“Di tengah keterbatasan, pendidikan harus tetap berjalan. Ini tentang menjaga masa depan anak-anak agar tidak ikut hilang bersama bencana,” tegasnya.
Kini, di tengah sisa-sisa dampak bencana, suara langkah kaki siswa kembali memenuhi halaman sekolah. Sebuah tanda bahwa harapan masih hidup, dan pendidikan tetap menjadi cahaya bagi masa depan.
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi



