Di dalam doaku, namamu selalu ada, Nak.
Dan tanpa terasa, engkau telah beranjak dewasa
PELITAKOTA.ID, 16 Februari 2026 – Aku adalah seorang jurnalis media online independen. Hidupku bergerak di antara fakta dan opini, tekanan dan keberanian, kecepatan dan ketepatan. Setiap hari aku menulis untuk publik. Setiap malam aku bergumul dengan nurani. Tetapi di balik semua itu, ada satu panggilan yang jauh lebih besar daripada profesiku: menjadi ayahmu.
Rasanya baru kemarin aku menggenggam tangan kecilmu. Kini tangan itu sudah kuat menggenggam arah hidupmu sendiri. Dulu aku menjadi pelindungmu dari dunia. Sekarang aku belajar mempercayakanmu kepada dunia—dan kepada Tuhan.
Waktu berjalan tanpa suara.
Tiba-tiba saja anak kecil itu kini berdiri dengan pikirannya sendiri.
Sebagai jurnalis independen, aku tahu dunia tidak selalu ramah terhadap kebenaran. Aku tahu bagaimana rasanya berdiri sendirian demi sebuah prinsip. Aku tahu godaan untuk menyesuaikan diri agar lebih mudah diterima. Dan justru karena itulah, kerinduanku terhadapmu semakin dalam.
Aku tidak berharap engkau menjadi yang paling terkenal.
Aku tidak berharap engkau menjadi yang paling dipuji.
Aku hanya berharap engkau menjadi pribadi yang benar.
Benar dalam perkataan.
Benar dalam keputusan.
Benar ketika tidak ada yang melihat.
Aku ingin engkau berani berkata benar tanpa perlu bersumpah. Aku ingin “ya”-mu dipercaya tanpa perlu diperkuat janji. Aku ingin “tidak”-mu dihormati tanpa perlu penjelasan panjang. Karena aku percaya, karakter jauh lebih kuat daripada pencitraan.
Jika aku memilih berdiri sendiri dalam profesiku, itu bukan semata-mata demi idealisme. Itu karena aku tahu engkau sedang belajar dari caraku hidup. Engkau mungkin tidak membaca setiap tulisanku, tetapi engkau membaca setiap sikapku.
Kerinduanku sederhana namun dalam:
Agar engkau lebih bijaksana dariku.
Lebih tenang dalam tekanan.
Lebih lembut dalam menyampaikan kebenaran.
Aku tidak ingin dunia mengeraskan hatimu. Aku ingin dunia menemukan dalam dirimu seseorang yang kuat namun penuh kasih.
Ada malam-malam ketika setelah menutup laptop, aku duduk dalam diam. Tidak lagi sebagai jurnalis. Hanya sebagai ayah. Aku menyebut namamu dalam doa. Aku tidak selalu meminta agar jalanmu mudah. Aku hanya meminta agar hatimu tetap lurus.
Karena hidup bukan tentang seberapa tinggi engkau naik, tetapi seberapa teguh engkau berdiri.
Jika suatu hari engkau melangkah lebih jauh dari yang pernah kucapai, aku tidak akan merasa tersaingi. Aku akan merasa bersyukur. Karena itulah harapan terdalam seorang ayah: melihat anaknya melampaui dirinya, tanpa kehilangan nilai yang diwariskan.
Di antara deadline dan doa,
di antara berita dan keheningan,
aku belajar bahwa warisan terbesarku bukan tulisan di media.
Warisan terbesarku adalah engkau—
yang kuharap bertumbuh menjadi pribadi yang dipercaya.
Dan jika suatu hari dunia bertanya siapa aku,
biarlah jawabannya sederhana:
Seorang ayah yang berjuang menjaga integritas,
agar anaknya bisa berdiri tegak—
bukan hanya karena kuat,
tetapi karena benar.
Penulis: Romo Kefas


