Dari Sabang Sampai Merauke, Misi Menginspirasi: Saatnya Indonesia Mengutus!

Spread the love

Pelitakota -;Siapkan diri untuk menyaksikan sebuah transformasi epik! Indonesia, yang selama ini kita kenal sebagai “ladang misi”, kini siap bertransformasi menjadi pusat pengutusan misionaris yang mendunia. Bukan sekadar mimpi di siang bolong, tapi sebuah visi yang sangat mungkin terwujud! Indonesia memiliki potensi tersembunyi yang siap diledakkan. Dengan populasi Kristen yang mencapai 28 juta jiwa (BPS, 2020), setara dengan 10,6% dari total penduduk, serta indeks keragaman budaya yang tinggi (Skor 0,765 menurut Indeks Pembangunan Kebudayaan, Kemendikbudristek, 2021), kita memiliki modal dahsyat untuk melahirkan misionaris-misionaris yang handal, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5:13)

Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.,

“Indonesia itu gudangnya kearifan lokal, jembatan emas yang menghubungkan kita dengan berbagai suku bangsa di dunia. Mari kita gali potensi ini, meramunya menjadi strategi misi yang bukan hanya efektif, tapi juga menyentuh relung hati dan mengubah jalan hidup,” tegas Dr. Miriam Kartika, seorang sosiolog agama yang getol mempelajari dinamika misi lintas budaya. “Sebab bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.” (1 Korintus 9:22) “Sepi ing pamrih, rame ing gawe” – (Jawa: Bekerja tanpa pamrih, bersemangat dalam berkarya).

Selama ini, gereja-gereja di Indonesia terlalu nyaman jadi penonton, asyik menerima bantuan dan pengajaran dari luar. Akibatnya, semangat untuk mengutus misionaris ke bangsa-bangsa lain belum membara. Padahal, di setiap pelosok negeri ini, lahir talenta-talenta muda yang siap jadi pemimpin misi yang visioner dan berdedikasi. “Jangan seorang pun meremehkan engkau karena engkau muda. Tetapi jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan, perilaku, kasih, kesetiaan dan kesucian.” (1 Timotius 4:12) “Sacangreud pageuh, sagolek pangkek” – (Sunda: Sekata janji, sekuat ikatan).

“Kita wajib investasi lebih banyak dalam pendidikan missiologi yang kekinian. Jangan cuma kirim misionaris dengan semangat membara, tapi bekali mereka dengan ilmu yang mendalam, skill yang mumpuni, dan pemahaman lintas budaya yang tajam. Data dari Forum Pendidikan Teologi di Indonesia (FPTI, 2023) menunjukkan, lulusan program teologi yang memiliki kompetensi lintas budaya memiliki tingkat penempatan pelayanan misi yang lebih tinggi sebesar 30%,” seru Pdt. Samuel Tan, rektor sebuah Sekolah Tinggi Teologi yang terkenal dengan program studi misi yang inovatif dan transformatif. “Beritakanlah firman, siap sedialah dalam segala waktu, baik atau tidak baik, nyatakanlah kesalahan, tegurlah, nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4:2) “Ora et labora” – (Filsafat: Berdoa dan bekerja).

Saatnya kita ubah mindset, tinggalkan zona nyaman, dan sambut panggilan untuk jadi berkat bagi dunia! Kita harus dorong gereja-gereja di Indonesia untuk ambil peran aktif dalam mengutus misionaris ke berbagai penjuru bumi. Kita wajib latih dan bekali para pemimpin gereja dengan visi yang jelas, strategi yang jitu, dan hati yang penuh kasih. “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Lalu aku menyahut: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8)

Ambil contoh nyata: Lihat bagaimana yayasan-yayasan Kristen di Indonesia, seperti World Vision Indonesia dan Wahana Visi Indonesia, sukses mengirimkan tim medis dan relawan untuk bantu korban bencana di berbagai negara (Laporan Tahunan World Vision Indonesia, 2022; Laporan Dampak Wahana Visi Indonesia, 2023). Ini bukti nyata bahwa Indonesia punya kapasitas untuk berkontribusi signifikan dalam misi global, bukan cuma omong doang, tapi aksi nyata! “Sebab Aku lapar, dan kamu memberi-Ku makan; Aku haus, dan kamu memberi-Ku minum; Aku seorang asing, dan kamu menyambut Aku; Aku telanjang, dan kamu memberi-Ku pakaian; Aku sakit, dan kamu melawat Aku; Aku di penjara, dan kamu mengunjungi Aku.” (Matius 25:35-36)

Program-program pendidikan yang fokus pada studi misi (missiologia) punya peran krusial dalam mewujudkan visi mulia ini. Program-program ini harus dirancang dengan menggandeng lembaga-lembaga misi top dunia, seperti OMF International dan Wycliffe Global Alliance, menciptakan sinergi yang dahsyat, dan memberikan mahasiswa wawasan global serta jaringan internasional yang tak ternilai harganya.

“Program D.Miss (Doctor of Missiology) adalah salah satu cara untuk melahirkan para ahli misi yang bukan cuma punya ilmu teoretis yang mendalam, tapi juga skill praktis untuk merumuskan strategi misi yang inovatif, memimpin gerakan misi di berbagai konteks budaya yang kompleks, dan menginspirasi generasi penerus untuk melayani Tuhan dengan sepenuh hati!” jelas Dr. Robert Chen, seorang pakar misi kelas dunia yang aktif mengembangkan kurikulum missiologi di berbagai negara (International Review of Mission, 2020). “Hendaklah kamu memiliki pikiran yang sama dengan Kristus Yesus.” (Filipi 2:5)

Selain itu, kita juga perlu memberikan pengakuan profesional yang pantas kepada para pelayan misi yang sudah menunjukkan kompetensi, dedikasi, dan integritas yang tinggi. Ini akan memotivasi mereka untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperluas wawasan, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi misi dunia. “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia melupakan pekerjaanmu dan kasihmu yang telah kamu tunjukkan kepada nama-Nya, yaitu dalam pelayananmu kepada orang-orang kudus, dan yang masih kamu lakukan.” (Ibrani 6:10)

Dengan langkah-langkah yang terencana dan terkoordinasi, kita bisa mengubah wajah kekristenan di Indonesia. Kita bisa mengubah gereja-gereja di Indonesia dari sekadar penerima berkat menjadi saluran berkat, dari penonton pasif menjadi pemain utama dalam panggung misi dunia. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16)

Saatnya Indonesia bangkit, bersinar, dan mengutus! Mari ukir sejarah baru, bahwa dari bumi khatulistiwa ini akan terpancar terang Injil yang menjangkau setiap bangsa, suku, dan bahasa! “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:14)

Oleh Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.,

Tentang Penulis: Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K., adalah seorang jurnalis senior di Pewarna Indonesia yang aktif meliput isu-isu keagamaan dan sosial. Sebagai aktivis dan penggiat sosial, beliau memiliki kepedulian yang besar terhadap pemberdayaan masyarakat dan pelayanan lintas budaya. Selain itu, beliau juga merupakan seorang rohaniwan yang melayani di salah satu Sinode Gereja di Indonesia

Tinggalkan Balasan