Dari Ruang Lokakarya ke Gerakan Nasional: GGP Siapkan Ekspansi 1.500 Jemaat
Bogor – Apa yang terjadi di GGP Immanuel Bogor akhir pekan lalu bukan sekadar lokakarya sejarah. Di balik diskusi akademik tentang jejak pelayanan Rev. Johannes Gerhard Thiessen, Sinode Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar: ekspansi nasional menuju 1.500 jemaat.
Dua hari forum bertajuk penelusuran sejarah pelayanan Papa Thiessen menjadi titik konsolidasi. Sejarah ditata ulang, data dilengkapi, dan arah strategis diperjelas.
Lokakarya ini memperkuat dokumentasi perjalanan satu abad GGP yang sebelumnya dirangkum dalam buku Benih Yang Tumbuh (1923–2023) serta hasil kajian sejarah dalam forum “Jejak Yang Hilang” .
Bukan Nostalgia, Tapi Strategi
Ketua Umum GGP Pdt. Dicky Suwarta, M.Th bersama jajaran pimpinan sinode hadir langsung dalam forum tersebut. Turut terlibat Sekretaris Umum Pdt. Robertus Sela, M.Th, Sekretaris II Majelis Pusat Pdt. Dr. Edmon Pakasi, M.Th, serta Pembimas Kristen Kanwil Jawa Barat Pdt. Dr. Harapan Nainggolan, M.Min., M.Th.
Sejumlah akademisi dan pemerhati sejarah gereja seperti Pdt. Dr. Sonny Suryawan, M.Th dan Pdt. Dr. Frans Setiady memaparkan temuan yang dinilai semakin melengkapi potret sejarah.
Kesimpulannya tegas: sejarah GGP kini semakin jelas, terpetakan dalam tiga fase besar—pelayanan awal, perintisan gerakan, dan perkembangan modern.
Namun yang paling menarik, forum ini tidak berhenti pada pelurusan sejarah.
Threefold: Kata Kunci Abad Kedua
Dari diskusi sejarah lahir deklarasi strategis: Threefold.
Visi ini dimaknai sebagai pertumbuhan tiga kali lipat di semua lini—struktur organisasi, kepemimpinan, perintisan jemaat, dan penguatan generasi muda.
Targetnya konkret: 1.500 jemaat nasional.
Sinode GGP menilai bahwa prinsip warisan Papa Thiessen—Swa Dana, Swa Daya, dan Swa Praja—menjadi fondasi untuk mempercepat pertumbuhan tersebut .
Jika satu abad pertama adalah fase bertumbuh, maka abad kedua disebut sebagai fase mengakselerasi.
Dari Percikan 1923 ke Ekspansi 2026
Pada 29 Maret 1923 di Cepu, kebangunan rohani yang sederhana menjadi titik awal lahirnya Pinksterbeweging di Indonesia. Seabad kemudian, GGP tidak lagi berbicara tentang bertahan—tetapi berkembang.
Lokakarya ini menandai perubahan narasi: dari penggalian sejarah menjadi pergerakan nasional.
Dari satu percikan api menjadi jaringan pelayanan.
Dari satu abad menjadi lompatan tiga kali lipat.
Dari sejarah menuju strategi.
Abad kedua GGP resmi dimulai bukan dengan perayaan, tetapi dengan target.
Oleh: Romo Kefas
Sumber: Sinode Gereja Gerakan Pentakosta (GGP)


