Dari Mimbar ke Tobong: Ketika Pdt. Dwi Tartiyasa Mewartakan Injil Lewat Ketoprak Rakyat
YOGYAKARTA — Tidak semua pewartaan Firman Tuhan lahir dari mimbar gereja. Bagi Pdt. Dwi Tartiyasa, S.Th., Injil justru menemukan denyutnya di tengah debu panggung, denting gamelan, dan dialog ketoprak yang berpindah dari desa ke desa.
Pendeta yang akrab disapa Rama Dwi ini dikenal luas bukan hanya sebagai pelayan Gereja Baptis Indonesia, tetapi juga sebagai tokoh yang menjembatani iman Kristen dan kebudayaan Jawa melalui kesenian ketoprak tobong—seni rakyat yang hidup, berpindah, dan menyatu dengan masyarakat akar rumput.
Ketika Injil Menyapa Budaya
Perjumpaan Rama Dwi dengan ketoprak bermula saat ia melayani di Kediri, Jawa Timur, pada awal 1990-an. Di tengah geliat seni rakyat yang terhimpit krisis ekonomi 1999, ia justru memilih hadir dan menghidupkan kembali komunitas ketoprak yang nyaris mati. Sejak 23 Juli 2000, kelompok ketoprak tobong itu bangkit dan bertumbuh di bawah kepemimpinannya.
Bagi Rama Dwi, seni bukan sekadar hiburan. Ia adalah bahasa kultural yang mampu menyampaikan pesan iman secara membumi—tanpa kehilangan kedalaman makna.
Hijrah, Nomaden, dan Bertahan
Ketika Rama Dwi pindah melayani ke Yogyakarta pada 2006, komunitas ketoprak binaannya turut berhijrah dan menjelma menjadi Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya. Kata tobong menandai kehidupan mereka: panggung sederhana, gamelan yang dibongkar-pasang, dan hidup nomaden dari satu desa ke desa lain.
Selama bertahun-tahun, kelompok ini berpindah lokasi hingga 49 kali, mengalami pasang surut, bahkan sempat nyaris berhenti. Namun sejak 2012, mereka kembali bangkit dan akhirnya menetap di Dusun Brayut, Wukirsari, Cangkringan, Sleman—menjadi saksi ketekunan seni rakyat yang tak mudah menyerah.
Alkitab dalam Bahasa Ketoprak
Yang membuat kiprah Rama Dwi istimewa adalah keberaniannya menggubah kisah-kisah Alkitab ke dalam naskah ketoprak berbahasa Jawa. Di panggung yang sama dengan cerita Majapahit, Mataram, dan Babad Tanah Jawi, tokoh-tokoh Alkitab dihadirkan dalam dialog rakyat—tanpa kehilangan pesan teologisnya.
Pendekatan ini mendapat dukungan dari Gereja Baptis Indonesia sebagai bentuk pelayanan kontekstual. Bahkan, melalui dokumentasi video yang dilakukan putranya, Risang Yuwono, pementasan ketoprak Alkitabiah itu kini dapat diakses lebih luas melalui platform digital.
Beberapa pementasan juga dilengkapi narasi bahasa Indonesia oleh Livy Laurens MACE, MA, agar pesan Firman Tuhan menjangkau lintas budaya dan generasi.
Iman yang Cermat, Budaya yang Dijaga
Bagi Rama Dwi, pewartaan melalui seni bukan jalan pintas. Ia menuntut kecermatan dan tanggung jawab.
“Ketika seni budaya dipakai untuk memberitakan Firman Tuhan, kita harus berhati-hati. Jangan sampai budaya dirusak, dan jangan pula Firman Tuhan menjadi bias,” ujarnya semasa hidup.
Kini, setelah kepergiannya pada 14 Mei 2024, jejak pelayanan Rama Dwi tetap hidup—di panggung tobong, di tembang Jawa, dan di kisah-kisah Alkitab yang terus dipentaskan dengan gamelan dan laku rakyat.
Di sanalah Injil tidak hanya didengar, tetapi dialami.


