Cap Go Meh: Tradisi Penutup Imlek yang Menjadi Simbol Harmoni Kebangsaan
Cap Go Meh kerap dikenal sebagai puncak perayaan Tahun Baru Imlek. Namun di Indonesia, maknanya melampaui sekadar penutup kalender perayaan. Ia telah tumbuh menjadi simbol harmoni, akulturasi, dan ketahanan tradisi di tengah dinamika zaman.
Dirayakan pada hari ke-15 setelah Imlek, Cap Go Meh menandai berakhirnya rangkaian Festival Musim Semi. Dalam tradisi Tionghoa, momen ini identik dengan bulan purnama pertama di awal tahun baru penanggalan lunar—sebuah perlambang kesempurnaan, cahaya, dan harapan yang kembali diperbarui.
Awalnya, Cap Go Meh dirayakan dalam lingkup keluarga dan komunitas. Lampion dinyalakan, doa dipanjatkan, dan hidangan disajikan sebagai ungkapan syukur. Seiring perjalanan waktu, terutama di Indonesia, perayaan ini berkembang menjadi agenda budaya berskala besar yang melibatkan masyarakat luas.
Di berbagai kota, Cap Go Meh menghadirkan pawai budaya, pertunjukan barongsai dan naga, hingga ritual tatung yang sarat nilai spiritual. Jalan-jalan utama berubah menjadi panggung terbuka yang memperlihatkan kekayaan tradisi Tionghoa yang telah berakar kuat di Nusantara.
Setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri dalam merayakan Cap Go Meh. Di Kalimantan Barat, perayaan ini dikenal luas karena parade tatung yang menjadi daya tarik wisata budaya. Di ibu kota, kawasan Pecinan dipenuhi dekorasi lampion merah yang menggantung di sepanjang jalan, menciptakan suasana yang khas dan penuh semarak.
Yang menarik, Cap Go Meh di Indonesia tidak berdiri sebagai tradisi yang eksklusif. Ia terbuka dan inklusif. Masyarakat dari berbagai latar belakang turut menyaksikan, bahkan terlibat dalam perayaan. Inilah wajah lokal yang membuat Cap Go Meh memiliki karakter berbeda dibandingkan perayaan serupa di negara lain.
Selain atraksi budaya, Cap Go Meh juga identik dengan hidangan khas yang mencerminkan proses pertemuan budaya. Salah satu yang paling dikenal adalah Lontong Cap Go Meh—perpaduan kuliner Tionghoa dan Jawa yang lahir dari interaksi panjang antar komunitas.
Tradisi ini menunjukkan bahwa budaya tidak statis. Ia bergerak, menyesuaikan diri, dan menemukan bentuk baru tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Di era modern, Cap Go Meh menghadapi tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, arus globalisasi dapat mengikis makna tradisi menjadi sekadar tontonan. Di sisi lain, perhatian publik yang semakin besar membuka ruang pelestarian yang lebih luas.
Perayaan ini bukan hanya soal pesta dan kemeriahan, melainkan tentang bagaimana generasi muda memahami akar sejarahnya. Cap Go Meh menjadi pengingat bahwa identitas budaya adalah bagian penting dari perjalanan bangsa.
Pada akhirnya, Cap Go Meh bukan hanya perayaan komunitas, melainkan cermin kebinekaan Indonesia. Di bawah cahaya lampion dan purnama, masyarakat berkumpul bukan sekadar untuk merayakan akhir rangkaian Imlek, tetapi juga untuk merawat semangat kebersamaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.


