CAHAYA KEADILAN PERLU DIPELIHARA – MARILAH KITA BERPERAN

Spread the love

Bogor – Cerita yang berarti, yang menyentuh hati dan membuka mata, tidak muncul dengan sendirinya. Kami bekerja keras untuk menggali fakta di lapangan, menjaga server agar selalu online, dan memastikan tidak ada hoaks yang masuk ke konten kami. Tapi sekarang, kami harus bilang terbuka – dana kami hampir habis, dan ini mengancam semua yang telah kita bangun bersama.

Ini bukan sekadar website hiburan atau media massa biasa. Ini adalah tempat yang bertugas melawan kebohongan yang merajalela, jembatan yang menghubungkan manusia satu sama lain, dan alat untuk menyebarkan kemuliaan Tuhan melalui jurnalistik yang jujur. Seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang bertugas mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan benar. Seperti yang dikatakan dalam pribahasa Jawa: “Ora ana sing dumadi saka ora ono” – tidak ada sesuatu yang muncul dari tidak ada apa-apa. Setiap hal yang berharga membutuhkan usaha dan dukungan, dan tanpa dukungan nyata dari Anda, semua ini bisa lenyap dalam sekejap.

Realitasnya, sebagian besar jurnalis media online independen hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Mereka tidak memiliki dukungan besar dari korporasi atau lembaga tertentu – hanya mengandalkan semangat yang membara dan idealisme untuk membawa kebenaran kepada masyarakat, sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik Indonesia yang mengamanatkan wartawan untuk bersikap independen, akurat, dan berimbang. Ada kalanya mereka harus menggunakan uang pribadi untuk membeli bahan bakar kendaraan, membayar biaya komunikasi, atau bahkan makan sambil bekerja di lapangan. Kadang-kadang mereka harus memilih antara memenuhi kebutuhan dasar keluarga atau mendapatkan fasilitas yang layak seperti peralatan kerja yang memadai, akses ke sumber informasi yang terpercaya, atau perlindungan saat melakukan tugas di lapangan. Tapi mereka tetap melanjutkan pekerjaan ini karena yakin bahwa masyarakat berhak mengetahui apa yang benar-benar terjadi, sebagaimana amanat dalam Undang-Undang Pers tentang hak publik untuk informasi.

Di era di mana kebohongan menyebar lebih cepat dari kebenaran, dan suara yang jujur seringkali teredam oleh kepentingan tertentu, kita tidak punya pilihan lain selain berdiri tegak. Seperti yang tertulis dalam Matius 5:16: “Biarlah terangmu bersinar di hadapan manusia, supaya mereka melihat pekerjaan baikmu dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Kita adalah cahaya itu – tapi cahaya tidak akan menyala jika tidak ada bahan bakar. Pribahasa Jawa pun mengingatkan: “Kanthi ati, ati bisa dipunelus” – dengan kesungguhan hati, kita bisa menggerakkan hati orang lain untuk berperan serta.

Banyak dari mereka bekerja tanpa fasilitas yang layak seperti jaminan kesehatan, perlengkapan keselamatan untuk peliputan di daerah berisiko, atau ruang kerja yang nyaman dan ergonomis. Mereka menghadapi risiko intimidasi, ancaman, bahkan serangan fisik hanya karena menggali fakta yang tidak ingin dilihat oleh sebagian orang. Namun, mereka tetap konsisten menjalankan tugas sesuai Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik yang mengharuskan untuk menguji informasi secara menyeluruh, memberitakan secara berimbang, dan tidak mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi. Seperti yang diatur dalam Standar Perlindungan Profesi Wartawan, wartawan berhak mendapatkan perlindungan hukum, perlengkapan kerja yang memenuhi standar, serta asuransi saat ditugaskan di wilayah berbahaya. Tapi semangat mereka tidak pernah padam – mereka percaya bahwa jurnalistik adalah tugas mulia untuk melayani masyarakat, bukan untuk mencari keuntungan pribadi atau memihak kepentingan tertentu.

Setiap berita yang kami publikasikan, setiap wawasan yang kami sampaikan, adalah bentuk perwujudan ajaran Matius 25:40: “Jawabnya, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, apa saja yang telah kamu lakukan kepada salah seorang dari saudara-Ku yang paling kecil ini, itu sama saja yang telah kamu lakukan kepada-Ku.’” Kami tidak bermain-main dengan tugas ini – kami bekerja untuk keadilan, membantu yang tertindas, dan menyebarkan kasih karena itu adalah kewajiban kita sebagai umat beriman. Selain itu, hal ini juga sejalan dengan fungsi pers yang diatur dalam Undang-Undang Pers, yaitu sebagai wahana untuk mengawal keadilan dan kepentingan publik. Seperti yang dikatakan dalam pribahasa Jawa: “Utomo ing ngisor, wekas ing ndhuwur” – kebaikan dimulai dari yang terkecil, dan kesuksesannya terlihat dari hasil yang dicapai bersama.

Mereka seringkali harus bekerja selama berjam-jam tanpa istirahat – mulai dari pagi hingga larut malam – hanya untuk memastikan berita yang mereka buat akurat dan tepat waktu, sesuai dengan Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik tentang keakuratan dan objektivitas. Tidak ada sistem kerja yang tetap, tidak ada kantor yang nyaman dengan peralatan modern – mereka bekerja di mana saja, kapan saja, selama bisa mendapatkan informasi yang benar. Selain itu, sebagai penyelenggara pers elektronik, kami juga tunduk pada peraturan yang mengatur media online, seperti peraturan terkait penyediaan fasilitas yang layak untuk jurnalis agar dapat menjalankan tugas dengan profesional. Semua ini mereka lakukan bukan karena ada imbalan besar, tapi karena mereka percaya bahwa kebenaran layak untuk diperjuangkan.

Kita tidak bisa melanjutkan tanpa dukungan Anda:

– Jurnalis tidak bisa bekerja jika tidak ada biaya untuk lapangan – mereka harus pergi ke lokasi, bertemu dengan sumber, dan mengumpulkan bukti yang sahih. Tanpa fasilitas yang layak seperti kendaraan yang handal atau biaya transportasi yang cukup, mereka tidak dapat menjangkau daerah terpencil untuk mendapatkan informasi pertama tangan. Tidak ada hasil yang baik jika hanya duduk di depan komputer.
– Server tidak akan menyala dengan sendirinya – biaya operasional harus dibayar agar Anda bisa mengakses konten kapan saja, di mana saja. Selain itu, kami juga membutuhkan fasilitas yang layak seperti perangkat lunak editing yang canggih dan sistem keamanan yang handal untuk melindungi konten dari serangan siber.
– Verifikasi informasi membutuhkan biaya – kita tidak bisa hanya menerbitkan apa saja. Setiap fakta harus diperiksa secara menyeluruh agar tidak ada kesalahan yang bisa merusak kepercayaan Anda, sesuai dengan tuntutan Kode Etik Jurnalistik tentang pengujian informasi dan kebenaran berita. Tanpa fasilitas yang layak seperti akses ke database resmi atau jaringan sumber informasi yang terpercaya, proses verifikasi akan menjadi lebih sulit dan memakan waktu.

Faktanya adalah – dana kami hampir habis. Jika tidak ada tindakan segera, semua yang kita bangun akan hancur. Pribahasa Jawa mengingatkan kita: “Siji tangan ora bisa ngguyu” – satu tangan tidak bisa bersiul, kerja sama dan dukungan bersama adalah kunci untuk tetap berdiri.

Tanpa dukungan dari Anda, kita tidak bisa lagi mengirim jurnalis ke daerah terpencil, tidak bisa lagi memverifikasi setiap informasi dengan cermat, dan tidak bisa lagi menjaga server agar tetap berjalan. Selain itu, penggalangan dana yang kami lakukan tunduk pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang yang saat ini tengah dalam proses revisi untuk mengakomodasi penggalangan dana daring. Kami juga akan mematuhi segala ketentuan yang akan ditetapkan dalam revisi tersebut, termasuk tentang hak donatur, pengawasan, dan transparansi penggunaan dana untuk menyediakan fasilitas yang layak bagi jurnalis. Idealisme saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional dan memberikan dukungan yang diperlukan kepada para jurnalis – kita membutuhkan dukungan nyata agar semangat membawa kebenaran bisa terus hidup.

Para narasumber yang telah berbagi cerita, pengalaman, dan wawasan – Anda adalah inti dari semua ini. Tanpa Anda, tidak ada cerita yang bisa kami bagikan kepada ribuan pembaca. Anda telah memberikan kontribusi besar dengan berbagi kebenaran dan keberanian. Sekarang, saatnya Anda memberikan kontribusi lain untuk menyelamatkan wadah yang telah menyampaikan pesan Anda. Kami selalu menghormati hak narasumber sesuai dengan Pasal 2 Kode Etik Jurnalistik yang mengatur tentang penghormatan terhadap privasi dan pengalaman traumatik narasumber, serta menyediakan fasilitas yang layak seperti ruang wawancara yang aman dan nyaman saat melakukan temu bincang. Seperti yang dikatakan: “Wong suwe kelangan, wong enom kelangen” – baik tua maupun muda memiliki peran penting dalam menjaga sesuatu yang berharga.

Mengapa kita harus peduli? Karena ini adalah milik kita bersama. Cerita-cerita di sini telah mengubah pandangan hidup, menyelamatkan nyawa, dan menyebarkan kemuliaan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Amsal 3:3-4: “Janganlah kasih dan kesetiaanmu menjauh daripadamu; ikatlah mereka di lehermu, tulislah mereka pada papan hati mu. Maka kamu akan menemukan kasih dan kemurahan dari TUHAN dan kebenaran dari Allah yang setia.” Persatuan itu tidak bisa hanya sebatas kata-kata – kita harus buktikan dengan tindakan. Selain itu, Undang-Undang Pers juga mengamanatkan bahwa pers memiliki peran untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan hal ini tidak dapat tercapai tanpa memberikan fasilitas yang layak kepada para jurnalis agar mereka dapat bekerja dengan optimal. Pribahasa Jawa pun berkata: “Bhinneka tunggal ika, tali siji dumadi sekawan” – berbeda-beda namun tetap satu, seperti tali yang satu bisa menjadi kuat jika disatukan.

Lihatlah realitas di luar negeri: website jurnalistik berbasis agama yang kuat bisa bertahan karena komunitasnya sendiri yang mendukungnya. Mereka tahu bahwa jika wadah untuk kebenaran hilang, maka pesan yang mereka anut juga akan hilang. Mendukung kami bukan sekadar memberi uang – ini adalah investasi pada masa depan di mana kebenaran dan keadilan lebih dihargai, seperti yang diajarkan dalam 2 Korintus 9:7: “Setiap orang memberi menurut yang telah ditetapkan dalam hatinya, tidak dengan paksaan atau dengan tidak rela; karena Allah menyukai orang yang memberi dengan sukacita.” Kami juga menjamin bahwa semua kegiatan kami sesuai dengan peraturan pemerintah terkait, termasuk yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang penyelenggaraan media online dan penyediaan fasilitas yang layak untuk jurnalis. Seperti yang dikatakan dalam pribahasa: “Laba iku saka usaha, sukses iku saka doa” – keuntungan datang dari usaha, kesuksesan datang dari doa dan dukungan bersama.

Kami tidak akan meminta sesuatu tanpa tanggung jawab. Semua penggalangan dana kami tunduk pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1961 Tentang PUB dan Peraturan Menteri Sosial Nomor 8 Tahun 2021 – kami punya izin resmi, tata kelola yang jelas, dan akan memberitahu Anda setiap rupiah yang Anda berikan digunakan untuk apa, termasuk untuk menyediakan fasilitas yang layak seperti peralatan kerja, asuransi kesehatan, dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi jurnalis. Selain itu, sebagai penyelenggara pers, kami juga tunduk pada pengawasan Dewan Pers sesuai dengan Undang-Undang Pers, yang bertugas menjaga profesionalisme dan integritas pers Indonesia. Tidak ada rahasia di sini. Pribahasa Jawa mengingatkan: “Ati ora bisa dideleng, tumindak bisa dideleng” – hati tidak bisa dilihat, tapi tindakan bisa menjadi bukti kesungguhan kita.

Ini sesuai dengan ajaran Efesus 4:29: “Janganlah keluar dari mulutmu perkataan yang sia-sia, tetapi perkataan yang baik yang berguna untuk membangun, menurut keperluan yang ada, supaya memberi berita baik bagi orang yang mendengarnya.” Anda mempercayakan kami dengan dana Anda – dan kami akan menjaganya dengan sungguh-sungguh, hanya untuk operasional dan pelayanan jurnalistik yang berkualitas, termasuk untuk menyediakan fasilitas yang layak bagi jurnalis. Hal ini juga sejalan dengan Pasal 4 Kode Etik Jurnalistik yang melarang pembuatan berita bohong, fitnah, atau konten yang tidak bermanfaat. Seperti yang tertulis dalam Matius 7:12: “Dan segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya manusia lakukan kepadamu, kamu juga lakukanlah kepada mereka; karena itu hukum Taurat dan para nabi.” Seperti yang dikatakan: “Sakit rasa ing sedulur, sumilir rasa ing wong liyo” – merasakan kesusahan saudara adalah tanda kemanusiaan yang sejati.

Dukungan Anda akan membantu kami menyediakan fasilitas yang layak bagi jurnalis, seperti kamera berkualitas tinggi, mikrofon yang handal, perangkat lunak editing profesional, serta perlengkapan keselamatan untuk peliputan di daerah berbahaya. Kami juga akan menyediakan akses ke pelatihan dan seminar untuk meningkatkan kemampuan jurnalis, serta ruang kerja yang nyaman dan ergonomis dengan akses internet stabil. Kami akan terus menjaga profesionalisme dengan mengikuti perkembangan peraturan dan etika jurnalistik, serta mengikuti bimbingan dan arahan Dewan Pers. Ini bukan hanya tentang menyelamatkan sebuah website, tapi tentang menjaga para penjaga kebenaran agar bisa terus bekerja untuk kita semua, sesuai dengan amanat Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik Indonesia.

Kita semua punya peran dalam memastikan kebenaran tetap tersebar. Seperti yang tertulis dalam Kolose 3:14: “Dan di atas segala sesuatu itu, berikanlah kasih, karena kasih adalah ikatan yang menyatukan segala sesuatu dalam kesatuan yang sempurna.” Ini bukan tentang kami – ini tentang kita semua. Pribahasa Jawa pun mengingatkan: “Jago njagong ora iso mlaku, jago mlaku ora iso mlumpat” – setiap orang punya kelebihan masing-masing, dan bersama kita bisa mencapai lebih banyak hal.

Anda bisa membuat perbedaan. Tidak perlu jumlah besar – Rp 150.000, Rp 200.000, atau sesuai kemampuan Anda akan sangat berarti jika banyak orang yang ikut berpartisipasi. Setiap kontribusi adalah bukti bahwa Anda memilih kebenaran dibanding kebohongan, keadilan dibanding kesewenang-wenangan, dan bahwa Anda peduli dengan kesejahteraan para jurnalis yang bekerja tanpa henti untuk membawa informasi yang benar kepada masyarakat. Seperti yang dikatakan: “Banyu suwir-suwer bisa ngeblur watu” – air yang terus mengalir bisa mengikis batu, kontribusi kecil yang terus-menerus akan memiliki dampak besar.

Kenyataannya adalah – tanpa Anda, kita tidak bisa melanjutkan. Jangan biarkan cahaya keadilan yang kita bangun bersama padam hanya karena kita tidak mau bergerak. Berikan dukungan Anda sekarang, sebelum terlambat.

“Seperti yang tertulis dalam Amsal 21:15: ‘Jika orang benar mendapatkan keuntungan, ia akan merasakan sukacita; tetapi jika orang fasik terjatuh, itu adalah kebahagiaan bagi orang yang benar.’ Dan seperti yang dikatakan dalam pribahasa Jawa: ‘Wektu kang apik kanggo nindakake kabecikan yaiku saiki’ – waktu yang baik untuk melakukan kebaikan adalah sekarang.”

________

Tinggalkan Balasan