Bukan Tentang Aku, Tetapi Tentang Arahmu

Spread the love

Bukan Tentang Aku, Tetapi Tentang Arahmu

Nak,
semakin bertambah usiaku, semakin aku sadar bahwa hidup ini bukan tentang berapa lama kita ada—tetapi tentang apa yang kita tinggalkan.

Dulu aku sering memikirkan masa depanku.
Sekarang aku lebih sering memikirkan masa depanmu.

Aku tidak lagi sibuk bertanya apakah namaku akan dikenal. Aku lebih sibuk bertanya: apakah hatimu akan tetap kuat ketika dunia mengguncangmu?

Ada banyak ayah berharap anaknya sukses. Itu wajar.
Ada banyak ayah berharap anaknya kaya. Itu manusiawi.
Tetapi jauh di dalam hatiku, ada harapan yang lebih sunyi dan lebih dalam:

Aku ingin engkau memiliki arah.

Karena hidup tanpa arah jauh lebih berbahaya daripada hidup tanpa uang. Hidup tanpa arah membuat orang rela mengorbankan nilai demi pengakuan, menukar prinsip demi kesempatan, dan membungkam hati demi kenyamanan.

Aku tidak ingin engkau hidup seperti itu.

Aku tidak takut jika engkau harus memulai dari bawah.
Aku tidak takut jika engkau berjalan lebih lambat dari orang lain.
Aku hanya takut jika suatu hari engkau berjalan jauh… tetapi tersesat.

Sebagai ayah, aku sadar aku tidak bisa selalu ada di sampingmu. Waktu akan mengambil peranku sedikit demi sedikit. Suatu hari nanti, mungkin nasihatku tidak lagi kauperlukan setiap saat. Tetapi aku berharap nilai yang kutanam tetap hidup dalam keputusan-keputusanmu.

Aku ingin ketika tidak ada yang mengawasi, engkau tetap memilih benar.
Aku ingin ketika tidak ada yang memuji, engkau tetap bekerja dengan setia.
Aku ingin ketika tidak ada yang mengerti, engkau tetap berdiri dengan iman.

Karena hidup bukan tentang tepuk tangan.
Hidup adalah tentang pertanggungjawaban.

Nak, dunia akan berubah. Standar moral bisa bergeser. Yang dulu salah bisa dianggap biasa. Yang dulu tabu bisa dianggap wajar. Tetapi kebenaran tidak berubah hanya karena opini berubah.

Itulah sebabnya aku berdoa—bukan agar engkau menjadi paling tinggi, tetapi agar engkau tetap teguh. Bukan agar engkau selalu menang, tetapi agar engkau tidak kehilangan dirimu sendiri.

Jika suatu hari engkau merasa sendirian dalam memilih yang benar, ingatlah: ayahmu pernah berdiri di tempat yang sama. Dan jika aku pernah gagal, biarlah kegagalanku menjadi pelajaran, bukan warisan.

Aku tidak ingin engkau menjadi bayanganku.
Aku ingin engkau menjadi terangmu sendiri.

Dan ketika suatu hari nanti aku tidak lagi bisa merangkulmu, aku berharap satu hal ini tetap memelukmu:

Bahwa hidup yang paling bermakna bukanlah hidup yang paling gemilang,
melainkan hidup yang paling setia pada kebenaran.

Itulah doaku.
Itulah harapanku.
Bukan tentang aku.

Tetapi tentang arahmu.

Tinggalkan Balasan