Bukan Sekadar Mimbar: Panggilan Menjaga Api di Seluruh Medan Pelayanan

Spread the love

Bukan Sekadar Mimbar: Panggilan Menjaga Api di Seluruh Medan Pelayanan

Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)
Pemimpin Redaksi Pelita Nusantara Group

Bogor – Dalam dunia jurnalistik, kami dilatih untuk objektif, kritis, dan profesional. Namun sebagai jurnalis Kristen, ada satu hal yang tidak boleh hilang di balik prinsip-prinsip itu: api panggilan rohani. Tanpa api, kata-kata menjadi dingin; tanpa api, berita kehilangan nurani.

Saya sering menyaksikan gereja yang sibuk, agenda yang padat, dan pelayanan yang terus bergerak. Namun di saat yang sama, banyak pelayan—termasuk insan pers Kristen—melayani dalam kelelahan yang sunyi. Deadline menumpuk, tekanan redaksi tinggi, idealisme diuji, dan iman perlahan terkikis oleh ritme kerja yang tak mengenal jeda.

Bukan karena Injil kehilangan kuasa. Tetapi karena manusia yang melayani lupa kembali ke sumber api.

Kita kerap mengaitkan panggilan menjaga api hanya dengan mimbar: gembala, pendeta, dan penginjil. Padahal medan pelayanan hari ini jauh lebih luas. Pelayanan juga berlangsung di ruang redaksi, di balik layar media, di kolom opini, dan di ruang publik digital. Di sanalah jurnalis Kristen dipanggil untuk melayani—dengan pena, dengan nurani, dan dengan keberanian iman.

Dalam konteks inilah Konferensi Penginjil Nasional 2026 menjadi relevan, bahkan penting, bagi jurnalis Kristen. Tema “The Power of Gospel that Never Goes Out” bukan hanya pesan bagi penginjil, tetapi juga pengingat bagi kami: Injil tetap menyala, tetapi pena dan suara pers Kristen harus dijaga apinya agar tidak tumpul oleh rutinitas dan kompromi.

Jurnalis Kristen bukan sekadar peliput kegiatan gereja. Kami adalah bagian dari pelayanan itu sendiri. Tulisan kami membentuk opini, mempengaruhi iman, dan ikut menentukan bagaimana gereja dipahami di ruang publik. Karena itu, integritas rohani jurnalis Kristen sama pentingnya dengan profesionalismenya.

Namun bagaimana mungkin kami menulis dengan iman yang hidup, jika hati sendiri kering?
Bagaimana mungkin kami menguatkan gereja, jika api di dalam diri padam?

Di sinilah kehadiran jurnalis Kristen dalam momentum rohani seperti Konferensi Penginjil Nasional 2026 menemukan maknanya. Bukan hanya untuk meliput, tetapi untuk ikut dipulihkan. Bukan hanya untuk memberitakan kebangunan orang lain, tetapi untuk mengalami pembaruan secara pribadi.

Saya percaya konferensi ini dapat menjadi ruang jeda yang sehat bagi insan pers Kristen—tempat berhenti sejenak dari hiruk-pikuk berita, kembali ke mezbah, dan mengingat ulang mengapa kita memilih jalan jurnalistik Kristen sejak awal. Bahwa jurnalisme Kristen bukan tentang siapa yang paling cepat, paling keras, atau paling viral, melainkan tentang kesetiaan menyuarakan kebenaran dengan kasih.

Firman Tuhan dalam Imamat 6:12 mengingatkan kita bahwa api di atas mezbah harus dijaga supaya jangan padam. Api itu tidak hanya menyala di gereja, tetapi juga harus hidup di ruang redaksi, di balik kamera, dan di hati setiap jurnalis Kristen yang terpanggil.

Harapan saya, Konferensi Penginjil Nasional 2026 tidak hanya melahirkan gereja yang bersemangat dan penginjil yang berapi-api, tetapi juga jurnalis Kristen yang kembali menulis dengan iman yang menyala—dengan pena yang jujur, nurani yang tajam, dan keberanian yang lahir dari perjumpaan dengan Tuhan.

Karena gereja membutuhkan jurnalis yang bukan hanya cakap secara profesional, tetapi menyala secara rohani.

Dan pada akhirnya, kesaksian terkuat seorang jurnalis Kristen bukan hanya terletak pada beritanya, tetapi pada api yang ia jaga di dalam dirinya.


Tinggalkan Balasan