Bertahan di Tengah Lelah: Iman yang Menopang Langkah
Pelitakota.id Ada masa dalam hidup ketika ungkapan “hidup seperti roda yang berputar” terasa kurang mewakili kenyataan. Bukan karena ungkapan itu salah, melainkan karena ada perjalanan yang membuat seseorang merasa terlalu lama berada di bawah. Hari-hari terus berjalan, tanggung jawab tidak menunggu, sementara hati dan tubuh perlahan menanggung lelah yang tidak selalu terlihat.
Dalam perjalanan hidup saya, kelelahan itu nyata. Bukan hanya kelelahan fisik, tetapi kelelahan batin dan iman. Lelah berharap, lelah menunggu, lelah memahami mengapa jalan hidup terasa begitu terjal meski sudah dijalani dengan sungguh-sungguh. Pada saat-saat tertentu, saya pun harus jujur mengakui: saya capek.
Namun justru di titik itulah saya belajar memahami diri sebagai manusia—rapuh, terbatas, dan tidak selalu kuat. Alkitab mengingatkan, “Ia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yesaya 40:29). Firman ini tidak menuntut saya untuk selalu tegar, tetapi mengizinkan saya untuk datang apa adanya.
Yesus sendiri mengundang, “Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat” (Matius 11:28). Undangan ini tidak mensyaratkan iman yang sempurna, melainkan hati yang jujur. Datang dengan lelah bukan tanda kegagalan rohani, melainkan awal dari kelegaan yang sejati.
Saya tidak menampik bahwa dalam perjalanan itu, keluhan sering kali lebih dulu muncul daripada syukur. Doa-doa saya tidak selalu terucap dengan indah. Ada doa yang lahir dari air mata dan kebingungan. Namun iman tidak selalu diukur dari tenangnya hati, melainkan dari keberanian untuk tetap datang kepada Tuhan. Pemazmur pun pernah berseru, “Berapa lama lagi, TUHAN?” (Mazmur 13:2). Keluhan yang dibawa kepada Tuhan bukan penyangkalan iman, melainkan iman yang sedang mencari terang.
Di tengah semua itu, saya menyadari satu hal yang perlahan menjadi keyakinan: saya masih bertahan hingga hari ini. Bukan karena hidup selalu bersahabat, melainkan karena ada tangan yang tidak pernah benar-benar melepaskan. Firman Tuhan berkata, “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau” (Yesaya 41:10). Penyertaan itu tidak selalu mengubah keadaan, tetapi menguatkan langkah untuk menjalaninya.
Iman, pada akhirnya, bukan tentang hidup tanpa tekanan. Iman adalah ketekunan—tetap melangkah meski belum melihat ujung jalan. Rasul Paulus menuliskan dengan jujur, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa” (2 Korintus 4:8). Di sanalah saya belajar bahwa iman tidak meniadakan luka, tetapi memberi daya untuk tidak menyerah.
Hari ini, hidup saya belum sepenuhnya ringan. Masalah belum sepenuhnya usai. Namun saya belajar berdamai dengan proses. Bertahan bukan sekadar sikap pasif, melainkan keputusan iman—percaya bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan ketika saya hanya mampu melangkah perlahan.
Ketika kekuatan terasa menipis, firman ini kembali meneguhkan hati saya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9). Di situlah saya memahami bahwa kasih karunia Tuhan tidak menunggu saya kuat. Ia hadir justru ketika saya mengakui kelemahan.
Selama tangan Tuhan masih memegang hidup saya, saya percaya:
hidup yang berat ini tetap bisa dijalani—
satu hari, satu langkah, dalam iman yang terus belajar bertahan.
Oleh: Romo Kefas


