Yogyakarta,06 Januari 2026 Tidak semua pelayan Tuhan melangkah dengan tubuh sempurna. Ada yang berjalan tertatih dengan tongkat, namun menggembalakan dengan iman yang teguh dan pengorbanan yang nyata. Sosok itu adalah , seorang gembala sederhana yang kisah hidupnya terus menginspirasi hingga hari ini.
Pendeta Cun-Cun, yang memiliki nama lengkap Pik Giem Tjoen alias Theofilus Santoso Pikanto, melayani sebagai gembala Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Tugu, Yogyakarta sejak tahun 2000 hingga wafatnya pada 5 Oktober 2013. Ia lahir pada 24 Oktober 1959 dan meninggalkan seorang istri, Lim Swie Ing, serta dua putra, Sammy Pikanto dan Michael Pikanto.
Sejak usia lima tahun, hidup Cun-Cun telah diuji. Penyakit polio yang dideritanya menyebabkan kedua kakinya tidak bertumbuh normal. Ia harus berjalan dengan tongkat seumur hidupnya. Namun keterbatasan fisik itu tidak pernah memadamkan panggilan Tuhan dalam dirinya. Justru dari situlah imannya bertumbuh semakin kuat.
Panggilan yang Bertumbuh dari Kesetiaan
Panggilan pelayanan Cun-Cun mulai terbentuk ketika ia dibina oleh . Ia diarahkan untuk melayani di GPdI Hayam Wuruk Yogyakarta, memulai dari tugas-tugas sederhana seperti mengajar Sekolah Minggu dan melatih anak-anak bermain musik.
Kesetiaan dalam perkara kecil membuka jalan bagi tanggung jawab yang lebih besar. Cun-Cun ditahbiskan sebagai evangelis dan berkeliling melayani di berbagai daerah. Hingga pada tahun 2000, ia dipercaya menggembalakan GPdI Tugu Yogyakarta—gereja kecil yang saat itu hanya memiliki kurang dari sepuluh jemaat.
Di bawah penggembalaannya, gereja bertumbuh pesat. Jumlah jemaat pernah mencapai sekitar 350 orang. Namun lebih dari sekadar angka, pertumbuhan itu tercermin dalam kedewasaan iman jemaat yang dibangun melalui keteladanan hidup sang gembala.
Melayani Tanpa Menunggu Sempurna
Keterbatasan fisik tidak menghalangi Cun-Cun untuk bergerak. Ia belajar menyetir mobil sendiri dengan memodifikasi kopling agar sesuai dengan kondisinya. Dengan mobil jeep Toyota Hartop, ia melayani ke berbagai kota seperti Semarang, Pekalongan, dan Wonosobo—menempuh perjalanan panjang demi memenuhi panggilan pelayanan.
Bagi Cun-Cun, pelayanan bukan soal kesempurnaan tubuh, melainkan ketaatan hati.
Iman yang Dibayar dengan Pengorbanan
Menurut putra sulungnya, , ayahnya selalu menanamkan bahwa iman sejati hampir selalu menuntut pengorbanan. Cun-Cun berasal dari keluarga berada dan sangat dikasihi orang tuanya. Namun ketika memilih jalan pelayanan sebagai pendeta, ia tidak memperoleh warisan sebesar saudara-saudaranya.
Meski demikian, ia percaya Tuhan tidak pernah berutang pada orang yang taat. Sammy mengenang sebuah peristiwa iman ketika ayahnya mendapat mimpi tentang sebuah rumah. Mimpi itu digenapi secara nyata: rumah yang seharusnya terjual mahal akhirnya bisa dibeli dengan harga jauh lebih murah. “Itu mujizat berkat karena iman,” kenangnya.
Pengorbanan terbesar Cun-Cun adalah ketika ia meninggalkan bisnis pendidikan Bahasa Inggris yang telah mapan. Lulusan ekonomi Universitas Atma Jaya dan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma itu memilih melepaskan kenyamanan demi melayani penuh sebagai gembala jemaat. Keputusan itu tidak mudah, tetapi waktu membuktikan bahwa pengorbanan karena iman tidak pernah sia-sia.
Warisan yang Tetap Hidup
Pendeta Cun-Cun telah berpulang, namun warisan imannya tetap hidup—dalam jemaat yang pernah digembalakannya, dalam keluarga yang dibesarkannya, dan dalam setiap kisah yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Di tengah dunia yang sering menilai keberhasilan dari kesempurnaan fisik dan materi, hidup Pendeta Cun-Cun menjadi kesaksian bahwa Tuhan kerap memakai keterbatasan manusia untuk menyatakan kemuliaan-Nya.
Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Istimewa
Editor: Romo Kefas


