Berhenti Hidup Seperti Yatim, Padahal Engkau Anak Allah
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.”
(1 Yohanes 3:1–2)
Ada banyak orang Kristen yang rajin ke gereja, aktif pelayanan, bahkan fasih berbicara soal firman — tetapi hidupnya masih seperti yatim rohani. Mudah takut, mudah goyah, mudah minder, mudah iri, dan mudah kompromi dengan dosa.
Mengapa?
Karena mereka belum sungguh-sungguh mengerti siapa diri mereka di dalam Kristus.
Alkitab tidak berkata kita hampir menjadi anak Allah. Tidak juga berkata kita berpotensi menjadi anak Allah. Firman Tuhan berkata tegas: “Sekarang kita adalah anak-anak Allah.”
Masalahnya bukan pada status. Masalahnya pada kesadaran dan respons.
Dunia Tidak Mengenal Kita — Tapi Mengapa Kita Ingin Diakui Dunia?
Firman Tuhan berkata dunia tidak mengenal kita, karena dunia tidak mengenal Dia. Tetapi ironisnya, banyak orang percaya justru berusaha keras agar diterima dunia.
Kita ingin dipuji.
Kita ingin terlihat keren.
Kita ingin dianggap berhasil menurut standar dunia.
Lalu tanpa sadar kita mulai kompromi.
Kita menurunkan standar kekudusan.
Kita melunakkan kebenaran.
Kita menyesuaikan diri supaya tidak ditolak.
Anak Allah tidak dipanggil untuk mencari pengakuan dunia. Anak Allah dipanggil untuk memantulkan karakter Bapa.
Jika dunia menolak Kristus, jangan heran jika dunia juga menolak kita. Tetapi jangan pernah menggadaikan identitas demi popularitas.
Percobaan Mengungkapkan Siapa Engkau Sebenarnya
Perbedaan antara pengikut Kristus dan orang dunia paling nyata terlihat saat menghadapi percobaan.
Orang dunia ketika tertekan:
- Menyalahkan keadaan.
- Mencari pelarian.
- Mengandalkan kekuatan sendiri.
- Bahkan meninggalkan iman.
Tetapi pengikut Kristus yang sejati:
- Tetap berdiri meski hati gemetar.
- Tetap berdoa meski air mata jatuh.
- Tetap setia meski tidak dipahami.
- Tetap mengampuni meski disakiti.
Mengapa? Karena ia tahu siapa Bapanya.
Anak Allah boleh terluka, tetapi tidak hancur.
Boleh jatuh, tetapi tidak ditinggalkan.
Boleh duka, tetapi tidak kehilangan pengharapan.
Jangan Ukur Identitasmu dari Perasaan
Ada hari-hari ketika iman terasa lemah. Ada masa ketika doa terasa kosong. Ada waktu ketika kita merasa jauh dari Tuhan.
Tetapi dengarkan baik-baik:
Identitasmu tidak ditentukan oleh perasaanmu.
Jika keselamatan tergantung pada suasana hati, maka kita semua sudah binasa. Tetapi keselamatan berdiri di atas karya Kristus, bukan di atas kestabilan emosi manusia.
Sekarang — bukan nanti — kita adalah anak-anak Allah.
Di lembah maupun di puncak.
Dalam kemiskinan maupun kelimpahan.
Dalam pujian maupun penolakan.
Belum Nyata Sepenuhnya — Tetapi Sedang Diproses
Firman Tuhan berkata, “Belum nyata apa keadaan kita kelak.” Artinya, kita masih dalam proses pembentukan.
Jangan sombong ketika dipakai Tuhan.
Jangan putus asa ketika ditegur Tuhan.
Anak Allah sedang dibentuk menjadi serupa dengan Kristus. Dan proses itu sering kali melalui api ujian.
Masalahnya, banyak orang ingin mahkota, tetapi menolak salib.
Ingin kemuliaan, tetapi menghindari ketaatan.
Ingin dipanggil anak Allah, tetapi tidak mau hidup seperti anak Allah.
Hiduplah Layak Sebagai Anak Sang Raja
Jika engkau benar anak Allah, maka hiduplah sebagai anak Allah.
Berani dalam kebenaran.
Tegas dalam integritas.
Lembut dalam kasih.
Kudus dalam pergaulan.
Setia dalam pelayanan.
Jangan hidup seperti budak dosa padahal engkau sudah ditebus.
Jangan hidup seperti yatim rohani padahal engkau punya Bapa di surga.
Suatu hari Kristus akan menyatakan diri-Nya. Dan saat itu, semua topeng akan dibuka. Semua kemunafikan akan runtuh. Semua kemuliaan palsu akan hilang.
Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
Apakah hidupmu benar-benar mencerminkan bahwa engkau adalah anak Allah?
Jangan hanya dikenal sebagai orang gereja.
Jangan hanya dikenal sebagai pelayan.
Biarlah dunia melihat dan berkata:
“Itu orang yang benar-benar milik Kristus.”
Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


